YA ALLAH, MAAFIN KAMI BANYAK DOSA
JAMALUDIN
RIFAI, S.Pd.I
YA
ALLAH, MAAFIN KAMI BANYAK DOSA
(KISAH-KISAH
INPIRASI, PELAJARAN, DAN MOTIVASI)
“Barang
siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
Dan memberinya rezeky dari arah yang tiada disangka-sangkanya” (QS. At- Tholaq:
2-3)
BUKU
PERSEMBAHAN
Saya Mengucapkan Terima
Kasih Yang Sebesar-Besarnya Kepada:
1. Allah
Swt Atas Segala Anugrah Dan Kesempatan Yang Sudah Diberikan
2. Kedua
Orang Tua Atas Cinta Dan Kasih Sayang Yang Tak Pernah Putus Asa Dan Selalu
Mendoakan Anak-Anaknya Agar Sukses Dan Selalu Bersabar, Berusaha, Selalu Rendah
Hati.
3. Keluarga
Besar Terutama Buat Kedua Kakakku, Mbak Suwarni Rivai, Mbak Masni Rivai Yang
Telah Memberiku Motivasi Dan Dukungan Terhadap Saya.
4. Teman-Teman
Sekolahku Dari SD Sampai Perguruan Tinggi, Khususnya Para Sahabat-Sahabatku
Alumni Fakultas Tarbiyah Program Study Pendidikan Bahasa Inggris Yang Tak Bisa
Saya Sebut Satu Persatu.
5. Buat
Guru-Guruku Serta Dosen-Dosenku Yang Tak Dapat Saya Sebut Satu Persatu, Yang
Selalu Memberikan Ilmu Dan Motivasi Kepada Saya.
6. Orang-Orang
Yang Sudah Meluangkan Waktu Membaca Karya-Karya Saya. Terima Kasih Banyak.
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji
bagi Allah, pemilik alam semesta. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada
Nabi Muhammad saw, para sahabat, tabi’in dan generasi selanjutnya sampai hari
Kiamat.
Dalam kehidupan
sehari-hari masalah sangat akrab dalam kehidupan kita. Bentuknya bermacam-macam.
Kehidupaan saat ini dipenuhi dengan
kebohongan, buah dari
pemikiran negatif,
pencariaan kesalahan orang
lain yang lebih
penting dibanding kesalahan
diri sendiri. Setelah waktu
yang lama ditempuh,
orang akan menemukan
kesadaraan bahwa mereka hidup
dalam dunia yang
negatif, merekapun tahu mereka harus
dapat berubah secepat mungkin.
Setiap
manusia pasti pernah melakukan perbuatan yang menyebabkan dirinya mendapatkan
dosa, sebab, dari dosa itulah Allah Ta’ala mengingatkan kita akan kelemahan
umat manusia. Karena, Allah Ta’ala Maha Adil, Dia juga menciptakan obat penawar
dosa tersebut.
“Sesungguhnya
di dalam Al-Qur’an telah menunjukkan penyakit dan obat penawar bagi kalian
(umat manusia). Adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa yang diperbuat,
sedangkan obatnya adalah istighfar.” (Kitab Ihya’Ulumuddin: 1/410)
“Dan
juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri
sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun (istighfar) terhadap
dosa-dosa mereka dan siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan
mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui.” (QS.
Ali ‘Imran, 3: 135)
Rasulullah
Saw. Pernah bersabda:
“Demi
jiwaku yang berada di tangan-Nya, jika kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah
akan memuaskan kalian dan akan menggantinya dengan kaum pendosa lalu, mereka
memohon ampunan kepada Allah dan Allah pun mengampuni dosa-dosa mereka.” (HR.
Muslim)
Penulis
menyajikan buku dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan suguhan cerita
yang menarik tentu akan menambah semangat anda. Penulis sadar YA ALLAH MAAFIN KAMI
BANYAK DOSA, ini masih jauh dari apa yang disebut dengan kesempurnaan, karena
kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Walau demikian penulis telah berupaya
semaksimal mungkin untuk menyelesaikan YA ALLAH MAAFIN KAMI BANYAK DOSA, ini
dengan semua kemampuan yang penulis miliki.
Penulis
Jamaludin
Rifai, S.Pd.I
DAFTAR
ISI
BUKU
PERSEMBAHAN
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
PERJALANAN.
1
SUMPAH
IBU, PEMUDA DURHAKA KECELAKAAN MAUT. 8
VIRUS
PENGHALANG DOA IBU. 14
TUHAN
KOK DI SURUH-SURUH. 50
KISAH
IBUNDA. 53
KELOMPOK
99. 56
TETANGGA.
60
YA
TUHAN, MAAF KAMI SIBUK. 62
TUHAN,
HARAP MAKLUMI KAMI. 66
EMPAT
ISTRI. 68
CINTA
ORANG TUA. 70
MEJA
KAKEK. 72
SINGA,
TIKUS, ULAR, DAN SARANG LEBAH. 74
ROTI
DAN BATU. 76
KAKI
DAN SEPATU. 80
NUTRISI
JIWA. 82
HATI
YANG PENUH SYUKUR. 84
MENDAPAT
HIDAYAH DALAM KUBURAN. 86
ANUGERAH
SELEPAS MENINGGALKAN MAKSIAT. 93
PENYESALAN
FULAN. 98
PERUBAHAN
SIFAT FULAN. 102
KEBERHASILAN
SEORANG ANAK NAKAL. 106
SECERCAH
CAHAYA DI BALIK DHUHA. 109
WAHAI RABBKU. 115
MAKNA
ISTIGHFAR. 116
MENGAPA
HARUS BERISTIGHFAR? 117
HARI-HARI
YANG TAK AKAN KEMBALI. 119
ANGIN
PRAHARA. 123
IBU
DARI ANAK-ANAK KITA. 128
SEMOGA
ALLAH MERAHMATINYA. 133
KAMI
DAN KAMU. 135
KETEGUHAN.
139
MEMBANGUNKAN
HATI YANG TERTIDUR. 143
AIR
MATA KEGEMBIRAAN. 146
YANG
PENTING MULAI SAJA. 151.
PENUTUP.
157
MASA
MENDATANG. 161
PEMBAWA
MINYAK WANGI. 164
UNTUK
MEREKA YANG MEMILIKI HATI. 169
DOA.
172
PERINGATAN.
175
KEBAHAGIAAN.
181
AKHIR
HAYAT PENGHAFAL
AL-QUR’AN
DAN PENYANYI 187
DAFTAR
PUSTAKA. 193
TENTANG
PENULIS. 194
KEBAHAGIAAN
Usai
menyelesaikan studi di SMA, aku mendaftarkan diri untuk masuk perguruan tinggi.
Namun, ternyata ada hal baru. Ada seorang pemuda yang sedang studi di Amerika
mau melamarku. Persetujuan pun terjadi. Aku terpaksa pergi ke negeri asing.
Senang sekali rasanya, aku hidup di Amerika.
Yang
paling membuatku terheran-heran adalah, bagaimana bisa secepat ini keluargaku
mengalah dan setuju untuk membiarkanku tinggal di negeri asing dalam waktu
lama, terlebih lagi mereka tidak mengenal lelaki itu sebelumnya. Sementara
umurku masih semuda ini.
Aku
menikmati bulan maduku, demikian kata orang. Kami menepati sebuah villa indah
di Amerika.
Hari-hari
berlalu dengan manis dan indah. Aku menyaksikan sebagian besar tempat di
Amerika. Suamiku bertekad agar aku menyaksikan segala-galanya. Sehingga aku
memiliki wawasan tentang segala sesuatu pula. Namun hari-hari bersih itu tidak
berlangsung lama. Sesuai penilaianku sekarang, kami dulu berada dalam fase
pubertas secara mental. Kamu sudah memauski suasana pasang surut dan
tarik-menarik dalam kehidupan. Kami sudah meremehkan shalat. Satu-satunya harta
yang kami miliki adalah, kami harus memiliki wawasan tentang segala sesuatu.
Sebagai
kelanjutan dari kerenggangan hubungan kami, suamiku menghabiskan sebagain besar
waktunya di luar rumah, terutama di waktu malam.
Selama
bertahun-tahun kami belum dianugerahi seorang anak. Tampaknya itulah hal yang
semakin meluaskan kerengngan kami yang terkadang sampai kepada pinggir jurang
kehancuran, kehancuran kehidupan rumah tangga kami. Keadaan seperti ini
berlangsung terus-menerus.
Ketika
kami kembali untuk mengunjungi kampung halaman kami, keluargaku melihat diriku
amat lemah dan kurus. Aku pun mendapatkan untuk mengadu kepada ibuku dengan segala
cara. Dengan bantuan ibu, gambaran hidupku sepenuhnya dikemukakan kepada
ayahku. Ayahku memintaku duduk di sisinya. Ia bertanya kepadaku tentang
berbagai hal secara mendetail. Kesemuanya seputar persoalan suamiku, bagaimana
sikapnya terhadapku. Dan yang terkahir, sejauh mana komitmennya terhadap agama.
Setelah
sesaat ayahku memberiku waktu untuk berpikir, ku putuskan untuk mintai cerai.
Saya mengira urusan akan begitu mudah, apalagi kami telah berkali-kali sepakat
untuk bercerai di Amerika namun suamiku menolak cerai kecuali dengan syarat
yang banyak.
Yang
paling mudah adalah mengembalikan mahar secara penuh. Setelah bersitegang,
berkahirlah hari-hari yang menakutkan itu. Dan membuat diriku lebih tidak suka
adalah berbagai tuntutannya ketika terjadi perceraian. Padahal aku sudah banyak
membantunya untuk menyelesaikan studinya. Aku juga sudah membayar banyak dari
uang yang kumiliki, bahkan gajiku secara penuh selama tiga tahun berada di
tangannya.
Bagaimanapun
juga, segala yang diinginkannya diberikan kepadanya. Sebagaimana segala yang
kuinginkan sudah terluluskan. Aku pun kembali kepada kehidupan lamaku.
Seolah-olah baru saja berlalu sebuah mimpi atau bayangan yang menakutkan.
Seiring
dengan dimulainya tahun ajaran baru perguruan tinggi, kukumpulkan semua
arsip-arsip dan ijazah lamaku. Aku pun mendaftarkan diri ke perguruan tinggi.
Aku bertekad untuk masuk ke fakultas Bahasa Inggris, karena aku sudah
menguasainya, setelah tinggal selama bertahun-tahun di negeri asing. Namun
takdir menentukan lain, aku bertemu dengan salah seorang temanku ketika di SMA.
Setelah mengucapkan salam hangat, kami saling menanyakan kabar masing-masing.
Aku memberitahukan, bahwa aku sudah membawa semua surat-surat pentingku untuk
mendaftarkan diri di fakultas Bahasa Inggris.
Sahabatku
itu akan lulus satu tahun ajaran lagi, dari Fakultas Dirasat Islamiyah. Melalui
pertemuan kami yang singkat itu, ia mampu meyakinkan diriku untuk ikut
bersamanya kuliah di Fakultas Dirasat Islamiyah.
Di
sanalah demikian ditegaskan oleh sahabatku banyak pengetahuan yang akan berguna buatmu sebagaimana juga engkau akan
berkenalan dengan para mahasiswi fakultas tersebut, karena aku sudah mengenal
mereka. Ada juga berbagai ceramah dan seminar-seminar.
Sisi
pelajaran ekstra kurikuler itu akan mengembalikan diriku ke masa remaja, karena
pada masa itu aku memang menyukai kegiatan-kegiatan semacam itu. Aku bertawakal
kepada Allah, sebagaimana yang dia katakan kepadaku, “Jangan ragu-ragu.”
Dengan
sangat cepat yang tidak aku perkirakan sebelumnya, aku pun sudah menjadi
anggota yang aktif dalam program kuliah tersebut. Aku turut berpartisipasi
menyiapkan berbagai seminar, dan teman-teman yang sekelompok denganku pun
merasa senang. Inilah yang tidak aku dapatkan sejak tiga tahun yang lalu.
Kesehatanku
kembali pulih, sinar kehidupan kembali menyala pada kedua mataku. Sehingga
ibuku dengan suka cita mengatakan, “Tidak ada waktu kosong untuk dirimu?”
Aku
mulai menyusun skripsi dan mempelajari ulang semua kurikulum pelajaranku.
Kadang-kadang aku menyempatkan diriku untuk menyampaikan ceramah kepada
rekan-rekanku selama sepuluh menit.
Aku
kembali memiliki cita-cita yang besar serta tekad yang kuat. Lingkungan yang
melingkari diriku membuat diriku tidak lagi melupakan kewajibanku, bahkan
mendorong diriku untuk melaksanakan berbagai ibadah sunnah, seperti shalat
malam dan puasa sunnah. Aku bersykur kepada Allah yang telah memberi kemudahan
buat diriku untuk memasuki program kuliah ini, karena di situ terdapat
teman-teman yang shalihah.
Aku
bersepakat dengan rekan-rekanku untuk menghafal Al-Qur’an. Itulah hal yang
selama ini kuinginkan. Karena aku memang baru mulai memasuki babak kehidupan
baru. Pada mulanya, aku khawatir kalau aku tidak bisa konsisten. Akan tetapi
Allah memberi kemudahan buat diriku dan menolongku untuk menghafal tanpa
mendapatkan kesulitan. Aku menetapkan untuk berkosentrasi mempelajari buku-buku
akidah dan fikih, sebagaimana aku mulai mengejar ketertinggalanku.
Subhanallah!
Ketika pergi ke Amerika dahulu, aku beranggapan bahwa aku berada dalam puncak
kebahagiaan. Namun aku kini menyadari, bahwa jauh dari Allah tidak akan membawa
kebahagiaan secara mutlak. Meskipun bentuk kebahagiaan itu tampak secara lahir.
Kegiatanku
merambat memasuki rumahku. Saudariku sudah ikut-ikutan menghafal Al-Qur’an. Aku
juga menyediakan waktu khusus agar dapat membacakan hal-hal yang bermanfaat
untuk ibuku, terutama yang berkaitan dengan hukum-hukum kewanitaan.
Alhamdulillah, kaset-kaset Islam dalam jumlah banyak dan bermacam-macam
terdapat di rumahku. Setiap kali aku pergi untuk mengunjungi seseorang, aku
selalu membawa satu paket kaset semacam itu sebagai hadiah. Aku tidak pernah
membuat acara yang tidak berguna.
Kehidupanku
pun berubah total, aku kini memandang dunia dengan kaca mata baru. Dunia
hanyalah tempat persinggahan, bukan tempat yang kekal adanya.
Tidak
ada yang mengotori kehidupanku yang jernih itu, kecuali mantan suamiku yang
kembali dari Amerika setelah menyelesaikan studinya di sana.
Ibunya
datang mengunjungi kami untuk meminta maaf dan melupakan masa lalu, ia meminta
agar aku kembali kepada mantan suamiku tersebut. Aku mencium kepalanya dan
menyatakan suamiku tersebut. Aku mencium kepalanya dan menyatakan bahwa aku
sudah melupakan masa laluku dan sudah memaafkan segala kesalahannya, dengan
harapan bahwa Allah juga akan mengampuni diriku. Namun aku menolak
permintaannya, meski demikian aku tetap mengantar wanita itu ketika pergi,
dengan tidak lupa mengirimkan hadiah untuk mantan suamiku berupa satu paket
kaset, yang menganjurkan taubat dan berintropeksi diri. Selain itu aku juga
memberitahukan bahwa aku tidak memiliki waktu selain berkosentrasi pada
studiku.
Aku
lupa menyebutkan kepada kepada pembaca, bahwa sudah banyak laki-laki yang
datang melamarku. Yang paling menarik hatiku di antara mereka adalah saudara
salah seorang sahabat wanitaku.
Namun
aku tetap menolak, dan menyatakan bahwa aku sudah berjanji kepada Allah untuk
tidak menikah dahulu sebelum aku hafal Al-Qur’an seratus persen. Temanku
berusaha untuk meyakinkan, namun aku kembali memberitahukan kepadanya bahwa ini
adalah akhir tahun pelajaran di pergutuan tinggi. Demikian juga merupakan akhir
tahun bagi diriku untuk menamatkan hafalah Al-Qur’an. Ia terdiam, dan tidak
mampu memberikan tanggapan apa-apa.
Usai
sudah satu tahun terakhir masa pelajaran. Aku berhasil lulus perguruan tinggi.
Aku bercita-cita untuk menjadi asisten dosen di perguruan tinggi itu. Namun
takdir menentukan lain.
Aku
ditugaskan untuk mengajar di sebuah sekolah dekat rumah kami. Maka kegiatan
ekstra kurikulerku pun kuteruskan. Aku menyiapkan jadwal untuk memberikan
ceramah kepada para mahasiswi dan juga membuat program hafalan Al-Qur’an.
Berbagai
urusan di sekolah berjalan dengan kondisi menggembirakan, seolah-olah kami
adalah satu keluarga. Pada sore hari itu, datanglah salah seorang teman wanitaku
berkunjung. Ia memberitahukan bahwa aku telah berjanji kepadanya untuk mau
menikah setelah aku selesai menghafal Al-Qur’an, “Sekarang tidak ada lagi
alasan bagimu.” Demikian ucapnya.
Aku
pun setuju. Semua urusan pernikahan berjalan mulus, sesuai dengan tuntunan
Sunnah. Tidak ada penghamburan harta, pemborosan, maupun pesta-pesta mewah.
Suamiku sungguh lelaki yang baik sekali. Bagus akhlaknya, bagus agamanya, dan
rajin shalat malam.
Jangan
ditanya lagi bagaimana rasanya aku hidup bersamanya. Seolah-olah kami sedang
saling menantikan semua ini selama bertahun-tahun. Ia mengatakan, bahwa yang
terus mendorong dirinya untuk melamarku adalah kesungguhanku menghafal
Al-Qur’an.
Segala
puji bagi Allah yang telah merubah segalanya. Dari hidup di Amerika dengan wawasan
terhadap segala sesuatu, sampai menghafal Al-Qur’an. Segala puji bagi Allah
yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku sebelum aku meninggal dunia.
AKHIR
HAYAT PENGHAFAL
AL-QUR’AN
DAN PENYANYI
Tatkala masih di
bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orang tuaku dalam lingkungan yang baik.
Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam.
Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran,
mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika musim dingin yang menyengat
tulang.
Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada
diri sendiri,”Alangkah sabarnya mereka! Setiap hari begitu. Benar-benar
mengherankan!”
Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang
mukmin dan itulah shalat orang-orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat
tidurnya untuk bermunajat kepada Allah. Setelah menjalani pendidikan militer,
aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah.
Padahal berbagai nasehat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.
Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke
kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku
agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.
Si sana aku tak mendengar suara bacaan Al-Qur’an.
Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar
hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan
tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang
membutuhkan bantuan.
Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan
tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi. Tetapi, hidupku bagai selalu
diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian. Banyak
waktu luang. Pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh. Tak ada yang menuntunku di bidang
agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan
orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiyaan lain. Aku
bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang
hingga kini tak kulupakan.
Ketika itu kami dengan seorang kawan sedang bertugas
di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol. Tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara
benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil
bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera
berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.
Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak
salah satu mobil dalam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan
dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.
Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata,
pengemudinya tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang
yang berbeda dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat
syahada. Ucapkanlah,”Laa ilaaha illallaah. Laa ilaaha illallaah,” perintah
temanku.
Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah
meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding. Temanku tampaknya sudah
biasa menghadapi orang-orang yang sekarat. Kembali ia menuntun korban itu
membaca syahadat.
Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan
nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sakarat,
apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ngulang
bacaan syahadat. Tetapi, keduanya tetap terus saja menalantunkan lagu. Tak ada
gunanya.
Suara lagunya semakin melemah, lemah dan lemah
sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada
gerak. Keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku
menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama perjalanan hanya ada kebisuan,
hening. Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang
hakekat kematian dengan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata,
“Manusia hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di
dunia.”
Ia berbicara panjang lebar padaku tentang berbagai
kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana
seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir
batin.
Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh
pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya
tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.
Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini
benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu aku shalat khusyuk
sekali. Tetapi, perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.
Aku kembali pada kebiasaanku semula. Aku seperti tak
pernah menyaksiakan apa yang menimpa orang yang tak kukenal beberapa waktu
lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang
namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala.
Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang
sedang sekarat dahulu.
Selang enam bulan peristiwa yang mengerikan itu
sebuah kejadian menabjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang
mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah
terowongan menuju kota.
Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang
kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep,
tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang.
Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan (bukan yang menemaniku pada
peristiwa pertama) cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan
mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat
penanganan.
Dia masih muda. Dari tampangnya, ia kelihatan
seorang yang taat menjalankan perintah agama. Ketika mengangkatnya ke mobil,
kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumakan
sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan
suara yang keluar dari mulutnya. Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan
suara amat lemah.
“Subhanallah!” dalam kondisi seperti ini, ia masih
sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Darah mengguyur seluruh pakaiannya. Tulang-tulangnya
patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu ia terus melantunkan
ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah
mendengar suara bacaan seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian, “Aku
akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku
terdahulu, apalagi aku sudah punya pengalaman,” Aku meyakinkan diri sendiri.
Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan
suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekoyong-koyong tubuhku merinding
menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.
Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke
belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat.
Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Ku pegang tangannya, detak
jantungnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.
Aku lalu memandanginya lekat-lekat. Air mataku
menetes. Kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada
kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya.
Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis. Air mataku deras
mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul mengharukan.
Sampai di rumah sakit. Kepada orang-orang di sana
kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang
kematiannya yang menabjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami,
sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi
mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.
Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak
beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka
ingin memberik penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua ingin ikut
menyalatinya.
Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah
sakit almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya.
Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum
hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari
Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang
miskin. Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula,
buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa
buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan
kepada orang-orang yang disantuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk
dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.
Bila ada yang mengeluhkan padanya tentang kejenuhan
dalam perjalanan, ia menjawab dengan halus, “Justru saya memanfaatkan waktu
perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ngulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan
mendengarkan kaset-kaset pengajian. Aku mengharap ridha Allah pada setiap
langkah kaki yang aku ayunkan,” Kata almarhum.
Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai
ke kuburan. Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan
ke kiblat dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah. Pelan-pelan kami
menimbunnya dengan tanah. Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu,
sesungguhnya dia akan ditanya. Almarhum menghadapi hari pertamanya dari
hari-hari akherat.
Dan aku, sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari
pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukkku.
Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkan untuk
tetap menaatinya, memberikan kesudahan hidup yang baik (husnul khatimah) serta
menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman surga.
Aamiin.
TENTANG PENULIS

Penulis bernama Jamaludin Rifai
lahir di Gorontalo 27 Juni 1986. Penulis
berasal dari Provinsi Gorontalo. Penulis adalah anak ke 7 dari 7 orang
bersaudara. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar penulis mempunyai bakat yaitu menulis
dan mengarang. Penulis pernah kuliah di salah satu kampus yang berada di
Gorontalo yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tahun 2011, penulis berhasil
menjadi alumni Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Pada
tahun 2015, penulis berhasil menamatkan pendidikannya S1.
Meski
masih tergolong pada tahap awal belajar, penulis hobi membaca buku-buku dunia
novel Horor, dan suka membaca buku-buku Bahasa Inggris, buku-buku motivasi,
Penulis bercita-cita menjadi penulis yang terkenal melalui bukunya: YA ALLAH
MAAFIN KAMI BANYAK DOSA.
Penulis
dapat di hubungi melalui email :
jamaludinrifai442@gmail.com
No
HP: 085340008577
Komentar
Posting Komentar