NUR HIDAYAH

JAMALUDIN RIFAI, S.Pd.I

NUR HIDAYAH

36 KISAH-KISAH KEHIDUPAN NYATA DAN PELAJARAN HIDUP, UNTUK KITA SEMUA MENJADI AKHLAK YANG MULIA.










BUKU PERSEMBAHAN
                       
Saya Mengucapkan Terima Kasih Yang Sebesar-Besarnya Kepada:
1.      Allah Swt Atas Segala Anugrah Dan Kesempatan Yang Sudah Diberikan
2.      Kedua Orang Tua Atas Cinta Dan Kasih Sayang Yang Tak Pernah Putus Asa Dan Selalu Mendoakan Anak-Anaknya Agar Sukses Dan Selalu Bersabar, Berusaha, Selalu Rendah Hati.
3.      Keluarga Besar Terutama Buat Kedua Kakakku, Mbak Suwarni Rivai, Mbak Masni Rivai Yang Telah Memberiku Motivasi Dan Dukungan Terhadap Saya.
4.      Teman-Teman Sekolahku Dari Sd Sampai Perguruan Tinggi, Khususnya Para Sahabat-Sahabatku Alumni Fakultas Tarbiyah Program Study Pendidikan Bahasa Inggris : Mr Satarudin A.Tudu S.Pd.I, Bersama Mr Risky Paputungan, S.Pd.I,  Yang Selalu Memberiku Motivasi Serta Nasihat-Nasihat Yang Membangun Juga,
5.      Buat Guru-Guruku Serta Dosen-Dosenku Yang Tak Dapat Saya Sebut Satu Persatu, Yang Selalu Memberikan Ilmu Dan Motivasi Kepada Saya.
6.      Orang-Orang Yang Sudah Meluangkan Waktu Membaca Karya-Karya Saya. Terima Kasih Banyak.



KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon ampunan hanya kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang mampu memberinya petunjuk. Kita bersaksi bahwa tidak ada yang mampu memberinya petunjuk. Kita bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan kita bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Pembaca yang budiman nur hidayah, merupakan nikmat yang dianugerahkan Allah Azza wa Jalla kepada seorang hamba. Ia merupakan salah satu nikmat yang agung dari sekian banyak nikmat. Dan nikmat nur hidayah, adalah nikmat yang bernilai istimewa. Nur hidayah merupakan sentuhan lembut Ilahi, yang akan mengantarkan seorang hamba kepada pantai kebahagiaan. Ia merupakan wujud kasih-sayang Ilahi, sehingga seorang hamba tidak terjatuh ke dalam jurang kesalahan dan kesengsaraan. Ia menuntun seorang hamba yang dikuasai hawa nafsu, sehingga menjadi terbimbing kepada kehendak Dzat Yang Maha Kuasa. Maknanya, Allah tidak membiarkan seorang hamba berada dalam kesendirian ketika mencari kebenaran. Akan tetapi, tangan-Nya menuntunnya ke arah yang Dia ridhai.
Kebanyakan orang menemukan nur hidayah, tatkala jiwanya sedang remuk redam disebabkan karena musibah yang sedang menimpanya. Musibah ini menumbangkan semua kesombongannya, meluluh-lantakkan ketidakpeduliannya terhadap Allah dan syari’at-Nya. Ketika seorang hamba sudah berada di atas jurang kehancuran, Allah menahannya, lalu menuntunnya dengan kelembutan dan kasih-sayang-Nya. Akhirnya, hamba yang sombong ini terselamatkan, kembali kepada jalan Allah. Ini semua dikarenakan hidayah Allah. Terkadang Allah menundukkan kesombongan seorang hamba dengan membinasakan kekayaan, yang seorang hamba ini merasa memilikinya selama ini. Kesadaran muncul setelah api besar membakar rumahnya atau istananya, dan segala kekayaan yang ia peroleh dengan menghabiskan semua waktu dan masa mudanya yang hanya untuk mengumpulkan harta.
Hidup dan bercahayanya hati, berarti merupakan pertanda jika dirinya telah memiliki modal untuk meraih segala kebaikan. Begitu pula sebagaimana mati dan gelapnya hati, itu merupakan pertanda jika ia memiliki dasar keburukan. Oleh karenanya, hati yang bisa merengkuh hidayah Allah Azza wa Jalla, baik ia sendiri yang melangkah, atau nur hidayah yang mendekatinya, atau sebab tertentu kemudian Allah berbuat atas diri hamba-Nya sesuai dengan keinginan dan kehendak-Nya, maka hati yang seperti ini, berarti hati tersebut masih dalam kategori hidup, dan hati tersebut masih mempunyai nur hidayah, meskipun redup. Dengan hidupnya hati, berarti menunjukkan semua perangkat tubuhnya masih aktif, baik pendengaran maupun penglihatannya, malu dan jati dirinya. Begitu pula ia masih memiliki semua akhlak yang mulia, cinta kepada kebaikan dan rasa benci kepada keburukan.
Penulis menyajikan buku dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan suguhan cerita yang menarik tentu akan menambah semangat anda. Penulis sadar NUR HIDAYAH ini masih jauh dari apa yang disebut dengan kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Walau demikian penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan NUR HIDAYAH ini dengan semua kemampuan yang penulis miliki.


Penulis

Jamaludin Rifai, S.Pd.I




DAFTAR ISI

BUKU PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
1.            AZAB SANG SERAKAH ZAKAT FITRAH................................................... 1
2.            LELAKI YANG TERSUNGKUR DI LIANG KUBUR IBUNYA............... 6
3.            KISAH KEAJAIBAN ZIKIR SAAT MEMILIH OPERASI.......................... 11
4.            JENAZAH BERDARAH DI PAGI SYAWAL................................................. 16
5.            HAJI GRATIS UNTUK KELUARGA PENJUAL SINGKONG................. 22
6.            SEDEKAH 1 MENJADI 10................................................................................ 25
7.            SEMBUH SETELAH PENUHI JANJI............................................................. 29
8.            DISUMPAH IBUNYA, PEMUDA DURHAKA KECELAKAAN MAUT.. 35
9.            SUARANYA HILANG KARENA KIKIR....................................................... 41
10.        SAKARATUL MAUT PEBISNIS ARAK........................................................ 44 
11.        PEJABAT BANK JADI PENGEMIS DI MEKKAH...................................... 48
12.        SEDEKAH MENYEMBUHKAN KANKER RAHIM.................................... 52
13.        MENJEMPUT MAUT DENGAN MATA MELOTOT DAN LIDAH MENJULUR     55
14.        KISAH NENEK PENJAMU TAMU................................................................. 59
15.        KUBERI NAMA ANAKKU NUR NUR HIDAYAH...................................... 62
16.        KEMALUAN BENGKAK SAMPAI MENINGGAL..................................... 67
17.        KESULITAN BERWUDHU SELAMA BERHARI-HARI............................ 73
18.        SEDEKAH DAN MUKJIZAT KEHAMILAN................................................ 76
19.        CAHAYA TIAP MALAM JUM’AT DIMAKAM LELAKI ALIM.............. 80
20.        SEEKOR ULAR KELUAR DARI PERUT IBU............................................. 84
21.        KISAH SUAMI PENYABAR DAN SESAL SANG ISTRI............................ 89
22.        MENDAPAT NUR HIDAYAH DALAM KUBUR......................................... 93
23.        2 KISAH LUAR BIASA JAMAAH HAJI......................................................... 100
24.        SEDEKAH BERBUAH MOTOR...................................................................... 104
25.        MUKJIZAT DOA YATIM YANG TERDAMPAR DILAUT LEPAS......... 107
26.        AMBIL HAK IBU, LUMPUH DI USIA SENJA.............................................. 114
27.        KARENA LAKUNYA, PEMUDA ITU GILA DAN TERTABRAK........... 119
28.        MAKAM BERSINAR LELAKI MISTERIUS................................................ 124
29.        GURU PEREMPUAN YANG STRESS SEPULANG HAJI......................... 128
30.        KARENA SEDEKAH IA MEMPEROLEH HEKTAR TANAH.................. 131
31.        HIKAYAT PEMUDA YANG TUBUHNYA
PENUH LUKA BERNANAH............................................................................ 135
32.        MENGUMBAR SUMPAH, MENINGGAL TERSAMBAT PETIR............. 143
33.        JENAZAH REMAJA DIRUBUNGI LALAT.................................................. 148
34.        KUBUR ISTRI DURHAKA BERASAP........................................................... 152
35.        GAGAL BERHAJI, MATANYA PUN BUTA................................................ 160
36.        SEDEKAH SUPIR DAN DOA SANG NENEK............................................... 164
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................... 168
TENTANG PENULIS.................................................................................................. 169




AZAB SANG SERAKAH ZAKAT FITRAH
Kampung yang terletak di lereng gunung itu tampak hening. Dua puluh menit yang lalu, dari speaker mushala di kampung itu telah berkumandang adzan Shubuh. Tak lama kemudian, shalat Shubuh berjamaah berlangsung. Setelah itu, sekitar lima orang jamaah pulang ke rumah. Tetapi, tidak selang lama, dari speaker lama mushalah kembali berderak. Kali ini, suara yang menggema bukan adzan Shubuh, melainkan berita haru tentang kematian Amin (Nama samaran 50 tahun), salah satu warga kampung yang dulu sempat dikenal sebagai imam di mushala itu.
Sayang, walaupun Amin pernah dikenal sebagai imam mushala, berita kematian Amin pada Shubuh itu tak mengundang warga kampung prihatin, mereka tak berduka seperti layaknya kehilangan seorang pahlawan. Pasalnya, Amin dikenal warga memiliki catatan kurang baik, salah satunya orang yang tamak dan kemaruk. Apalagi, sebelum meninggal dia dikabarkan menderita penyakit aneh. Hampir lumpuh, tak bisa berbuat banyak dan hanya menghabiskan umur di atas kasur. Hampir enam bulan, penyakit aneh mendera Amin. Tidak ada warga yang tahu penyakit apa yang menimpanya. Sebagian kecil warga sempat mendengar kabar, Amin sakit dan harus menghabiskan masa-masa tua di atas kasur karena terkena guna-guna.
Sebagian warga yang lain malah sempat menganggap Amin menderita sakit aneh sampai tidak bisa berjalan dan hampir lumpuh akibat ketamakannya menilap zakat fitrah mushala. Sejak enam bulan itu, tubuh Amin kian hari kian lemas dan tak memiliki kekuatan. Tak banyak yang tahu, apa diagnosa dokter terhadap penyakit Amin, kecuali hanya keluarga terutama Novi (Nama samaran 39 tahun), istrinya dan anak lelaki, Dika (Nama samaran 21 tahun). Pernah Amin dibawa ke dokter, tetapi habis itu nyaris tak pernah terdengar lagi. Warga lebih sering mendengar keluarga membawa Amin berobat melalui pengobatan alternatif. Hingga akhirnya, tak lagi terdengar kabar tentang Amin dan warga banyak yang tak perduli.
Tahu-tahu, Amin dikabarkan meninggal. Tetapi, kabar duka yang disampaikan lewat pengeras suara mushala itu tidak membuat warga cepat berdatangan ke rumah duka. Warga mulai berdatangan saat matahari sudah terbit. Setelah beberapa pelayat datang, jenazah Amin akhirnya diurus. Tetapi, saat warga mulai berdatangan ke rumah duka itulah, warga mulai merasa ada hal yang aneh. Hampir setiap pelayat yang datang seperti tak dapat mengelak lagi untuk tak menutup hidung, apalagi bagi pelayat yang dekat dengan pembaringan jenazah. Seperti ada bau tak sedap yang menguar dari tubuh jenazah, dan warga tidak banyak yang tahu karena kondisi jenazah masih tertutup kain.
Namun, keluarga Amin merasa tak enak dengan kondisi tersebut. Meskipun sudah tahu, keluarga tetap diam dan pura-pura tak tahu. Hingga akhirnya, keluarga memutuskan untuk mengurus jenazah; memandikannya. Tepat, saat jenazah mau diangkat dan di bawa ke tempat pemandian, warga sempat terhenyak. Ada darah yang tiba-tiba menetes. Bahkan di ranjang bekas jenazah terbaring terlihat menggenang darah segar. Keluarga pun meminta jenazah cepat-cepat dimandikan. Harapannya, setelah jenazah itu dimandikan darah segar itu berhenti. Tetapi, ironisnya tak ada warga yang berani ikut mengurus jenazah. Sementara itu, pihak keluarga tidak ada yang turun tangan.
Sementara itu Dika, anak lelaki satu-satunya Amin pun diam, tak berdiri dari tempat duduknya. Dia seperti tak mau mengotori tangannya untuk memanggul jenazah Amin. Semua saling pandang, dan tak ada satu yang mau turun tangan. Ada yang menatap jenazah dengan tatapan kasihan, tapi tak turun tangan dengan menyingsingkan lengan bajunya. Ada yang bengong dan diam. Di tengah suasana hening bahkan semua orang yang ada di rumah duka hampir tak ada yang turun tangan, tiba-tiba dari sebuah tempat duduk di pojok ruangan rumah duka itu berdiri seorang lelaki tua. Hamzah (Nama samaran 60 tahun), laki-laki tua itu tidak menghiraukan bau tidak sedap yang menguar. Dia bangkit dari tempat duduk, mendekat ke arah jenazah.
Tapi dia merasa heran, karena tidak ada satu pun orang yang ikut di belakangnya, dia bertindak cepat, meraih tangan Dika anak Amin. “Jika tidak ada orang yang membantuku mengurus jenazah ayahmu, hanya kamu satu-satunya yang harus mengurusnya.” Dika seperti tidak bisa berkutik. Ia bangkit. Jenazah Amin akhirnya dibopong ke tempat pemandian, di samping rumah. Tetapi, saat jenazah dimandikan itu, bau tidak sedap tetap menguar. Saat dubur jenazah dibersihkan ternyata masih memprihatinkan. Dari dubur jenazah, darah terus keluar. Meskipun sudah disumbat dengan kain dan kapas, darah itu tetap mengucur. Dika panik dan bingung setengah mati. Berkali-kali dubur jenazah disumbat, darah masih keluar.
Darah itu seperti tak dapat dihentikan. Akhirnya, Hamzah dan Dika memutuskan menyumbat kapas yang banyak, dengan dibantu kayu yang dijejalkan ke dubur jenazah. Proses pemandian jenazah usai. Lalu jenazah dibungkus kain kafan, segera, mengingat darah terus mengucur dari dubur jenazah. Lalu, jenazah cepat-cepat dimasukkan ke dalam keranda dan keluarga minta untuk segera dishalati. Selain sudah tak bisa lagi berbuat banyak dengan kondisi jenazah yang mengeluarkan darah terus, keluarga juga prihatin dengan para pelayat yang seperti tidak betah berdekat-dekat dengan jenazah. Setelah dishalati, jenazah diangkat untuk dibawa ke tempat pemakaman.
 Tak lama kemudian, jenazah tiba di tempat pemakaman. Saat jenazah dikeluarkan dari keranda, dari kain kafan tepat di bagian dubur jenazah terlihat jelas darah masih mengenang dan menetes. Keluarga cepat-cepat meminta jenazah dikuburkan, mengingat kondisi jenazah yang memprihatinkan. Saat pelayat pulang, masih ada tanda tanya yang menggelayut di benak mereka. Di mata warga, dulu almarhum pernah menggotong zakat fitrah di mushala yang sebenarnya bukan haknya. Sebelum didera penyakit aneh. Amin sebenarnya orang yang cukup dipandang di kampung. Sebab, dia dahulu dikenal tukang sunat. Selain itu, di tengah warga kampung, dia dianggap sebagai orang yang tahu ilmu agama.
Tidak salah, jika Amin diangkat menjadi imam mushala. Dia menjadi imam shalat wajib lima waktu bahkan shalat jamaah lain seperti shalat tarawih ketika bulan puasa tiba. Tapi, reputasi dan terpandang itu seperti runtuh dalam sekejab saat puasa hampir berakhir, tepat tiga hari menjelang Lebaran. Saat menjelang Lebaran itu, sebagian besar warga memberikan zakat fitrah lewat kepanitiaan di mushala tempat Amin menjadi iman. Dan Amin adalah orang yang menerima zakat fitrah tersebut. Bahkan dia sendiri yang mendoakan ketika orang menyerahkan zakat fitrah di mushala. Tiga hari menjelang Lebaran idul fitri, beberapa orang berkumpul di mushala.
Semua orang sepakat bahwa zakat fitrah yang terkumpul itu dibagikan dan diberikan kepada mereka yang berhak seperti anak-anak yatim, fakir miskin, dhuafa, janda-janda yang sudah tua. Sisanya diambil sebagai jatah amil zakat-panitia atau pengumpul dan rencanya, digunakan untuk keperluan mushala. Tetapi, usulan itu ditentang mentah-mentah oleh Amin. “Saya yang menerima zakat fitrah ini, dan saya pula yang mendoakan. Jadi, zakat fitrah ini adalah hak saya, bukan hak siapa pun.” Tentu, orang-orang yang berkumpul di mushala itu pun tercengang kaget. Amin yang selam ini dikenal tahu agama, ternyata mau merampas zakat fitrah itu hanya untuk dirinya sendiri, dan dia tak ingin membagikan kepada yang berhak.
“Tidak bisa!” Jawab Hamzah. “Ini adalah hak orang-orang fakir miskin, bukan hakmu!”
Tetapi, Amin ngotot, tak mau kalah. Dia merasa berhak mendapatkan zakat fitrah itu karena dia yang menerimanya, bukan diserahkan ke mushala. Adu mulut pun terjadi. Sayang seribu sayang, Amin tetap tak mau mengalah dan tetap merasa dialah yang berhak atas zakat itu.
“Silahkan kamu ambil dan bawa pulang semua zakat fitrah ini kalau kau memang merasa berhak, “Jawab Hamzah.
Irnonisnya, Amin seperti orang tak tahu malu. Dia cepat-cepat menaikan beras zakat fitrah itu di atas sepeda motor dan membawanya pulang ke rumah. Semua orang yang iktu rapat di mushala melongo dan mengelus dada. Tidak selang lama, Amin sakit dan meninggalkan  dalam keadaan mengenaskan.
“Sejak peristiwa itu, Amin dan Hamzah tidak pernah lagi bertegur sapa. Tapi, Hamzah tetap mau mengurus jenazah Amin bahkan saat orang lain tak ada yang mau memandikan jenazah Amin. Sebagian warga tak ada yang tahu apa yang membuat Amin sakit parah dan aneh. Tetapi, sebagian besar warga selalu mengaitkan peristiwa pengangkutan zakat fitrah mushala itu sebagai mushabab Amin meninggal dengan dubur yang terus mengeluarkan darah segar hingga ia dimakamkan. Tetapi, hanya Allah yang tahu tentang semua itu. Semoga kisah ini menjadi pelajaran berharga buat kita semua agar kita tidak mengambil apa pun yang bukan hak kita. Apalagi, zakat itu sudah semestinya dibagikan dan diberikan kepada mereka yang berhak” Jelas Ilham (Nama samaran 39 tahun) tetangga almarhum.
(Demi menjaga kerahasiaan dan nama baik, semua nama pelaku/ kecuali nama tempat, yang tercantum dalam kisah iktibar ini telah di samarkan. Selebihnya, kalau ada kesamaan itu hanyalah kebetulan belaka, dan tidak ada maksud untuk merugikan dan mencemarkan nama baik. Kalau ada kesalahan maka dengan ini permintaan maaf secara ikhlas. Demikian pemberitahuan ini di sampaikan agar dimaklumi.)







LELAKI YANG TERSUNGKUR DI LIANG KUBUR IBUNYA
Ibu Aisya (Nama samaran 78 tahun), dikabarkan meninggal dunia. Ia meninggalkan tiga anak, tiga menantu, dan delapan cucu. Suaminya terlebih dulu dipanggil Sang Khalik lima tahun silam. Ibu Aisya tinggal di sebuah desa di pesisir pantai. Ia meninggal di rumahnya setelah sebelumnya mengeluh kesakitan di bagian perut. Pagi hari, ketika orang baru terbangun untuk menuaikan shalat Shubuh, nenek tua itu ditemukan tidak bernapas lagi. Anak perempuannya membangunkannya untuk shalat Shubuh, tapi jasadnya sudah tidak bernyawa lagi. Saat itulah, Ibu Aisya diyakini telah wafat. Kabar itu pun kemudian terdengar seantero desa.
Ada satu kisah di hari kemudian Ibu Aisya, manakala jasadnya hendak dimasukkan ke liang lahat, anaknya yang pertama, Pak Dedi (Nama samaran 40 tahun), tersungkur masuk ke dalam liang lahat, di mana jasad Ibu Aisya yang sudah kaku tak bernyawa terbaring di tanah. Pak Dedi tiba-tiba terpeleset dan masuk ke dalam liang lahat, dan kepalnya mencium bagian kaki jasad Ibu Aisya. Di dalam liang kubur sudah ada tiga orang yang masih memegangi jasad Ibu Aisya dan meletakkanya di bagian tanah.ketika salah satu diantara tiga orang itu hendak mengumandangkan adzan, tiba-tiba Pak Dedi yang berdiri di bagian tepi liang kubur tersungkur jatuh dan masuk ke liang kubur. Sebagian tubuhnya menindihi salah satu diantara orang yang bertugas di bawah liang kubur.
Namun, anehnya, posisi tersungkurnya Pak Dedi tepat di bagian kaki jasad Ibu Aisya. Kepalanya menyentuh bagian kaki jasad ibunya. Seperti posisi mencium kaki. Lebih aneh lagi, ketika Pak Dedi hendak bangkit dari posisinya yang sedikit menindih orang itu, ia mengalami kesulitan. Kakinya sedikit terkilir. Akhirnya orang yang menghadiri pemakaman Ibu Aisya sedikit riuh atas peristiwa itu.


“Aduh, kakiku terkilir! Sulit digerakkan,” Teriaknya.
“Sabar Pak, saya coba bantu bapak berdiri,” Kata seorang pria di sampingnya.
Liang kubur yang sempit itu dimasuki lima jasad manusia, yakni jasad Ibu Aisya, Pak Dedi, dan tiga petugas kubur. Karena sempit, maka dua orang petugas kubur itu keluar dari liang kubur. Sementara yang satunya membantu Pak Dedi yang kakinya terkilir, dan mengangkatnya ke atas permukaan tanah dengan dibantu banyak orang. Peristiwa aneh itu masih cukup terekam di benak sebagian orang dikampung itu. Aneh, karena peristiwa itu terjadi tiba-tiba dan sedikit membuat gaduh suasana pemakaman. Tapi, tak beberapa lama kemudian, setelah dipastikan kaki Pak Dedi tidak mengalami cedera serius, proses pemakaman pun dilanjutkan. Peristiwa aneh ini oleh sebagian orang yang menyaksikannya dipahami secara beragam.
Ada yang tidak begitu serius menanggapinya, lantaran hal itu bisa jadi karena kebetulan saja. Tapi, ada juga warga yang mengaitkan peristiwa itu dengan hubungan antara Ibu Aisya dan Pak Dedi yang tak harmonis semasa hidupnya, terutama di akhir-akhir masa hidup Ibu Aisya. Bahkan, sudah lebih dari tiga tahun Pak Dedi tidak pernah menemui almarhumah Ibu Aisya lantaran kesal mengenai pembagian harta warisan. Inilah muara masalahnya.
Pak  Dedi adalah satu dari tiga anak Ibu Aisya yang memiliki hubungan yang kurang baik dengan saudara-saudaranya. Tak hanya itu. Hubungannya dengan orang tuanya juga tidak harmonis, baik pada almarhum ayahnya maupun pada almarhumah Ibu Aisya. Sewaktu ayahnya masih hidup. Pak Dedi juga sering bertengkar. Pak Dedi dikenal memiliki sifat dan karakter keras kepala. Apa yang dipahaminya benar, maka ia tidak mau mengalah. Termasuk kepada kedua orangtuanya sendiri. Dengan saudara-saudaranya juga ia dikenal kurang perhatian. Ia bahkan pernah memarahi adiknya ke depan umum.
Di kalangan masyarakat, Pak Dedi dikenal sebagai orang yang ramah. Tapi di tengah keluarganya, ia dikenal kurang perhatian, bahkan cenderung sering menyakiti ibunya. Ia memiliki sifat tempramental. Menurut salah seorang warga, Pak Dedi pernah memukul ibunya. Kejadiannya sudah lama sekali. Kala itu, Pak Dedi dan ibunya berselisih pendapat mengenai permodalan dagang. Tapi, lagi-lagi, itu kejadiannya sudah lama, jadi sulit dicari persoalan apa yang mereka ributkan. Yang terbaru, Pak Dedi pernah diketahui warga bertengkar dengan almarhumah Ibu Aisya mengenai pembagian warisan. Pak Dedi menilai ibunya tidak adil. Sebuah rumah yang kini ditempati kakak perempuannya dianggapnya adalah bagian miliknya.
Rumah itu ditempati adik perempuan dan adik iparnya beserta anak-anaknya. Ini yang membuat iri Pak Dedi karena, ia sendiri menempati rumah yang sempit yang tak jauh dari rumah tersebut. Tetapi, almarhumah Ibu Aisya sendiri tidak mau memberikan rumah itu ke Pak Dedi, karena di samping ia sendiri masih menempati rumah itu beserta anak perempuan, menantu dan cucunya, rumah itu rencanya hendak dijual oleh Pak Dedi. Ini yang tidak diizinkan oleh Ibu Aisya.
“Pokoknya, rumah ini milikku, Bu. Ini bagianku,” Tegas Pak Dedi, kala itu.
“Kalau rumah ini milik kamu, terus adikmu mau tinggal di mana?” Tanya Ibunya.
“Tinggal saja dengan mertuanya.”
“Tidak bisa. Kasihan. Di rumah mertuanya juga ada banyak saudara-saudaranya.”
“Tapi, ini milikku. Bu” Sentak Pak Dedi.
“Terus ibu nanti bagaimana? Tinggal di mana?” Tanya ibunya.
“Ibu tinggal saja di rumahku. Rumah ini mau aku jual,” Tandas Pak Dedi dengan nada keras.
“Tidak boleh. Rumah ini tidak boleh dijual. Rumah ini peninggalan Bapakmu. Pamali (Kualat) kalau rumah ini kamu jual,” Tegas ibunya.
“Ah, persetan dengan itu semua, Bu! Pokoknya ini adalah miliku. Mau dijual atau diapakan juga terserah aku.” Ucapnya, sambil mendorong badan ibunya yang sudah renta itu. Ibunya sempat mau jatuh dari kursi, karena dorongan dari Pak Dedi.
“Astaghfirullah, Dedi. Kamu sudah keterlaluan. Kamu kualat! Aku ini ibumu. Tidak pantas kamu bersikap seperti itu,” Ujar Ibu Aisya, sedikit merintih kesakitan pada pundaknya karena didorong anaknya.
Setelah itu, tanpa berpikir panjang, Pak Dedi langsung pergi dan meninggalkan ibunya. Ia bergegas keluar dari rumah itu dengan muka masam dan kesal. Sejak kejadian itulah, Pak Dedi tidak pernah lagi datang ke rumah ibunya. Bahkan, pada hari Lebaran pun, ia tidak bersalaman dan meminta maaf pada ibunya. Meski rumahnya tak jauh, tapi ia tidak mengunjungi ibunya. Hanya istri dan anak-anaknya saja yang mendatangi ibunya pada hari Lebaran. Peristiwa itu masih terekam di benak salah seorang warganya. Pak Sarwan (Nama samaran 56 tahun), menyayangkan sikap Pak Dedi. Menurutnya, seharusnya Pak Dedi tidak bersikap kasar pada ibunya. Persoalan beda pendapat dan pandangan soal harta warisan seharusnya tidak sampai membuat seorang anak bersikap kasar pada ibunya.
Ia sendiri pernah menasihati Pak Dedi sewaktu Ibu Aisya masih hidup. “Dedi, kamu tidak boleh bersikap seperti itu pada Ibumu. Kamu bisa membicarakan hal yang seperti itu dengan baik-baik,” Kata Pak Sarwan, menasehati.
“Ah, Pak Sarwan kayak tidak tahu sifat Ibuku saja. Dia dari dulu pilih kasih sama anak-anaknya,” Jawab Pak Dedi.
“Tapi, menghormati Ibu itu bukannya wajib.”
“Taoi, Pak, membela hak juga wajib tandas Pak Dedi.
“”Apa yang kamu bela itu bisa dikompromikan. Kamu berhadapan dengan seorang ibu, bukan dengan kompeni Belanda,” Kata Pak Sarwan, menceritakan.
Namun, ya sia-sia saja apa yang diucapkan Pak Sarwan. Pak Dedi tetap tidak mengaku salah. Ia mengaku benar saja. Hingga akhirnya, di hari setelah kematian ibunya, peristiwa aneh itu terjadi. Pak Dedi jatuh tersungkur dan mendium kaki ibunya yang sudah tidak bernyawa. Sehari setelah kejadian itu, Pak Sarwan pun berkata kepada Pak Dedi.
“Dedi, apa kamu tidak memahami apa yang tersirat dari kejadian kemarin?” Tanya Pak Sarwan, lirih.
“Iya, Pak, aku mulai mengerti,” Kata Pak Dedi sambil meneteskan air mata.
“Alhamdulillah, kalau kamu mengerti,“ Kata Pak Sarwan.
“Saya menyesal, Pak. Belum sempat meminta maaf kepada Ibu Saya,“ Tuturnya.
“Kamu harus banyak istighfar, dan mendoakan ibumu,” Kata Pak Sarwan menasehati.
Sejak dinasihati Pak Sarwan itu, Pak Dedi rajin menziarahi makam ibunya. Ia sekarang sudah bertaubat dan merasa bersalah atas apa yang dilakukannya dulu. Ia telah menyakiti hati kedua orangtuanya. Namun begitu, ia berkeyakinan bahwa Allah Maha Pengampun, dan akan senantiasa menerima taubat hamba-hambanya yang benar-benar bertaubat.
(Demi menjaga kerahasiaan dan nama baik, semua nama pelaku/ kecuali nama tempat, yang tercantum dalam kisah iktibar ini telah di samarkan. Selebihnya, kalau ada kesamaan itu hanyalah kebetulan belaka, dan tidak ada maksud untuk merugikan dan mencemarkan nama baik. Kalau ada kesalahan maka dengan ini permintaan maaf secara ikhlas. Demikian pemberitahuan ini di sampaikan agar dimaklumi.)




KISAH KEAJAIBAN ZIKIR SAAT MEMILIH OPERASI
Sulfa (Nama samaran 43 tahun), mencoba bangkit dari rasa takutnya. Ia pun memasrahkan kodratnya sebagai manusia yang dhaif, manusia lemah dan menjunjung tinggi hak-hak Allah dengan segala kedudukan-Nya: Allah Maha Besar, Allah Maha Kuasa, Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Berkat kepasrahan tingkat tinggi yang menjelma di hatinya, ia menjadi wanita pemberani untuk mengambil keputusan besar saat menghadapi masalah yang genting.
“Saya harus menempuh jalan itu, Pak. Apapun resikonya,” Begitu keputusan Sulfa pada suatu malam. Ucapan dengan intonasi rendah itu terdengar sang suami seperti ketukan palu di atas meja hijau yang dilakukan oleh seorang hakim ketua. Begitu mengejutkan dan membuat perasaannya down.
Sang suami memandang wajah istrinya penuh iba, tanpa sebuah kalimat sanggahan pun. Sulfa hanya tertunduk saat ditatap seperti itu. Ia sudah dapat menduga apa yang ada dalam pikiran suami. Keberatan yang terukir dalam hati dan kepala sang suami, bukan berarti ingin membiarkan keadaan berlarut-larut, tetapi semata sang suami masih bermain dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang pernah diucapkan seorang pakar kesehatan, seorang ahli bedah yang sangat berpengalaman.
“Keadaan ibu sudah mencapai stadium akut. Jika harus diambil tindakan operasi, maka keberhasilan yang dapat dicapai, secara medis hanya tigapuluh persen saja. Namun jika secara hak dan kekuasaan Allah, bisa saja terbalik persentasenya atau bahkan dapat mencapai seratus persen keberhasilannya, atau juga sebaliknya. Allah Maha Kuasa atas segalanya. Jika Allah berkehendak, tiada yang mustahil bagi-Nya.”
“Kita mohon perlindungan dan pertolongan Allah, Pak. Saya sudah pasrahkan segalanya,” Ada kekuatan dari kalimat yang terucap saat sepasang bola matanya menatap wajah sang suami. Matanya memancarkan bias kepasrahan secara utuh.
Sang suami memegang bahu Sulfa mengembangkan senyum tipis, kemudian menuntaskan keputusannya.” Baiklah, besok kita ke rumah sakit dan aku akan mendatangani perjanjiannya.”
Plong!
Sulfa merasa tak ada lagi hambatan yang menodai kepasrahannya. Bulatnya kepasrahan tak menemui benturan yang memunculkan keraguan. Sulfa siap lahir batin jika harus menjemput maut sekalipun. Saat formulir persetujuan pengambilan tindakan operasi telah ditandatangani. Sang suami telah memasrahkan segalanya ke hadapan Sang Pencipta Hidup dan Kehidupan. Saat itu, hal yang paling mungkin dilakukannya adalah berdoa untuk memohon pertolongan Allah. Beningnya air wudhu di wajah sang suami seperti tak pernah mengering. Pada setiap kesempatan, ia menggelar sajadah panjang. Shalat dan bermunajat kepada-Nya. Sang suami terus berzikir dan wirid. Dadanya senantiasa bergemuruh dengan asma-Nya. Sang suami mencoba menyambangi alamarwah. Bertawasul kepada waliullah, kepada orang-orang yang dicintai dan disayangi Allah.
Kiriman ummul Qur’an pun melesat, tidak secepat titipan kilat, namun melebihi kecepatan kilat, kiriman itu mencoba membelah batas langit dengan segala keikhlasan. “Tumma ila ruuhi Syekh Abdul Qadir Jailani...tumma ila ruuhi” Kiriman Al-Fatihah itu terus mengalir. Sang suami terus melakukannya. Segenggam harapan tak henti diniatkan untuk keberhasilan dan keselamatan Sulfa saat menjalani operasi akut, pengangkatan benjolan sejenis tumor yang bersarang di urat kematiannya. Sang suami tak mampu membayangkan saat Sulfa terbaring pasrah di atas meja operasi, juga tak mampu membayangkan tajamnya pisau operasi saat memutus urat leher sang istri demi membuang benjolan yang bersarang di situ.
Mungkin kehidupan akan berhenti sesaat, untuk seterusnya berlanjut kembali. Atau terhenti sesaat dan tak pernah ada lagi nafas di situ. “Ya Rabb. Tolonglah hamba-Mu yang lemah ini. Pagi harinya, Sulfa digiring memasuk bangsal karantina. Sebelumnya, sang suami mendekat, memberikan kekuatan yang maknanya lebih ampuh dari segala tindakan yang akan dilakukan di atas meja operasi. “Semua kita pasrahkan kepada Allah, pemilik kehidupan ini. Insya Allah, dosa dan harapan kita terkabul,” Ujar sang suami sambil mencium dahi istrinya. Tiada tangis di atas kepasrahan itu, Sulfa pun lepas menebar senyumannya itu pun merupakan kekuatan yang tak ternilai, baik untuk dirinya, juga untuk sang suami.
Ada delapan orang pasien yang memasuki bangsal karantina untuk menjalani tindakan yang sama. Ruang isolasi berdinding kaca itu, tak ubahnya bangsal penjagalan. Dan orang-orang yang berada di dalamnya sudah tahu segala resiko yang harus dihadapinya. Sulfa pun begitu. Saat dirinya memasuki bangsal dan mendapatkan jatah. Sebuah tempat tidur lengkap dengan segala aksesorisnya, ia pun sudah melengkapi kepasrahannya tanpa asesoris keraguan. Keparahan semakin menggurita saat pintu bangsal yang ber-AC itu dikunci rapat-rapat, tanpa ada seorang pun boleh masuk kedalamnya.
“Bismillahi tawakaltu ‘alallah” Gema kepasrahan di hati Sulfa terus bergaung.
Seiring waktu melaju, para penghuni bangsal sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Sulfa mendapatkan ibu memasuki bangsal kerantina itu. Siapak ibu itu? Mengapa dia boleh masuk ke bangsal terlarang ini? Sulfa berusaha tidak memperdulikan pertanyaan-pertanyaan itu, terlebih saat ibu itu berjalan ke arahnya dan berdiri persis di sisi tempat tidur. Untuk apa ibu itu menghampirinya? Mengapa tidak ke pasien yang lain? Apakah ia seorang malaikat pencabut nyawa yang menyerupai sorang ibu atau?
Tiada terpikirkan andaian-andaian itu di benak Sulfa. Memang tak terpikirkan. Karena tiba-tiba saja ibu itu menjulurkan tangannya. Sulfa menyambut dan mencium punggung tangan si ibu. Selanjutnya si ibu memberikan secarik kertas pada Sulfa. Sebaris doa tertulis di atas kertas itu. Sulfa paham, ibu itu menginginkannya melafadzkan doa itu sepanjang waktu sebelum tindakan operasi itu dilakukan. Ada kesejukan tersendiri saat Sulfa melihat secarik kertas itu, ada perasaan lapang di dalam dadanya. Kepasrahan yang menggurita di dalam dada Sulfa, membuatnya menerima secarik kertas itu tanpa prasangka, meski hatinya bertanya, kenapa hanya dirinya yang disambangi ibu itu? Mengapa tidak dengan yang lainnya?
Saat Sulfa sibuk dengan pikirannya. Si ibu berlalu tanpa bisa dicegah, bahkan Sulfa pun tak jelas. Kemana perginya perempuan itu. Detik-detik perjuangan para penghuni bangsal maut itu menemui klimaksnya. Suami sulfa, dengan jantung berdetak tak stabil. Sesekali harus memegang dadanya untuk menahan kejutan yang tak terkira. Ada yang keluar dari bangsal, menembus pintu ruang operasi menampilkan sosok yang terbaring dengan sekujur tubuh yang tertutup rapat sehelai kain tebal.
“Innalillahi wainna ilaihi raji’un” Hanya itu kata bathin suami Sulfa penghuni bangsal karantina dipanggil menghadap Sang Khalik. Lalu bagaimana nasib istrinya sendiri? Rasa syukur yang tiada henti menggema di dada sang suami saat pintu ruang operasi terbuka, wajah sang dokter menampakan sesungging senyum yang lebih sejuk dari embun pagi. Ada kelegaan melindap di dada sang suami saat melihat senyum itu, terlebih saat dokter mempersilahkannya masuk untuk melihat keadaan Sulfa. Sang istri dilihatnya terbaring tanpa daya. Namun dokter telah memastikan keberhasilan operasinya. Keberhasilan itu juga yang dikuti oleh keberhasilan lainnya.
Kondisi Sulfa berangsur pulih dengan cukup cepat, tidak seperti pasien lain yang keadaannya belum mengalami perkembangan yang menggembirakan pasca operasi, Sulfa sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Betapa bahagianya Sulfa dan suami. Kepasrahan yang bulat telah mengalahkan ketakutan yang menggurita. Dan sang suami itu tak henti bersyukur atas pertolongan Allah yang Maha Pengasih. Ketika kesembuhannya makin sempurna dan Sulfa sudah dapat kembali berbicara, diceritakannya tentang kedatangan seorang ibu yang mampu menembus bangsal terlarang dan memberinya secarik kertas berisi amalan doa. Sang suami mendengarkan dengan takzim dan penuh rasa syukur. Siapakah ibu itu? Wallahu’alam bisshawab.
(Demi menjaga kerahasiaan dan nama baik, semua nama pelaku/ kecuali nama tempat, yang tercantum dalam kisah iktibar ini telah di samarkan. Selebihnya, kalau ada kesamaan itu hanyalah kebetulan belaka, dan tidak ada maksud untuk merugikan dan mencemarkan nama baik. Kalau ada kesalahan maka dengan ini permintaan maaf secara ikhlas. Demikian pemberitahuan ini di sampaikan agar dimaklumi.)



TENTANG PENULIS
            Penulis bernama Jamaludin Rifai lahir di Gorontalo 27 Juni 1986. Penulis  berasal dari Provinsi Gorontalo. Penulis adalah anak ke 7 dari 7 orang bersaudara. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar penulis mempunyai bakat yaitu menulis dan mengarang. Penulis pernah kuliah di salah satu kampus yang berada di Gorontalo yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tahun 2011, penulis berhasil menjadi alumni Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Pada tahun 2015, penulis berhasil menamatkan pendidikannya S1.
Meski masih tergolong pada tahap awal belajar, penulis hobi membaca buku-buku dunia novel Horor, dan suka membaca buku-buku Bahasa Inggris, buku-buku motivasi, Penulis bercita-cita menjadi penulis yang terkenal melalui bukunya: NUR HIDAYAH
Penulis dapat di hubungi melalui  email : jamaludinrifai442@gmail.com 
No HP: 085340008577



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEREKA ADA DI SEKITAR KITA

MEREKA ADA DI SEKITAR KITA 2

SETETES HIDAYAH