MEREKA ADA DI SEKITAR KITA 2
JAMALUDIN RIFAI
MEREKA ADA DI SEKITAR KITA 2
jangan membaca sendirian di tengah malam ya!
KATA PENGANTAR
Pembaca yang budiman cerita ini berawal dari rasa ketakutan dan cerita-cerita menyeramkan dari beberapa teman kuliah, teman-teman sekolah, tetangga yang berasa dekat rumah. Dan termasuk juga berdasarkan pengalaman pribadi, akhirnya kumpulan cerita tentang MEREKA ADA DI SEKITAR KITA bagian yang kedua kalinya kini hadir di hadapan pembaca yang budiman dan para penggemar cerita tentang mengungkap misteri-misteri arwah gentayangan.
Pembaca yang budiman tak dapat dipungkiri tentang keberadaan makhluk astral yang memang ada di sekitar kita, penunggu setia tempat hunian kita yang kadang kerap mengganggu dan menampakkan diri. Hal ini juga terjadi di beberapa tempat seperti sekolah, rumah sakit dll. Dan saya yakin dan percaya kita mempercayai adanya mahkluk-mahkluk gaib berarti mempercayai kekuasaan Allah, karena Allah itu bukannya hanya menciptakan manusia saja, tapi Allah juga menciptakan mahkluk-mahkluk lainnya, seperti malaikat,Iblis,Jin,dll.
Hal ini serupa ternyata juga di alami oleh orang-orang tertentu yang utamanya teman-teman facebook yang membagi kisah mereka di timeline-nya. Dan kadang berkesan lebih menyeramkan dari cerita yang saya punya. Tentunya solusi juga muncul untuk mengatasi masalah-masalah ganjil yang kerap timbul di tempat-tempat tertentu. Buku ini hadir bukan untuk menakut-nakuti pembaca yang budiman, melainkan untuk berbagi cerita dan solusi, bilaman kita mengalami masalah yang sama.
Semoga dengan membaca buku ini, anda akan menjadi seseorang yang menjadi pemberani dan terbebas dari segala halusinasi.
Pembaca yang budiman mohon maaf atas segala kekurangan cerita saya ini, selamat membaca dan jangan tegang dan jangan takut ya!!! Pembaca yang budiman kisah ini berjudul MEREKA ADA DI SEKITAR KITA 2!
SELAMAT MEMBACA!!!!!!!
Penulis:
Jamaludin Rifai.
TERIMA KASIH:
SAYA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH YANG SEBESAR-BESARNYA KEPADA:
1. ALLAH SWT ATAS SEGALA ANUGRAH DAN KESEMPATAN YANG SUDAH DIBERIKAN
2. KEDUA ORANG TUA ATAS CINTA DAN KASIH SAYANG YANG TAK PERNAH PUTUS ASA.
3. KELUARGA BESAR TERUTAMA BUAT KEDUA KAKAKKU, MBAK SUWARNI RIVAI, MBAK MASNI RIVAI YANG TELAH MEMBERIKU MOTIVASI DAN DUKUNGAN TERHADAP SAYA.
4. TEMAN-TEMAN SEKOLAHKU DARI SD SAMPAI PERGURUAN TINGGI, KHUSUSNYA PARA SAHABAT-SAHABATKU ALUMNI FAKULTAS TARBIYAH PROGRAM STUDY PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS : MR SATARUDIN A.TUDU S.Pd.I, BERSAMA MR RISKY PAPUTUNGAN, S.Pd.I, YANG SELALU MEMBERIKU MOTIVASI SERTA NASIHAT-NASIHAT YANG MEMBANGUN JUGA,
5. BUAT GUR-GURUKU SERTA DOSEN-DOSENKU YANG SELALU MEMBERIKAN ILMU DAN MOTIVASI KEPADA SAYA.
6. ORANG-ORANG YANG SUDAH MELUANGKAN WAKTU MEMBACA KARYA-KARYAKU. TERIMA KASIH BANYAK.
BUKU INI SAYA PERSEMBAHKAN UNTUK:
PAPA DAN MAMA TERCINTA YANG HINGGA KINI TERUS BERJUANG MEMBERIKAN JIWA DAN RAGA UNTUK ANAK-ANAKNYA, PERJUANGAN YANG TERPANCAR MELALUI KALIAN ADALAH ALASAN BAGIKU UNTUK MELAKUKAN YANG TERBAIK.
SETIAP PERISTIWA ADALAH SAKSI YANG TELAH MEMBISIKKAN DAN MEMBUKA HATIKU AKAN ARTI KETULUSANMU.
KINI………..!!!!!
KARENA KERINGAT DAN AIR MATA YANG TERCURAH TIDAK AKAN BERLALU BEGITU SAJA. INI ANAKMU.
KEPADA SAHABAT-SAHABATKU MR SATARUDIN A. TUDU, S.Pd.I DAN MR RISKY PAPUTUNGAN, S.Pd.I. KEPADA KAKAKKU MBAK SUWARNI RIVAI, DAN MBAK MASNI RIVAI. KALIAN ADALAH SUMBER KEAJAIBAN BAGIKU
Hormat Saya
Jamaludin Rifai.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................................
THANKS TO.....................................................................................................................
BUKU PERSEMBAHAN................................................................................................
DAFTAR ISI.....................................................................................................................
1. KAMAR NOMOR 10.............................................................................................. 1
2. PENGHUNI KOS PENINGGALAN BELANDA............................................... 14
3. PENGHUNI RUMAH YANG BARU................................................................... 28
4. RUQIYAH................................................................................................................ 60
5. TERKEJUT.............................................................................................................. 67
6. JERITAN TENGAH MALAM.............................................................................. 70
7. INDIGO..................................................................................................................... 73
8. UJI NYALI............................................................................................................... 88
9. SEBUAH MIMPI..................................................................................................... 96
10. KISAH SATPAM PENJAGA KAMPUS............................................................. 104
11. PAYUNG HITAM................................................................................................... 111
12. BENDA PUSAKA................................................................................................... 125
13. DADE........................................................................................................................ 135
14. BOCAH CILIK YANG BOTAK........................................................................... 145
15. SAMBARAN PETIR............................................................................................... 154
16. TERNYATA OH TERNYATA............................................................................. 165
17. KERIKIL.................................................................................................................. 170
18. GEMERCIK AIR KAMAR MANDI.................................................................... 175
19. PULANG KAMPUNG............................................................................................ 179
20. AJAL BERSAMA.................................................................................................... 195
21. MASAKAN ENAK.................................................................................................. 202
22. SEPASANG SEPATU HITAM.............................................................................. 210
23. PENGARUH ABORSI............................................................................................ 217
24. LONCATAN YANG BEGITU INDAH................................................................ 225
25. MAHASISWI ABADI............................................................................................. 233
26. MAHASISWI TEKNIK.......................................................................................... 242
TENTANG PENULIS...................................................................................................... 252
KAMAR NOMOR 10
Andre sebenarnya tidak bermaksud menginap di hotel Kerawang itu. Karena hanya akan menambah pengeluaran saja,
“Tapi mau bagaimana lagi!” Ucap batin Andre.
Rencananya yang ia siapkan sebelumnya ternyata berubah haluan, mobil yang di bawa sebagai alat transportasi mengalami kerusakan dan harus dibawa ke bengkel di kota Gorontalo. Karena hari sudah sore dan Andre pun kelelahan terpaksa Andre memutuskan untuk menginap saja barang semalam, pikirannya itu akan lebih baik mengingat kalau mau memaksakan diri melanjutkan perjalanan dengan kondisi fisiknya yang terbatas akan resiko nantinya.
Andre baru sadar kalau hari ini adalah musim libur anak sekolah, pantas saja beberapa hotel yang dia datangi menyatakan pebuh, tidak ada kamar yang kosong. Setelah kesana kemari mencari akhirnya Andre dapat kamar di sebuah hotel Kerawang dekat dengan jalan trans pusat kota Gorontalo. Dulu wilayah itu ada di dekat dengan rumah makan sehingga banyak hotel yang berdiri di sekitarnya, tapi karena pemerintah merelokasi rumah makan itu ke tempat lain yang lebih luas dan berada di pinggiran kota Gorontalo, jadilah hotel-hotel kesulitan untuk bertahan. Sudah banyak hotel yang berdiri di sepanjang jalan dekat rumah makan itu berhenti beroperasi. Andre menemukan yang masih buka dari beberapa saja yang tersisa.
“Ada kamar kosong Mas?” Tanya Andre pada resepsionis kala itu.
“Ada Mas, tapi hanya yang di lantai dua. Lantai satu sudah penuh!” Jawab resepsionis itu dengan sopan.
“Nggak apa-apa lah!” Jawab Andre singkat.
“Menurut tidak masalah untuk naik tangga lebih dahulu, yang penting aku dapat kamar dan bisa untuk istrahat!” Ucap Batin Andre.
“Maaf Mas sebelumnya, lantai dua baru ada sedikit perbaikan, mungkin membuat Mas kurang nyaman, tapi hanya siang hari saja kok, kalau malam tidak ada kegiatan perbaikan” Ucap Resepsionis dengan sopan.
Memang seharusnya memberi tahu keadaan sebenarnya daripada nanti dikomplain penyewa.melihat Andre tanda dia tidak keberatan.
“Baru ada dua kamar yang bisa di tempati yaitu nomor 10 yang dekat tangga dan yang nomor 12 yang terletak di sebelahnya. Mas memilih yang mana?” Ucap Resepsionis kepada Andre.
“Nomor 12 saja Mas!” Jawab Adre dengan sopan.
Andre sebenarnya kurang suka menginap di kamar yang dekat dengan tangga karena biasanya berisik, maklum untuk lalu lalang orang-orang. Suara-suara sepatu kadang terdengar dari kamar. Maklum ini bukan hotel besar, hanya masuk kategori hotel kelas bawah. Setelah menyerahkan kartu pengenal diri dan mengisi daftar semacam formulir, Andre mendapat kunci kamar.
“Perlu di bantu membawa barang Mas?” Tanya Resepsionis dengan ramah.
Ketika melihat Andre menggelengkan kepala, dia tersenyum sambil berucap selamat beristrahat kepada Andre. Kemudian Andre membawa koper kecil itu. Andre lalu berjalan perlahan meninggalkan meje resepsionis menuju ke lantai dua, tapi sebelumnya Andre harus melewati kamar-kamar yang terletak di lantai satu, memang seluruh kamar terisi. Suara berisik anak-anak terdengar dari luar. Musim liburan, pastinya banyak orang yang berpergian dengan keluarganya. Andre tidak tahu kalau hari itu sudah memasuki musim liburan, maklum Andre belum berkeluarga dan waktunya habis untuk bekerja. Saat ini Andre baru mengambil cuti dan Andre gunakan untuk pulang mudik untuk mengikuti acara pernikahan adik perempuannya yang akan dilangsungkan di kampung, sekalian ziarah ke makam leluhur.
Di ujung kamar di lantai satu terdapat tangga yang menghubungkan lantai dua. Andre berjalan menaikinya, sesampai di lantai dua memandang sekeliling, deretan kamar saling berhadapan dengan nomor ganjil di deretan sebelah kiri dan nomor genap di sebelah kanan. Karena hari sudah menjelang petang. Tidak terlihat kesibukan perbaikan kamar-kamar seperti yang resepsionis bilang tadi. Andre melihat nomor 11 dan nomor 12 yang saling berhadapan itu. Lalu segera beranjak kamar 12, Andre membukakan pintunya lalu kemudian dia tutup kembali.
Setelah Andre masuk segera dia meletakkan koper kecilnya itu di atas meja, lalu rebahan di tempat tidur. Andre melihat kondisi kamar itu, dan kamarnya tidak terlalu bagus. Hanya ada satu tempat tidur ukuran double, lalu sebuah lemari kayu di sisi kiri kamar dan sebuah meja kursi di sebelahnya. Terus di depan tempat tidur terdapat sebuah televise kecil yang tertanam di kotak besi yang menempel tembok, Andre jadi melihat televisi sambil tiduran. Disebelah kiri terdapat ruang kosong hanya ada sebuah rak besi tempat menaruh handuk yang berhadapan dengan pintu kamar mandi. Belum selesai Andre memandang sekeliling, suara ketukan di pintu terdengar. Andre segera bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu, ternyata seorang room boy yang membawakan handuk dan baki berisi gelas kosong dan satu teko minuman.
“Terima kasih Mas!” Ucap Andre begitu menerimanya.
“Mas di lantai dua ini apa hanya kamar ini yang terisi?” Tanya Andre berbasa basi.
“Iya Mas, hanya dua kamar tapi baru satu yang terisi, ya kamar yang ini, kamar lainnya masih dalam proses perbaikan ringan!” Jawabnya sambil permisi mau kembali ke tempat kerjanya.
Room boy itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan Andre. Setelah Andre meletakan baki minuman di atas meja dan handuk di rak besi di depan kamar mandi, dan dia memnuka pintu kamar untuk melihat sekeliling. Suasana sepi melingkupi lantai dua, maklum hanya satu kamar saja yang terisi yaitu kamar tempat Andre menginap. Kebetulan begitu pikirnya.
“Aku bisa membayangkan bila suasana kamar di lantai dua seperti yang ada di lantai satu, pasti berisik sekali, karena banyak yang menginap dengan keluarga dan anak-anak kecil!” Ucap Batin Andre.
Andre kemudian menutup kembali pintunya, setelah itu dia mengunci pintu, Andre ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Andre berencana meluangkan waktu untuk ke pusat kota mencari oleh-oleh bagi sanak saudaranya di kampung. Khusus adiknya yang mau menikah lebih baik Andre memilih untuk memberikan hadiah uang tunai saja, lebih bermanfaat dan simpel. Selepas sholat Isya Andre beranjak meninggalkan kamar itu untuk menuju kota. Kunci kamarnya di titip ke resepsionis lalu Andre berjalan ke arah mobil yang dia parker di depan hotel. Dan dinyalakan mesinnya lalu dia kemudian membawanya ke pusat kota.
Sekembali dari mall di pusat kota, Andre langsung menuju kamar. Setelah memarkir mobil di depan hotel dan meminta kunci kamar Andre kemudian menuju tangga. Di lantai satu masih berisik dengan aktivitas para penghuninya. Terutama yang membawa keluarga. Andre melangkahkan kakinya setingkat demi setingkat di anak tangga, dan akhirnya sampailah di lantai dua. Suasana hening langsung menyergapnya, berbeda sekali jika dibandingkan suasana di lantai satu. Kamar-kamar yang saling berhadapan seakan membisu mengikuti keheningan yang ada. Tidak ada seorang pun di lantai ini kecuali Andre. Kemudian dia membuka pintu kamar lalu menguncinya dari dalam kamarnya itu.
Setelah bergantian pakaian dan membasuh muka serta menggosok gigi, kemudian Andre merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Remote televisi yang ada di atas meja di ambilnya, lalu dihidupkan televisi yang ada di atas meja di ambil olehnya, kemudian televisi di hidupkan dan mencari saluran yang sekitarnya menyajikan acara yang menarik baginya. Andre mencari saluran yang menayangkan berita atau olah raga. Saat Andre melihat acara berita di televisi mendadak handphone berbunyi. Andre segera mengecilkan suara televisi dan meraih handphone, sebuah nomor yang sudah sangat Andre hapal muncul dilayar.
“Hallo! Malam!” Ucap Andre sambil membuka percakapan.
“Malam juga mas Andre!” Suara seseorang diseberang terdengar suka cita.
“Iis Ya?” Tanya Andre.
Andre sangat hapal betul dengan suara itu. Itu suara Iis adiknya Andre yang akan menikah itu.
“Iya Mas! Dimana nih? Katanya petang tadi sampai rumah?” Tanya Iis penuh harap.
“Oh maaf Iis, aku lupa memberi tahu, mobilku mengalami kerusakan terpaksa aku membawanya ke bengkel dan sore tadi barusan selesai! Aku lelah jadi kuputuskan menginap dulu semalam, besok pagi aku melanjutkan perjalanan, mungkin sore aku sudah nyampai kok. Nggak apa-apa kan? Belum terlambat kan?” Ucap Andre kepada adiknya itu.
“Oh tidak apa-apa Mas, upacara pernikahannya juga masih tiga hari lagi. Nggak masalah kalau Mas terlambat lah. Aku senang sekali Mas Andre bisa hadir di pernikahanku! Ya sudah Mas kalau masih capek, istrahat saja dulu jadi besok pagi bisa langsung jalan!” Seru Iis adiknya tampak gembira.
Pelan tapi pasti rasa kantuk mulai menyerang Andre, dia kemudian mematikan televisi dan berusaha untuk tidur, dengan kondisi badan lelah dan keheningan yang ada cukuplah membuatnya segera tidur. Entah jam berapa Andre kurang begitu tahu pasti dalam rasa kantuk yang masih bingung dalam mendengar suara rebut yang berasa dari dari luar kamar.
“Ahk mungkin ada penghuni di kamar depanku! Begitu pikirku! Bisalah kalau baru masuk kamar, pasti bikin keributan. Makanya aku acuh saja melanjutkan tidurku” Ucap Batin Andre.
Tapi kemudian Andre dikejutkan ada yang mengetuk-ngetuk pintu terlalu keras, dan akhirnya Andre terbangun dan matanya langsung mengarah ke pintu, dan melihat gagang pintu yang seperti mau dibuka dari luar. Belum lepas rasa terkejutnya tiba-tiba suara rebut itu menghilang. Gagang pintu juga kembali semula.
“Apa mungkin orang itu mengira kamar ini kosong ya dan mau menempati? Tapi kayaknya tidak mungkin, aku yakin tiap kamar Cuma ada dua kunci, satu kunci para penghuni dan satunya lagi kunci utamanya di simpan oleh resepsionis!” Ucap Andre.
Kemudian suasana kembali hening, Andre pun berusaha melanjutkan tidurnya, pasti tadi orang yang keliru, tidak melihat nomor tertera, begitu pun dengan Andre, karena dia masih mengantuk pun dengan cepat kembali tertidur. Tapi belum lama Andre tertidur dan baru saja memejamkan matanya, kejadian tadi terulang lagi. Andre kembali mendengar suara rebut dari kamar lain, juga ganggang pintu yang digerak-gerakkan dari luar bermaksud mau membuka paksa pintu kamarnya.
“Wah ini tidak bisa dibiarkan!”Ucap Batin Andre.
Lalu Andre mengambil kunci kamar yang tadi aku letakan di atas meja dan berusaha membukanya, Andre akan mengatakan pada orang itu bahwa kamar ini sudah ada yang menempati, dan Andre sangat terganggu dengan kegaduhan yang telah dibuatnya. Tapi sesaat kemudian dia berpikir tentu tidak pantas baginya untuk menegur karena mereka juga sama-sama penyewa. Yang lebih berhak untuk mengatakan itu tentu pengelola hotel ini lewat karyawan yang bekerja.
Keluar dari kamar Andre bermaksud langsung turun ke bawah menuju bagian resepsionis untuk melaporkan hal itu, namun Andre terdiam ketika tanpa sengaja matanya Andre menoleh ke arah kamar depan samping 11 yaitu kamar yang bernomor 10 itu, kamar itu tampak sedikit terbuka dan suara gaduh kembali Andre mendengar. Hati yang jengkel karena sejak tadi diganggu, Andre langsung melangkah ke kamar itu dan membuka pintunya lebih lebar, Andre akan bilang kalau dia merasa terganggu dengan keributan yang mereka bikin itu, bila mereka tidak peduli dengan keluhannya ya terpaksa Andre harus mengadu ke resepsionis.
Tapi ketika pintu itu terbuka lebar, Andre melihat pemandangan yang sangat mengagetkan dan sangat mengenaskan. Dihadapannya melihat seorang lelaki yang menghajar seorang perempuan. Darah bercucuran membasahi tubuh si perempuan itu.
“Hai Pak! Tolong hentikan!” Hardik Andre dengan keras.
Andre tak tega melihat perempuan di sakiti itu.
Lelaki itu menoleh ke arahnya begitu Andre berkata keras tadi, dilihatnya matanya yang merah laksana api yang menyala karena kemarahan yang meluap-luap, dia tampak sangat mengerikan. Ternyata dia membawa pisau yang berlumuran darah di tangan kanannya. Melihat tingkah yang kurang baik, Andre segera mengambil langkah seribu untuk meminta pertolongan.
Kemudian Andre menuruni tangga itu dengan tergesa, begitu sampai lantai satu Andre bergegas berlari ke meja resepsionis untuk melaporkan kejadian barusan.
“Pak! Pak! Pak tolong! Pak tolong! Tolong” Teriak Andre.
“Ada apa Mas?” Tanya resepsionis pria yang ada di depan Andre dengan wajah bingung.
“Ada….Ada… ada penganiyaan… dikamar depan sekitar di sebelahnya..bahkan sampai..sampai berdarah! Darah! Kita mesti lapor polisi” Seru Andre sambil terbata-bata.
“Maaf Mas hmhmhm.. mari Mas duduk dulu!” Ucap Pria itu sambil menuntunnya duduk dikursi, kemudian dia mengambilkan segelas air putih.
“Sebentar ya Mas!” Katanya seraya menyerahkan gelas itu kepada Andre.
Kemudian mereka berdua duduk berhadapan langsung.
“Maaf Mas! Bisa menceritakan lagi kejadiannya seperti apa?” Tanyanya lagi dengan penasaran dan berdampingan bersama satpam.
“Aku melihat orang dianiyaya dikamar 10! Seorang perempuan dihajar lelaki!”Ucap Andre dengan serius.
Kemudian mereka melongo mendengar penjelasannya Andre, lalu mereka saling menatap penuh keheranan.
“Maaf Mas.. dilantai dua Cuma kamarnya Mas yang ada penghuninya, lainnya masih kosong!” Ucap Resepsionis dengan hati-hati.
“Tapi…Aku tadi benar-benar melihatnya!” Ucap Andre dengan serius.
Kali ini Andre melihat mereka seperti ketakutan, makanya Andre melanjutkan bicaranya lagi.
“Tolong mari kita keatas segera. Kasihan perempuan itu. Atau kalau perlu aku akan telepon kantor polisi saja agar…” Pinta Andre dengan serius.
Andre belum selesai berbicara Pak Satpam pun berkata,
“Iya Mas! Kita lihat saja langsung! Bila memang ada penganiyaan tentu kita akan mencoba menghentikannya, kalau perlu kita lapor polisi!” Ucap Pak Satpam.
Kemudian resepsionis bersama satpam itu mengikuti Andre ke lantai dua. Resepsionis tak lupa membawa kunci cadangan seperti permintaan si satpam. Sesampai di lantai dua mereka bertiga mendapatkan kamar 10 tertutup rapat, Andre mencoba membukanya tampak terkunci. Lalu si satpam meminta kunci yang dibawa oleh resepsionis dan membukakan pintu itu.
Setelah terbuka dan lampu dinyalakan Andre melihat situasi dalam kamar yang benar-benar berbeda. Kamar itu tampak rapi dan bersih, tidak ada bekas-bekas yang telah terjadi penganiyaan di kamar itu. Andre heran bercampur bingung dengan apa yang di hadapannya itu.
“Mas lihat sendiri kan! Tidak ada apa-apa kamar ini” Ucap satpam dengan sopan.
Andre pun tergagap mendengar ucapannya, kalau Andre benar-benar yakin dengan apa yang dia lihat sebelumnya karena Andre masih dalam kondisi terjaga dan sadar.
“Aku melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri!” Ucap Batin Andre dengan penuh kebingunan dan heran.
“Maaf tadi..aduh…aku minta maaf!” Ucap Andre dengan bingung dan ragu-ragu dan tak tahu harus berkata apa-apa lagi.
“Maaf Mas! Kalau memang tidak ada masalah kami mau kembali ke tempat kerja kami!” Ucap resepsionis diikuti anggukan kepada si satpam.
“Hmhm tunggu sebentar! Kita ke bawah sama-sama” Seru Andre dan segera mengambil dompet.
Kemudian mereka berjalan bersama menuju lantai satu.
“Mas mau kemana?” Tanya Satpam heran ketika menyerahkan kunci kepada Resepsionis.
“Ah Cuma mau cari angin saja dan menjernihkan pikiran. Mungkin tadi aku bermimpi atau berhalusinasi!” Jawab Andre tidak semangat.
Kemudian Andre tampak melihat resepsionis agak gugup, Andre menduga ada sesuatu yang dia sembunyikan tapi Andre tidak terlalu peduli. Hanya ingin keluar dan menenangkan pikiran dan menunggu pagi datang. Keluar dari hotel Andre berjalan menuju warung makan dipinggir jalan yang tidak terlalu jauh dari hotel. Andre pun mendapat ada dua pria lainnya yang juga sedang jajan disitu. Mereka tampak asyik menikmati nasi yang dibungkus kecil-kecil itu.
“Jahe hangat satu Pak!” Pesan Andre memesan jenis minuman hangat itu.
Si penjual melayaninya dengan cekatan. Andre meneguk minuman itu pelan-pelan sambil membayangkan kejadian yang semalam di alaminya itu. Agaknya si penjual tahu kalau lagi galau.
“Tinggal dimana Mas? Kok tidak pernah kelihatan!” Tanya penjual kepada Andre dengan penasaran.
“Oh aku tinggal di hotel itu Pak!” Jawab Andre dengan sopan sambil menunjuk arah hotel itu.
“Oh hotel yang direnovasi itu ya? Hati-hati Mas, di situ ada hantunya!” Ucap Penjual itu.
Andre pun kaget mendengar ucapannya penjual itu.
“Masak sih! Kayaknya tenang-tenang saja tuh” Ucap Andre dengan kurang percaya.
“Beneran Mas! Beberapa bulan yang lalu ada pembunuhan di kamar atas hotel itu, kabarnya ada pembunuhan di kamar atas di hotel itu, kabarnya seorang perempuan dihabisi oleh pria yang jadi pacarnya. Katanya sih cemburu! Lalu pria itu juga ikutan mati bunuh diri!” Ucap penjual dengan serius.
“Gila cinta sampai segitunya!” Seru salah pembeli sambil geleng-gelang kepala.
“Bukan cinta tapi cemburunya itu yang masalah!” Sambung teman di sebelahnya.
“Makanya roh mereka tidak tenang, Jadi hantu hiiiii!” Tambah si penjual.
“Mendengarkan perkataan mereka itu, memang benar yang dikatakan oleh penjual itu, mungkinkah aku lihat kedua hantu yang mati mengenaskan karena belum waktunya” Ucap Batin Andre.
Tak terasa bulir-bulir keringat dingin mengucur membasahi wajahnya, tubuhnya pun menggigil karena ngeri.
“Aku akan menunggu sampai pagi deh! Dan aku akan langsung check out segera nanti sudah pagi!” Ucap Batin Andre.
PENGHUNI KOS PENINGGALAN
BELANDA
Ini
malam pertama Anita menempati kamar kosnya yang hanya berukuran 4 x 5 M. Rumah
kos itu termasuk dalam kategori rumah lama. Terlihat dari bentuk bangunan dan
gerbang yang digunakan. Sepertinya rumah ini adalah bangunan asrama jaman
Belanda. Harga yang ditawarkan pun tidak terlalu mahal. Jumlah kamar yang
disewakan kurang lebih 100 ruangan. Di setiap kamar para penyewa diberi
fasilitas tempat tidur besi yang dialasi dengan kasur kapuk, lemari kayu
berukuran sedang, dan sebuah meja rias kayu jati dengan ukiran daun di seluruh
sisinya. Jendela kamar Anita menghadap kearah belakang rumah. Beberapa pohon
besar terlihat jelas jika jendela tersebut dibuka.
Anita
sempat mendengar bahwa bangunan ini angker. Namun Anita tidak peduli karena
sejak kecil Anita sudah menyukai segala sesuatu yang berbau horror, baik itu
buku, film, atau kisah – kisah nyata yang merujuk pada dunia gaib. Walaupun
hingga detik ini Anita tak pernah melihat makhluk astral yang seringkali
digambarkan berwajah menakutkan namun ia percaya mereka memang ada.
Malam
pertama dilaluinya dengan lancar, bahkan ia tak sempat bermimpi, mungkin karena
ia terlalu lelah membereskan kamar maka ia pun tidur dengan lelapnya.
Pagi
– pagi sekali Anita berangkat ke kampus. Di gerbang luar ia berpapasan dengan
Ibu Alda pemilik bangunan tua itu.
“Selamat
pagi Ibu Alda?” Sapa Anita.
“Hai
Anita, selamat pagi. Bagaimana semalam? Apa kamu tidur dengan nyenyak?” Tanya
Ibu Alda.
“Iya
Ibu Alda, sangat nyenyak, gangguan nyamuk pun tak berhasil membangunkan saya.
Saya berangkat kuliah dulu, ada ujian hari ini. Permisi Ibu Alda.” Ucap Anita
Ibu
Anita mengangguk sembari menyunggingkan sebuah senyuman. Wanita itu nampak
aneh. Ia menggunakan baju panjang warna hitam dan berkerudung, hampir seluruh
tubuhnya terselimuti pakaian. Hanya wajahnya saja yang tidak. Namun ia selalu
menunduk Anita melangkah cepat. Jarak antara kampus dan kos tak terlalu jauh.
Cukup naik angkutan umum 5 menit saja maka ia sudah sampai di kampusnya.
Suasana
kampus sudah cukup ramai. Beberapa rekan sekelasnya nampak sibuk dengan buku
catatan di tangan mereka, dengan bibir komat kamit seakan menghapalkan bahan
ujian. Anita duduk di baris paling belakang. Tubuhnya masih lelah karena hari
kemarin.
“Hei
Nit, ngapain disana? Sini deket aku!” Pinta Rani yang duduk dua baris di depan
Anita.
“Disini
aja Ran, takut ketahuan kalau aku ngantuk nanti!” Jawab Anita sambil
mengeluarkan alat tulis dari dalam tasnya.
Rani
mengalah, justru ia yang pindah posisi mendekati Anita.
“Maaf
ya Nit, kemarin aku nggak bisa bantu kamu. Mama masih sakit.” Ucap Rani.
“It’s
okay my friend. Aku bisa selesaikan sendiri. Sudah biasa aku pindah-pindah kos
sendirian” Ucap Anita
“Bagaimana
suasananya? Pemilik kos? Teman-teman kos?” Tanya Rani.
“Pemilik
kos itu namanya Ibu Alda. Teman-teman kos? Hemmm aku belum berkenalan. Waktu
aku berangkat tadi pagi suasana kos sangat sepi. Entah mereka semua masih tidur
atau aku yang lebih lambat bangun dari mereka” Ucap Anita.
“Selamat
pagi anak-anak! Apakah kalian sudah siap
dengan ujian hari ini?” Tanya Pak Guru.
Sebuah
suara agak serak milik Pak Ronal mengejutkan seisi kelas. Termasuk Anita dan Rani.
“Nanti
disambung lagi ceritanya, si monster sudah datang!” Ucap Rani.
Anita
hanya tersenyum simpul. Ia paham betapa Rani begitu membenci Pak Ronal hingga
akhirnya Pak Ronal mendapat anugerah sebagai The Monster. Pukul enam sore Anita
dalam perjalanan pulang ke kos. Ia ingin segera sampai di kamarnya, melanjutkan
tidurnya yang ia rasa masih jauh dari kata cukup. Sampai di depan gerbang kos -
Anita tak langsung masuk, ia memandangi arsitektur bangunan rumah itu dengan
lebih seksama. Memang terkesan angker jika diperhatikan dari luar. Ditambah
lagi suasana juga amat sepi.
“Ah
mungkin penghuni lain belum pulang!” Batin Anita.
Anita
membuka gerbang perlahan. Walau cat-nya sudah mengelupas namun gerbang ini
terlihat masih sangat kokoh. Anita berjalan melewati taman depan kos. Disana
terdapat sebuah ayunan yang nampaknya sudah berkarat. Dua buah lampu taman
terlihat sangat berdebu belum dinyalakan, karena ini masih sore. Anita berjalan
namun pandangannya tak bisa lepas dari taman itu.
”Brakk!”
Suara tabrakan.
“Duh!
Maaf Bu Alda!” Pinta Anita.
“Tak
apa Anita!” Ucap Ibu Alda
Anita
menabrak Ibu Alda tepat di depan tangga menuju kamarnya. Beberapa detik memandang
wajah Ibu Alda. Kemudian Anita menunduk dan melanjutkan langkahnya menuju
kamar. Sampai di kamar, jantung Anita berdegup sangat kencang. Ia sempat
melihat wajah Nyonya Ram Ibu Alda sesaat insiden tadi. Wajah itu begitu dingin
walaupun Ibu Alda menunduk. Anita membaringkan tubuhnya di kasur kapuk itu.
Tanpa sadar ia tertidur. Beberapa jam kemudian …
“Anita..!
Anita!” Sebuah suara yang begitu halus membangunkan Anita dalam tidurnya.
Anita
membuka matanya. Seorang gadis cantik dengan rambut ikal berwarna keemasan
dengan gaun khas noni Belanda sudah ada di depannya. Sepertinya mereka
seumuran. Anita terdiam. Ia yakin bahwa gadis ini bukan manusia.
“Tak
usah takut, aku penghuni kamar sebelah. Kau anak baru kan? Tadi kau lupa
menutup pintu kamarmu. Maaf jika aku lancang masuk tanpa izin. Aku hanya ingin
berkenalan dengan kamu!” Pinta gadis cantik itu.
Anita
memandangi gadis itu dengan sangat teliti. Kakinya menempel di lantai, kulitnya
putih bersih bukan putih pucat.
“Sepertinya
memang dia manusia!” Ucap Batin Anita.
“Hai,
iya tak apa. Siapa namamu?” Tanya Anita dengan nada hambar karena ia masih
terkejut.
“Aku
Sania!” Jawabnya singkat.
Setelah
kejadian itu keduanya nampak terlihat sangat akrab. Setiap Anita pulang dari
kampus, Sania selalu menemani Anita dalam kamarnya. Mereka berbincang-bincang.
Sania sangat memahami sejarah. Terutama saat Indonesia ada di jaman Belanda.
Hingga tahunnya pun Sania hapal diluar kepala. Wajar saja, Sania keturunan
Belanda. Ayahnya adalah seorang Belanda yang bekerja di Indonesia, ibunya suku
pribumi. Wajahnya bisa dibilang sempurna. Cantik luar dan dalam.
Beberapa
minggu berlalu, Anita mulai merasakan ada yang aneh di rumah kos ini. ia merasa
seakan-akan hanya dirinya, Ibu Alda, dan Sania yang tinggal disana. Karena ia
selalu menemukan kos dalam keadaan sepi. Tak ada suara riuh khas kos perempuan.
Sampai pada suatu malam saat ia dan Sania tengah asik menikmati green tea di
kamar Anita.
“San!
Apa kamu kenal dengan penghuni yang lain?” Tanya Anita.
“Hah?
Oh kenal tapi aku jarang berinteraksi dengan mereka. Kenapa Nita?” Tanya Sania
dengan penasaran.
“Tidak
apa, hanya heran aja, sejak awal datang aku hanya melihatmu dan Ibu Alda!”
Jawab Anita.
“Kamu
harus terbiasa dengan kondisi sepi. Seperti aku!” Seru Sania.
Anita
diam, ia masih penasaran mengapa kos ini nampaknya amat sangat hening. Ia
berniat besok saat libur kuliah ia akan menyambangi kamar penghuni lainnya
untuk berkenalan. Hari yang ditunggu tiba, Anita mengetuk setiap pintu. Namun
baru saja ia sampai di pintu ketiga, Ibu Alda mendekatinya tiba-tiba.
“Sedang
apa Anita?” Tanya Ibu Alda.
“Emmh,,ini,,,anu
eh saya ingin berkenalan dengan mereka Ibu Alda!” Jawab Anita terbata.
“Mereka
semua sedang dalam masa liburan. Beberapa ada yang pulang kerumah, sebagian
lagi ada yang pergi menginap diluar kota!” Ucap Ibu Alda.
“Oh
begitu, sudah berapa lama Ibu Alda?” Tanya Anita dengan penasaran.
“Sudah
dua bulan. Apa kau merasa kesepian?” Jawab Ibu Alda.
“Tidak
juga, hanya saja saya merasa asing dengan lingkungan yang sepi!” Ucap Anita
dengan serius.
“Hanya
belum terbiasa. Lama-lama kamu juga akan menikmati betapa indahnya kesunyian!”
Ucap Ibu Alda.
Anita
pun mengangguk. Ia berjalan kembali ke dalam kamar. Wajah Ibu Alda jauh dari
kata bersahabat. Begitu kaku. Di dalam kamar Anita mulai membuka beberapa buku
koleksinya yang rata-rata berbasis horor. Sampai akhirnya ada sebuah buku yang
sama sekali tak ia kenali. Ia merasa sangat asing dengan covernya. Sebuah
tangan besar mencengkram tubuh manusia berukuran kecil.
“Buku
siapa ini? rasanya aku tak pernah membeli ini!” Ucap Batin Anita.
Anita
mulai membuka halaman demi halaman. Anita menikmati tiap kalimatnya. Ia terus
membaca, sampai di halaman tengah ada sebuah mantra. Mantra tersebut menuliskan
bagaimana agar kita bisa merasakan bagaimana menikmati hidup dalam kegelapan
seperti hantu-hantu yang bergentayangan. Intinya mantra itu bisa membuat kita
merasakan bagaimana menjadi makhluk Ghaib. Di situ dituliskan bahwa si pembaca
mantra harus ikhlas. Tak boleh menyimpan dendam dan penyesalan.
Anita
mulai tertarik dengan mantra tersebut, dan ia ingin mencobanya. Anita duduk
bermeditasi. Ia sedang mengosongkan hati dan pikirannya. Kemudian Anita mulai
membaca mantra tersebut.
“Lepas
aku dari bumi, biar aku melayang dengan jasad hilang
Ruang-ruang
sunyi jadi tempatku antara gelap dan angin jahat
Tak
biarkan mata awam menangkap bayanganku
Hanya
Yang sama yang mampu menjadi kawanku
Hilang
aku bersama aromaku tanpa jejak tanpa salam
Kembali
aku bukan padaNya tapi pada mereka yang memintaku
Aku
lepas napas dan napsuku
untuk
pergumulan dalam kegelapan” Anita membaca mantra itu sambil komat kamit.
Perlahan
dengan hitungan yang pasti ia membaca dengan hati-hati. Sampai dikalimat
terakhir. Anita mulai merasakan kepalanya berat. Pandangannya mulai kabur.
Sampai kemudian, “jlebb” ia pun tertidur.
Anita
terkejut, ia sudah berbaring diatas ranjang. Ia ingat betul bahwa tadi ia
sedang duduk dilantai dengan sebuah buku asing berisikan mantra. Anita turun
dari pembaringannya. Ia mencoba mencari-cari keberadaan buku tersebut. Namun
tak jua ditemukannya benda itu.
Anita
beranjak keluar dari kamar. Mencoba mencari Sania. Otaknya langsung mengarah
pada gadis itu karena selama ini yang bisa keluar dan masuk kamarnya hanyalah
Sania. Namun baru saja tangan mungilnya ingin membuka pintu ia menghentikan
langkahnya. Anita baru ingat bahwa selama ini Sania tak pernah memberitahukan
dimana kamarnya. Apa mungkin ia harus mengetuk ke-49 kamar yang ada?
Gagang
pintu ditarik, beberapa langkah keluar dari kamar ia begitu terkejut. Bangunan
ini tak lagi sepi. Banyak gadis-gadis berpakaian mirip Sania nampak asik
berbincang bincang di depan kamar, ada pula yang asik membaca buku. Mereka
semua berwajah Indo. Anita melongok ke lantai bawah. Di taman ia bisa melihat
beberapa gadis asik bermain ayunan, walaupun hari sudah gelap namun wajah
mereka masih terlihat jelas lewat bantuan lampu taman yang sudah dinyalakan.
“Mungkin
mereka sudah kembali dari liburannya. Aku tanyakan saja pada mereka dimana
kamar Sania!” Ucap batin Anita.
Anita
mulai menyapa salah seorang gadis, ia nampak lebih cantik dari Sania. Bulu
matanya lentik, warna matanya hijau, kulitnya sedikit berbintik, bibirnya merah
merona, rambutnya yang keriting dibiarkan terurai, tersemat jepitan bunga kecil
di kepala bagian kanan atas.
“Hai,
aku Anita. Boleh berkenalan?” Ucap Anita sambil memperkenalkan dirinya.
“Hai,
Amanda namaku. Kamu nampak kebingungan?” Sapa Amanda.
“Ah,,iya
aku mencari seseorang!” Ucap Anita lagi.
“Siapa?
Bolehkah aku tahu?” Tanya Amanda
“Sania!”
Jawab Anita.
“Sania
? Sania Van Wirgh ? Dia ada di kamar 45!” Ucap Amanda.
Setelah
mengucapkan terima kasih, Anita langsung pergi meninggalkan Amanda dan beberapa
temannya. Ia berusaha mencari kamar yang dimaksud. Sesampainya disana Anita
melihat sebuah pintu kayu bernomor 45.
“Ini
dia!” Ucap Anita.
Anita
mengetuknya. Tak ada jawaban sama sekali. Berkali-kali diketuk masih juga tak
ada jawaban. Anita pun memberanikan diri membuka pintu kamar itu sendiri lalu
menutupnya kembali, sangat hati-hati hingga tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Lampu kamar ini sangat redup. Dan ada yang berbeda dari ruangan ini, Tempat
tidurnya dibatasi sebuah sekat, dan itu tak dimiliki Anita dikamarnya. Jadi
saat masuk ke kamar, orang akan melihat meja kecil dan dua kursi kayu terlebih
dahulu.
Sebuah
meja kecil berbentuk persegi nampak penuh dengan foto-foto Sania. Semua fotonya
berwarna hitam putih. Sania berpose macam-macam. Ada yang sendiri, ada pula
yang bersama kedua orang tuanya. Sebuah lemari besi berkarat mirip yang ada dikamarnya
nampak terbuka. Kaki Anita berjalan mendekati lemari. Matanya ingin sekali
melihat isi di dalamnya.
Ia
melihat sejumlah baju ala noni Belanda tergantung disana. Namun warnanya sangat
lusuh, bahkan kecoklatan. Anita mencoba menyentuhnya. Ia terkejut, ini seperti
baju-baju puluhan tahun lalu yang sudah tak layak pakai. Begitu rapuh. Di
beberapa bagian sudah bolong, mungkin dimakan tikus. Di bagian bawah lemari
sudah banyak rayap.
“Mana
mungkin Sania membiarkan lemarinya seperti ini?” Pikir Anita.
Jantung
Anita berdegub kencang namun kakinya terus ingin berjalan mengarah ke ranjang
di balik sekat. Ia yakin Sania tengah tertidur disana. Anita berjalan perlahan.
“Sa..Sania??”
Ucap Batin Anita.
Anita
hampir pingsan. Ia melihat sebuah tubuh seperti nenek renta terbaring dengan
sebuah kalung salib di lehernya. Rambutnya yang berwarna keemasan memutih.
Awalnya Anita tak yakin bahwa itu Sania, namun ketika ia melihat sebuah tanda
lahir di punggung tangan orang dalam pembaringan itu ia yakin bahwa itu adalah
Sania. Ditambah lagi wajah cantik Sania benar- benar terbias di wajah itu.
“Apa
ini mamanya? Atau neneknya? Oh Tuhan ada apa ini?” Tanya Anita.
Anita
berharap ini semua hanya mimpi. Namun ia tak ingin mengakhiri ini, ia masih
menikmati permainan jantungnya. Perasaan ini yang tak pernah ia temukan saat ia
membaca buku-buku horor yang sama sekali tak memacu adrenalin. Anita mengelus
tangan orang yang terbaring itu. ia merasakan tubuh itu begitu dingin. Ia
mengelus kedua pipi yang hanya terbalut kulit keriput itu. Tanpa disangka kedua
mata perempuan itu terbuka. Anita tak mampu berkata-kata. Mulutnya bungkam.
Wanita itu bangun dari tidurnya. Suara sendi seperti orang sedang meregangkan
otot terdengar jelas. Perempuan itu membuka mulutnya. Jelas terlihat bibir
keriputnya sudah mengelupas. Jejeran giginya menghitam. Namun ia masih terlihat
cantik.
“Anita?”
Sapa wanita tua itu.
“Sa..Sania?
Apa kamu Sania?” Tanya Anita dengan penasaran.
“Siapa
yang membawamu kesini?” Tanya Wanita tua itu.
“Seseorang
mengatakan padaku bahwa ini kamarmu!” Jawab Anita.
“Siapa?
Apakah Ibu Alda?” Tanya Wanita tua itu.
“Bukan!
Bukan dia. Tapi seorang gadis. Kalau tidak salah ingat namanya Amanda!” Jawab
Anita agak gugup.
Sania
menunduk. Ia seperti ingin menangis. Anita kasihan melihatnya.
“Anita,
maafkan aku. Harusnya kamu tak sampai disini. Kamu pasti sudah melihat mereka
bukan?” Tanya Wanita tua itu..
“Mereka?
Mereka siapa?” Tanya Anita balik.
“Gadis-gadis
yang ada di bangunan ini!” Jawab wanita tua itu.
“Iya,
tapi tunggu! Kamu harus menjawab dulu pertanyaanku. Apakah kamu Sania? Mengapa
kamu amat berbeda dari kamu yang kemarin?” Tanya Anita lagi dengan penasaran.
“Aku
menemuimu dengan penampilanku ratusan tahun lalu. Saat aku masih cantik. Saat
aku belum mengetahui bahwa bangunan ini akan membelengguku!” Jawab Wanita tua
itu.
“Apa
maksudmu?” Tanya Anita dengan penasaran.
“Puluhan tahun lalu aku dan beberapa rekanku
yang notabene keturunan Belanda secara serempak dimasukkan ke dalam asrama ini.
Pemilik asrama ini adalah Pak Randi. Ia terkenal memiliki ilmu hitam. Ia
memiliki sebuah mantra dimana mantra tersebut bisa membuat orang mati tanpa
merasakan sakit dan membiarkan arwah orang tersebut bergentayangan tanpa ada
batasan waktu. Awalnya semua nampak normal saja. Namun setelah satu tahun
berlalu, satu per satu para gadis menghilang. Sampai yang terakhir sahabatku
Lusiana. Sebelum menghilang, ia sempat menuliskan surat padaku. Ia menceritakan
tentang siapa Pak Randi dan Ibu Alda yang sebenarnya. Lalu ia memberikan padaku
kalung salib ini. Ternyata Pak Randi mengetahui surat yang diberikan Lusiana
kepadaku. Maka dengan ilmu hitamnya, ia mengurungku disini. Sampai akhirnya ”
Ucap Sania dengan sedih dengan ceritanya yang pilu.
Sania
menggantungkan kalimatnya. Ada bulir airmata yang keluar dari pelupuk matanya.
“San,
lanjutkan ceritamu. Mungkin aku bisa menolong!” Pinta Anita dengan serius.
“Aku
tak bertahan lama dalam ruangan ini. mereka sama sekali tak memberiku makan.
Aku pun mengidap asma. Hingga di bulan ke 6 aku menghembuskan napas terakhirku!”
Seru Wanita tua itu.
Anita
menjauhkan posisi duduknya dari Sania. Ia tak menyangka kini ia benar-benar
bertemu hantu. Ada sedikit ketakutan membanjiri dirinya. Ia setengah bergidik.
Ia takut tiba-tiba Sania mencekiknya hingga mati.
“Kamu
tak perlu takut Nita, kita sama. Hanya saja aku mati dengan jasad sementara kau
tidak!” Ucap Wanita tua itu.
“Apa
maksudmu?”Tanya Anita penasaran.
“Tak
ada satupun yang manusia bisa melihat banyak orang disini, kecuali mereka sudah
sama-sama mati dengan membaca mantra itu. Jika kamu sudah bertemu Amanda, itu
sama halnya kamu sudah seperti dia dan lainnya. Aku dan Ibu Alda mati karena
takdir Tuhan namun tetap kami belum bisa tenang karena jasad kami tak pernah
ditemukan” Jawab Wanita tua itu.
Anita
gemetar. Tubuhnya dibanjiri keringat. Ia tak percaya bahwa dirinya sudah mati.
“Pembohong!
Kamu ingin membohongiku San. Aku sudah menganggapmu sebagai sahabat, namun kamu
tega membohongiku!!” Ucap Anita.
“Cobalah
kamu keluar kamar. Ini pukul delapan pagi. Silahkan kamu nikmati mataharimu!”
Pinta Wanita tua itu.
Anita
berlari keluar kamar. Meninggalkan Sania di dalam kamarnya.
“Arrghhh!!
Sakitt!!” Teriak Anita.
Anita
berteriak, ia kesakitan, tubuhnya seperti terbakar. Ia kembali masuk ke dalam
kamar Sania.
“Sudah
percaya? Kamu takkan lagi bisa menikmati pagi, siang dan soremu. Kamu hanya bisa
menikmati malammu. Apakah kamu tak menyadari bahwa aku selalu menemanimu dimalam
hari? Apakah kamu tak menyadari Ibu Alda selalu mengenakan pakaian yang menutupi
tubuhnya? Ini takdir kita!” Ucap Wanita tua itu
Anita
menangis sesenggukan. ia menyesal membaca mantra itu. ia merasa bodoh. Ia tak
menyangka bahwa kini ia adalah hantu.
“Apakah
ada cara lain Sania?” Tanya Anita.
“Tak
ada, takkan pernah ada. Kamu, aku, juga mereka akan jadi penghuni asrama tua ini
selamanya. Selamat datang Anita. Selamat datang di asrama kita!” Jawab Wanita
tua itu.
TENTANG PENULIS

Penulis bernama Jamaludin Rifai lahir di Gorontalo 27 Juni 1986. Penulis berasal dari Provinsi Gorontalo. Penulis adalah anak ke 7 dari 7 orang bersaudara. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar penulis mempunyai bakat yaitu menulis dan mengarang. Penulis pernah kuliah di salah satu kampus yang berada di Gorontalo yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tahun 2011, penulis berhasil menjadi alumni Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Pada tahun 2015, penulis berhasil menamatkan pendidikannya S1.
Meski masih tergolong pada tahap awal belajar, penulis hobi membaca buku-buku novel horor, dan suka membaca buku-buku Bahasa Inggris, buku-buku motivasi, Penulis bercita-cita menjadi penulis yang terkenal melalui bukunya: MEREKA ADA DI SEKITAR KITA
Komentar
Posting Komentar