JAMALUDIN
RIFAI, S.Pd.I
BERDAMAILAH DENGAN
KETIDAKSEMPURNAAN DI KAMPUS KEHIDUPAN
Di
Angkat Dari Dari Buku Asli Richard
Carlson: Don’t Sweat The Small Stuff, Ant It’s All Small Stuff Simple Ways To
Keep The Little Things From Taking Over Your Life
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,
segala puji bagi Allah, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon ampunan
hanya kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan
kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tidak
ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak
ada yang mampu memberinya petunjuk. Kita bersaksi bahwa tidak ada yang mampu
memberinya petunjuk. Kita bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan
benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan kita bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Setiap
kali berhadapan dengan kabar buruk, orang yang merepotkan, atau sesuatu yang
mengecewakan, sebagian besar di antara kita terjebak dalam tingkah laku
tertentu, cara bereaksi terhadap hidup, terutama kesulitan yang tidak
mendatangkan kebaikan bagi kita. Kita bereaksi berlembihan, meledak di luar
kendali, ngotot, dan selalu memandang hidup dari sisi negatif. Bila kita
terpaku pada hal-hal kecil, waktu kita disakiti, tidak dihiraukan, dan gampang
tersinggung, reaksi berlebihan yang berlebihan, tidak hanya akan membuat kita
frustasi tetapi juga akan membuat kita terjebak menuntut kita frustasi tetapi
juga akan membuat kita terjebak menuntut yang kita inginkan. Kita kehilangan
wawasan yang lebih besar, terperangkap dalam pandangan negatif, dan mengabaikan
orang lain yang ingin membantu kita. Singkatnya, kita menjalani hidup
seolah-olah sedang berada dalam keadaan darurat! Kita sering kelihatan sibuk,
berusaha memecahkan masalah, tetapi kenyataannya, kerap kali kita malah
memperbesar masalah. Tetapi kenyataannya, kerap kali kita malah besar, akhirnya
kita menghabiskan hidup kita dari satu drama ke drama yang lain.
Penulis
menyajikan buku dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan suguhan cerita
yang menarik tentu akan menambah semangat anda. Penulis sadar BERDAMAILAH
DENGAN KETIDAKSEMPURNAAN DI KAMPUS KEHIDUPAN, ini masih jauh dari apa yang
disebut dengan kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata.
Walau demikian penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan BERDAMAILAH
DENGAN KETIDAKSEMPURNAAN DI KAMPUS KEHIDUPAN, ini dengan semua kemampuan yang
penulis miliki.
Penulis
Jamaludin
Rifai, S.Pd.I
THANKS TO:
Saya Mengucapkan Terima Kasih
Yang Sebesar-Besarnya Kepada:
1.
Allah
Swt Atas Segala Anugrah Dan Kesempatan Yang Sudah Diberikan
2.
Kedua
Orang Tua Atas Cinta Dan Kasih Sayang Yang Tak Pernah Putus Asa.
3.
Keluarga
Besar Terutama Buat Kedua Kakakku, Mbak Suwarni Rivai, Mbak Masni Rivai Yang
Telah Memberiku Motivasi Dan Dukungan Terhadap Saya.
4.
Teman-Teman
Sekolahku Dari SD Sampai Perguruan Tinggi, Khususnya Para Sahabat-Sahabatku
Alumni Fakultas Tarbiyah Program Study Pendidikan Bahasa Inggris : Mr Satarudin
A.Tudu S.Pd.I, Bersama Mr Risky Paputungan, S.Pd.I, Yang Selalu Memberiku Motivasi Serta
Nasihat-Nasihat Yang Membangun Juga,
5.
Buat
Gur-Guruku Serta Dosen-Dosenku Yang Selalu Memberikan Ilmu Dan Motivasi Kepada
Saya.
6.
Orang-Orang
Yang Sudah Meluangkan Waktu Membaca Karya-Karyaku. Terima Kasih Banyak.
BERSIKAPLAH
SEOLAH-OLAH HARI INI ADALAH
HARI TERAKHIR ANDA. MUNGKIN SAJA!
Kapan
kita akan mati? Dalam lima puluh tahun, dua puluh, sepuluh, lima, hari ini?
Sampai detik ini tak seorang pun yang tahu. Saya sering bertanya-tanya, bila
sedang mendengarkan berita, apakah orang yang tewas karena kecelakaan mobil
dalam perjalanannya pulang ke rumah dari kantor ingat untuk mengatakan kepada
keluarganya betapa cintainya ia pada keluarganya itu? Apakah hidupnya
menyenangkan? Apakah ia mencintai dengan baik? Barangkali satu hal yang pasti
adalah ia masih memiliki tugas yang belum diselesaikannya.
Kenyataannya
adalah, tidak ada seorang pun tahu berapa lama lagi kita akan hidup. Namun,
yang menyedihkan, kita bersikap seolah-olah kita akan hidup selamanya. Kita
menunda hal-hala yang jauh di dalam hati, kita tahu kita menginginkannya
mengatakan kepada orang-orang betapa kita memperhatikan mereka, menghabiskan
waktu untuk diri sendiri, mengunjungi seorang teman baik, berjalan kaki di alam
yang indah, bermaraton, menulis surat ungkapan kasih, memancing bersama
anak-anak, belajar meditasi, menjadi pendengar yang lebih baik, dan seterusnya.
Kita memakai rasionalisasi yang rumit dan canggih untuk membenarkan sikap kita,
dan akhirnya menghasilkan waktu dan energi kita untuk melakukan hal-hal yang
tidak semuanya penting. Kita mengajukan keterbatasan-keterbatasan kita, yang
akhirnya akan melekat pada diri kita.
Sangat
tepat rasanya mengakhiri buku ini dengan menyarankan kepada Anda untuk
menjalani hidup ini setiap hari seolah-olah setiap hari adalah hari terakhir
Anda hidup di dunia ini. Ini bukanlah resep untuk mengabaikan tanggung jawab,
tetapi untuk mengingatkan betapa harganya hidup ini sesungguhnya. Seorang teman
pernah berkata, “Hidup ini terlalu penting untuk diperlakukan terlalu serius.”
Sepuluh tahun kemudian, saya tahu ia memang benar. Saya berharap buku ini
sedang, dan akan seterusnya, membantu Anda. Janganlah lupa strategi yang paling
dasar dari semuanya, Jangan memusingkan hal-hal kecil! Saya akan mengakhiri
buku ini dengan mengucapkan dari hati saya yang paling dalam: Semoga Anda
Sukses, Bahagia, Berkah. Hargailah diri Anda!
JADWALKAN WAKTU UNTUK BEROLAH BATIN
Dalam bidang perencanaan
keungan ada prinsip yang telah diterima secara universal bahwa sangatlah
penting kita membayar diri sendiri lebih dulu, sebelum membayar tagihan orang
lain kita harus berpikir bahwa kita adalah kreditur. Rasionalisasi kebijakan
keuangan ini adalah bila kita harus menunggu untuk menabung setelah semua
dibayar, tak akan ada yang tertinggal untuk kita! Hasilnya adalah kita akan
tetap menunda rencana menabung sampai sudah terlambat untuk melakukannya sama
sekali, tetapi, lihatlah, bila kita membayar diri sendiri lebih dahulu, bagaimanapun
juga masih ada yang cukup tersisa untuk membayar orang lain.
Prinsip yang sama sangat
penting diterapkan dalam program latihan spiritual. Bila kita menunggu sampai
semua tugas, tanggung jawab, dan segala sesuatunya beres sebelum mulai
melakukannya, itu tak akan terjadi. Saya jamin.
Saya menemukan bahwa
menjadwalkan sedikit waktu setiap hari seolah-olah kita membuat janji pertemuan
adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa kita mempunyai waktu untuk diri
sendiri. Anda bisa melakukannya dengan cara bangun pagi-pagi benar, misalnya,
dan menjadwalkannya satu jam untuk membaca, berdoa, merefleksikan diri,
meditasi, yoga, berolahraga, atau apapun yang Anda ingin lakukan selama waktu
ini. Bagaimana memilih waktunya, itu terserah. Yang penting adalah Anda sudah
menjadwalkan waktu itu dan Anda menepatinya.
Saya memiliki seorang klien
yang menyewa seorang baby sitter secara berkala untuk memastikan ia memiliki
kesempatan untuk melakukan hal-hal yang dirasanya perlu dilakukan. Sekarang,
lebih dari setahun kemudian, usahanya itu telah membuahkan hasil yang
luarbiasa. Ia merasa lebih bahagia daripada yang pernah ia bayangkan. Ia
mengatakan kepada saya bahwa ia tak pernah membayangkan akan menyewa seorang
baby sitter untuk memperoleh waktu yang berkualitas badi dirinya sendiri.
Sekarang setelah melakukannya, ia tak dapat membayangkan bila ia tidak
melakukannya! Bila Anda berpikir seperti ini, Anda dapat memperoleh waktu yang
Anda inginkan.
TEMUKANLAH KELUARBIASAAN PADA HAL-HAL YANG BIASA
Saya
pernah mendengar sebulan cerita tentang dua pekerja yang didekati oleh seorang
reporter. Sang reporter bertanya kepada pekerja yang pertama, “Apa yang Anda
kerjakan?” ia menjawab dengan mengeluh bahwa ia tak ada bedanya dengan seorang
budak, seorang tukang batu yang dibayar sangat rendah yang menghabiskan
hari-harinya hanya dengan memasang batubata di atas batubata yang lain.
Snag
reporter menanyai pekerja yang satunya lagi dengan pertanyaan yang sama. Namun,
jawabannya sangatlah jauh berbeda. “Saya orang yang paling beruntung di dunia
ini.” Ia berkata. “Saya ikut serta dalam membangun karya arsitektur yang sangat
penting dan indah ini. Saya membantu mengubah potongan-potongan batubata yang
sederhana ini menjadi mahakarya yang luarbiasa.”
Mereka
berdua benar. Kenyataannya adalah, dalam hidup ini kita melihat apa yang ingin
kita lihat. Bila mencari-cari keburukan, kita akan menemukannya. Banyak sekali.
Bila ingin menemukan kesalahan orang lain, karier kita, atau dunia ini secara
keseluruhan, kita pasti akan mampu menemukannya. Tetapi hal yang sebaliknya
juga berlaku.
Bila
kita mencari sesuatu yang luarbiasa dari yang biasa-biasa saja, kita dapat
melatih diri kita untuk dapat melihatnya. Tukang batu ini melihat sebuah istana
yang megah di dalam sepontong batubata biasa. Pertanyaannya adalah, dapatkah
kita melakukannya? Dapatkah kita menyaksikan hal yang sama luarbisanya yang ada
di dunia ini; kesempurnaan proses alam semesta; keindahan alam yang luarbiasa;
mukjizat-mukjizat yang mencengangkan dari kehidupan umat manusia? Bagi saya,
semuanya masalah niat. Begitu banyak yang bisa disyukuri, begitu banyak yang
perlu dikagumi. Hidup sangatlah berharga dan luarbiasa. Memusatkan perhatian
kita pada kenyataan-kenyataan ini dan hal-hal kecil yang biasa-biasa saja akan
memberi arti yang sama sekali baru.
PIKIRKAN URUSAN ANDA SENDIRI SAJA
Cukup sulit berusaha
menciptakan hidup yang penuh kedamaian bila kita menghadapi kecenderungan
mental kita sendiri, isu, masalah hidup, kebiasaan, serta kontradiksi dan
kerumitan hidup. Tetapi bila kita merasa terpaksa menghadapi masalah orang
lain, tujuan Anda untuk menjalani lebih damai tak mungkin akan tercapai
Berapa sering Anda
menemukan diri Anda sendiri berkata seperti, “Apa tak akan melakukannya bila
aku menjadi dirinya,” atau “Aku tak percaya dia melakukan itu,” atau
“Pikirannya kemana sih?” Berapa sering Anda merasa frustrasi, terganggu,
jengkel, atau memikirkan masalah yang Anda tak dapat mengontrolnya atau
membantu memecahkannya, tetapi yang juga bukan urusan Anda?
Ini bukan resep supaya
Anda tidak perlu menolong orang lain. Sebaliknya, ini masalah kapan kita harus
menolong dan kapan kita harus meninggalkan orang itu sendiri. Dulu saya adalah
orang yang suka terjun membantu memecahkan persoalan orang lain tanpa diminta.
Selain tak menghasilkan apa-apa, orang yang di tolong pun hampir selalu tidak
berterima kasih dan kadang-kadang malah membenci saya. Sejak sembuh dari
kecenderungan untuk menjadi terlibat, hidup saya menjadi lebih sederhana. Dan,
sekarang karena saya tidak lagi punya banyak waktu untuk membantu orang yang
benar-benar membutuhkan pertolongan.
Mengurusi hanya masalah
kita sendiri bukanlah sekadar menghindari godaan untuk memecahkan masalah orang
lain. Ini juga menyangkut menguping pembicaraan orang bergosip, membicarakan
orang lain dibelakangnya, dan menganalisis atau berusaha mengira-ngira orang
lain. Salah satu alasan utama mengapa kebanyakan dari kita memusatkan perhatian
pada kekurangan atau masalah orang lain adalah karena kita menghindarkan diri
dari melihatnya pada diri kita sendiri.
Bila Anda dapat menahan
diri untuk tidak terlibat dalam masalah yang bukan masalah Anda, berilah selamat
kepada diri sendiri karena memiliki kerendahan hati dan kebijakan untuk mundur
dari keterlibatan itu. Anda akan segera membebaskan berton-ton energi ekstra
untuk memfokuskan perhatian pada hal-hal yang lebih relevan atau yang lebih
penting.
TERBUKALAH PADA “APA YANG ADA”
Salah satu dari
prinsip-prinsip spiritual yang paling dasar dalam banyak filosofi adalah
gagasan untuk membuka hati kita pada “apa yang ada” ketimbang memaksakan hidup
untuk berlangsung seperti apa yang kita inginkan. Gagasan ini sangat penting
karena kebanyakan konflik batin kita berasal dari keinginan untuk mengendalikan
hidup, mendesak agar hidup harus berbeda dangan yang sudah ada. Tetapi hidup
tidaklah hidup akan berjalan sebagaimana adanya. Semakin besar pasrah diri kita
pada kebenaran saat ini, semakin besar kedamaian yang ada dalam pikiran kita.
Bila kita memiliki
gagasan yang telah terbentuk sebelumnya mengenai seperti apa hidup itu
seharusnya, gagasan itu akan mengganggu kesempatan kita untuk menikmati atau
belajar dari saat sekarang ini. Gagasan ini akan mencegah kita untuk menghargai
apa yang akan kita alami, yang mungkin merupakan kesempatan bagi kebangkitan
besar.
Ketimbang bereaksi
terhadap keluhan anak-anak atau penolakan pasangan, cobalah membuka hati dan
menerima saat-saat yang ada. Pikirkanlah bahwa tak jadi masalah bila mereka
tidak bersikap seperti yang Anda kehendaki. Atau, bila proyek yang Anda
kerjakan ditolak, daripada merasa kalah, lihatlah apakah Anda dapat berkata
kepada diri Anda, “Wah, ditolak. Lain kali aku akan berusaha supaya disetujui.”
Tariklah napas dalam-dalam dan perlunakanlah respons Anda.
Bila kita membuka hati
kita dengan cara ini, tidak berarti kita berpura-pura bahwa kita menikmati
keluhan, penolakan, atau kegagalan, tetapi mentransedesikannya, menggeser
pandangan shingga kita tidak merasa gagal bila hidup tidak mewujudkan yang kita
rencanakan. Bila kita dapat belajar membuka hati di tengah kesulitan hidup
sehari-hari, kita akan segera menemukan bahwa banyak hal yang biasanya
mengganggu kita tidak lagi menjadi masalah. Perspektif kita diperluas. Bila
kita berjuang melawan hidup, hidup akan benar-benar menjadi pertempuran, hampir
seperti permainan pingpong di mana kita adalah bolanya. Tetapi bila kita pasrah
kepada waktu, menerima apa yang terjadi, membuatnya tidak menjadi masalah,
perasaan yang lebih damai akan mulai muncul. Cobalah teknik ini pada beberapa
tantangan kecil yang kita hadapi. Lama-kelamaan, kita akan dapat memperluas
kesadaran yang sama untuk hal-hal yang lebih besar. Ini benar-benar cara yang
ampuh untuk menjalani kehidupan.
Komentar
Posting Komentar