SETETES HIDAYAH 2
JAMALUDIN RIFAI, S.Pd.I
SETETES HIDAYAH 2
35 KISAH-KISAH KEHIDUPAN NYATA DAN PELAJARAN HIDUP, UNTUK KITA SEMUA MENJADI AKHLAK YANG MULIA.
BUKU PERSEMBAHAN
Saya Mengucapkan Terima Kasih Yang Sebesar-Besarnya Kepada:
1. Allah Swt Atas Segala Anugrah Dan Kesempatan Yang Sudah Diberikan
2. Kedua Orang Tua Atas Cinta Dan Kasih Sayang Yang Tak Pernah Putus Asa Dan Selalu Mendoakan Anak-Anaknya Agar Sukses Dan Selalu Bersabar, Berusaha, Selalu Rendah Hati.
3. Keluarga Besar Terutama Buat Kedua Kakakku, Mbak Suwarni Rivai, Mbak Masni Rivai Yang Telah Memberiku Motivasi Dan Dukungan Terhadap Saya.
4. Teman-Teman Sekolahku Dari Sd Sampai Perguruan Tinggi, Khususnya Para Sahabat-Sahabatku Alumni Fakultas Tarbiyah Program Study Pendidikan Bahasa Inggris: Mr Satarudin A.Tudu S.Pd.I, Bersama Mr Risky Paputungan, S.Pd.I, Yang Selalu Memberiku Motivasi Serta Nasihat-Nasihat Yang Membangun Juga,
5. Buat Guru-Guruku Serta Dosen-Dosenku Yang Tak Dapat Saya Sebut Satu Persatu, Yang Selalu Memberikan Ilmu Dan Motivasi Kepada Saya.
6. Orang-Orang Yang Sudah Meluangkan Waktu Membaca Karya-Karya Saya. Terima Kasih Banyak.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon ampunan hanya kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang mampu memberinya petunjuk. Kita bersaksi bahwa tidak ada yang mampu memberinya petunjuk. Kita bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan kita bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Pembaca yang budiman setetes hidayah, merupakan nikmat yang dianugerahkan Allah Azza wa Jalla kepada seorang hamba. Kebanyakan orang menemukan setetes hidayah, tatkala jiwanya sedang remuk redam disebabkan karena musibah yang sedang menimpanya. Musibah ini menumbangkan semua kesombongannya, meluluh-lantakkan ketidak peduliannya terhadap Allah dan syari’at-Nya. Ketika seorang hamba sudah berada di atas jurang kehancuran, Allah menahannya, lalu menuntunnya dengan kelembutan dan kasih-sayang-Nya. Akhirnya, hamba yang sombong ini terselamatkan, kembali kepada jalan Allah. Ini semua dikarenakan hidayah Allah. Terkadang Allah menundukkan kesombongan seorang hamba dengan membinasakan kekayaan, yang seorang hamba ini merasa memilikinya selama ini. Kesadaran muncul setelah api besar membakar rumahnya atau istananya, dan segala kekayaan yang ia peroleh dengan menghabiskan semua waktu dan masa mudanya yang hanya untuk mengumpulkan harta.
Terkadang Allah memaksanya untuk bersujud dan membaluri keningnya dengan tanah, setelah ia kehilangan orang-orang yang dicintainya. Kadangkala Allah memberi setetes hidayah kepada seseorang, setelah orang itu terjerat dalam kasus korupsi; setelah ia merasakan sempitnya penjara, dan pedihnya kehilangan jabatan. Maka ia tinggalkan dunia, dan ia kembali kepada Allah. Atau terkadang Allah menimpakan penyakit kepadanya, sehingga menyebabkan dirinya terbaring lemas. Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, ia tetap tergolek di atas kasur, setelah puluhan tahun dengan kesehatan yang dimilikinya ia melawan Allah, dengan selalu berbuat maksiat. Dia menyangka, seakan ia memiliki kekuatan. Mereka itu adalah orang-orang beruntung. Mereka menemukan jalan kembali, setelah diberi teguran oleh Dzat Maha Pencipta.
Penulis menyajikan buku dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan suguhan cerita yang menarik tentu akan menambah semangat anda. Penulis sadar SETETES HIDAYAH 2 ini masih jauh dari apa yang disebut dengan kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Walau demikian penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan SETETES HIDAYAH 2 ini dengan semua kemampuan yang penulis miliki.
Penulis
Jamaludin Rifai, S.Pd.I
DAFTAR ISI
BUKU PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
1. PERJALANAN AKHIR PEMUDA BERTATO............................................ 1
2. KUCING-KUCING MENGANTAR JENAZAH SANG NENEK................ 5
3. DHUHA TERAKHIR LELAKI SHALEH....................................................... 10
4. MENINGGAL SETELAH SUJUD DUA KALI.............................................. 15
5. DIPUKUL ORANG ASING SAAT HAJI........................................................ 19
6. TERTIPU SEMILYAR, TERGANTI SEPENUHNYA.................................. 23
7. SAKARATUL MAUT TRAGIS SANG PEMUDA........................................ 28
8. KISAH PILU PENYANYI RONGGENG........................................................ 33
9. JENAZAH TERIKAT RANTAI BESI............................................................. 38
10. ANUGERAH SELAPAS MENINGGALKAN MAKSIAT............................ 42
11. SHALAT TAHAJUD MENGANTARKANNYA KE BAITULLAH........... 47
12. BUTA MATA BUTA HATI............................................................................... 52
13. DUBUR JENAZAH MENGUCURKAN DARAH.......................................... 62
14. KULIT JENAZAH MENGERAS...................................................................... 68
15. JENAZAH PEMAKAI JIMAT, TANAH KUBUR LONGSOR.................... 74
16. TIGA LUBANG DIPENUHI TULANG........................................................... 80
17. AMARAH SANG IBU DAN MENINGGALNYA SANG PUTRI................ 84
18. MENINGGAL DALAM KONDISI TELANJANG........................................ 90
19. PENYESALAN SANG MARBOT
MASJID DAN MIMPI RASULULLAH........................................................... 95
20. JENAZAH MELEKAT DI KERANDA........................................................... 100
21. LUKISAN MASJID DI LANGIT DAN HAJI UNTUK SANG ISTRI......... 107
22. KISAH USTADZ YANG MENDAPAT TRANSFERS GAIB 25 JUTA...... 110
23. MENYEDEKAHKAN TABUNGAN HAJI,
MENDAPAT HADIAH ONH PLUS................................................................. 115
24. BISA NAIK HAJI DAN KAYA RAYA
SETELAH RAJIN MENGAMALKAN SHALAT DHUHA DAN SEDEKAH 117
25. BISA BERHAJI KARENA RUTIN SHALAT TAHAJUD............................ 119
26. IKHLAS BERSEDEKAH MENGANTARKAN
TUKANG BECAK KE TANAH SUCI BERSAMA KELUARGANYA..... 120
27. TUKANG REPARASI MESIN KETIK KESAMPAIAN
NAIK HAJI BERKAT SHALAT DHUHA...................................................... 124
28. HADIAH ISTIMEWA UNTUK KEDUA ORANG TUA............................... 128
29. IKHLASLAH DENGAN BERSEDEKAH....................................................... 130
30. SEDEKAHKAN HONOR MAIN
BAND MENGANTARKANNYA NAIK HAJI............................................... 136
31. RUTIN TAHAJUD MENDAPATKAN JODOH
YANG LEBIH BAIK DAN BISA BERHAJI................................................... 139
32. SEDEKAH JAM TANGAN BULGARY
BISA NAIK HAJI DAN SEMUA HUTANGNYA LUNAS............................ 141
33. RUTIN SEDEKAH RP. 100.000 RIBU SETIAP BULAN,
DIANGKAT DARI KESULITAN DAN BERHAJI SEKELUARGA.......... 143
34. SHALAT DHUHA DAN SEDEKAH,
KARIR SUKSES DAN BISA BERHAJI.......................................................... 146
35. SEDEKAH RP. 1 JUTA, ALLAH MENJAWAB DOANYA......................... 148
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................... 151
TENTANG PENULIS.................................................................................................. 152
PERJALANAN AKHIR PEMUDA BERTATO
Dari
hari yang terik, seorang pemuda datang tergopoh-gopoh mendekati mushala. Dengan
satu keyakinan yang kuat, ia melangkahkan kakinya menuju mushala itu. Sang
pemuda hanya mengenakan kaos oblong. Tato menghiasi sekujur lengan dan
tubuhnya. Ia mengenakan celana jeans yang sudah robek di lututnya. Setibanya di
pintu mushala, ia tatapi dinding-dinding atap luar bangunan mushala. Seperti
orang yang sedang mencari sesuatu. Kosong, tanpa pandangan yang jelas. Ia lihat
beberapa orang sedang shalat Zuhur berjamaah. “Astaghfirullah, sudah lama aku
meninggalkan shalat itu.” Gumamnya, pelan.
Perlahan-lahan
ia memasuki mushala kecil itu. Dan “Bruk!”. Tiba-tiba saja dia terjatuh dan
tersungkur ke lantai mushala. Tidak ada orang yang menghiraukannya, sebab
orang-orang tengah shalat berjamaah. Untuk beberapa menit lamanya, pemuda itu
tidak dihiraukan. Tidak ada yang memperhatikan. Setelah shalat berjamaah usai,
salah satu diantara jamaah menghampiri tubuh yang tersungkur. “Bangun! Ayo bangun.”
Teriaknya,sambil menepak-nepakkan tangannya ke wajah pemuda itu.
“Mabuk,
kali.” Sahut jamaah yang lain.
“Iya,
dia biasanya mabuk.” Sambung yang lainnya.
“Wah,
kalau begitu, angkat dan keluarkan dia dari mushala ini. Orang mabuk jangan
masuk ke mushala.”
Kemudian
dua orang mencoba membangunkan pemuda itu, bahkan ada yang mencoba menarik
kakinya keluar. Tapi, karena tubuh pemuda itu besar, dua orang itu tidak
sanggup menariknya.
“Ya
sudah, biarkan saja, kalau susah ditarik. Kita tunggu sadarnya saja.” Kata satu
di antara mereka.
Cukup
lama pemuda itu dibiarkan tidak sadarkan diri. Beberapa jamaah pun pulang.
Namun, diantara mereka ada yang tetap menunggu sambil mengobrol di mushala.
Setelah 30 menit tidak sadarkan diri, salah seorang jamaah kemudian berinisiatif
untuk kembali membangunkannya. Namun, tiba-tiba, ia sangat kaget. Pemuda itu,
ternyata masih warganya dan nampak seperti orang yang sudah meninggal dunia.
“Kok
aneh. Tidak ada napasnya. Denyut nadinya juga berhenti.” Kontan saja mereka
merubungi lelaki itu dan memastikan apakah pemuda itu sudah tidak bernyawa atau
masih hidup. Tanpa pikir panjang, tubuh pemuda itu diangkat secara bersama-sama
keluar. Warga hendak membawanya ke rumah sakit untuk memastikan apa yang telah
terjadi dan yang menimpa pemuda itu.
Setelah
diperiksa pegawai medis, diketahui bahwa pemuda itu sudah tidak bernyawa lagi.
Dia sudah menghembuskan napasnya yang terakhir, bersamaan dengan ia terjatuh
dan tersungkur di lantai mushala itu. Dokter menyebut bahwa laki-laki itu
terkena serangan jantung mendadak. Penyakit yang diderita pemuda itu mungkin
sudah lama, tapi jarang atau bahkan tidak pernah diperiksa ke dokter. Pihak
keluarga juga mengiyakan bahwa pemuda itu memang belakangan mengaku sering
mengalami rasa sakit di sekitar dadanya.
Pemuda
itu adalah warga di kampung. Letaknya tak jauh dari kampungnya. Pemuda itu
sendiri bernama Reihan (Nama samaran 30 tahun). Meski sudah kepala tiga, pemuda
itu belum menikah. Dan ia anak ketiga dari pasangan Pak Lubis (Nama samaran)
dan Ibu Lusi (Nama samaran). Kedua orangtuanya bekerja sebagai pedagang toko
sembako di pasar. Sehari-hari, Reihan beraktivitas sebagai tukang bengkel.
Bengkelnya tak jauh dari pasar. Ia punya satu anak buah. Biasanya ia berganti
menjaga bengkelnya dengan anak buahnya itu.
Reihan
dikenal warga sebagai pemuda yang urakan. Suka minum-minuman beralkohol,
berjudi, bertato, dan sering balapan motor liar. Orangtuanya sudah
membebaskannya. Mereka sudah tidak sanggup lagi. Mengingatkan dan
menasehatinya. Reihan pun bebas melakukan apa saja, karena hal itu adalah
kehidupannya.reihan pernah masuk sel selama sebulan, lantaran terlibat balap
liar. Dia juga pernah terlibat balapan liar. Dia juga pernah terlibat tawuran
dengan kampung pemuda lain. Hanya karena rebutan wanita. Ia sampai masuk rumah
sakit karena mengalami luka-luka yang sangat serius. Meski tergolong pemuda
urakan, solidaritas Reihan tinggi dan sangat menghargai kawan-kawannya.
Pernah
suatu hari, kawananya bertaubat dan tidak mau minum-minuman keras. Keputusan
kawannya itu ia dukung, meskipun ia tidak mau meninggalkan kebiasaannya itu.
Sebagai bentuk dukungan kepada keputusan kawannya itu, ia marah bila ada kawan
lain yang tetap mengajaknya untuk minum-minuman. Menurutnya, orang yang sudah
bertaubat hendaknya tetap didukung. Pada suatu hari, temannya itu namanya Aldi
(Nama samaran) berkunjung ke rumahnya. Tujuannya tak lain adalah untuk
mengajaknya bertaubat dan meninggalkan kebiasaan minum-minuman dan berjudi. Apa
kata Reihan kala itu “Kalau kamu sudah menemukan jalan hidup yang benar, jalani
saja. Saya belum bisa mengikuti jejekmu. Saya hanya akan bertaubat bila saya
menemukan sesuatu yang luar biasa dalam hidupku.”
“Apa
yang luar biasa itu Reihan?” Tanya Aldi.
“Saya
anggap sesuatu itu luar biasa bila merasa nyaman dan tenang melangkahkan kakiku
menuju tempat ibadah. Bila Saya sudah menemukan itu, saya rela mati.” Tutur
Reihan kepada rekannya itu. Perkataan itulah yang kemudian Aldi ingat tatkala
ia mendengar Reihan sudah meninggal dunia. Ia mencoba dengan kabar meninggalnya
Reihan di dalam mushala dalam keadaan tidak untuk shalat. Meninggalnya Reihan
di dalam mushala membuat spekulasi dan multitafsir banyak orang. Ada yang
menganggap bahwa Reihan meninggal karena kebetulan saja. Bisa jadi karena dia
ingin buang air kecil di mushala, karena tidak mungkin dia mau shalat sedangkan
dia mengenakan kaos oblong dan celana jeans robek-robek. Ada pula yang menilai
bahwa Reihan meninggal tidak secara kebetulan, tapi memang ia diistimewakan
oleh Allah. Ia hendak bertaubat sehingga masuk ke dalam mushala.
Pada
dua penilaian dan asumsi ini, Aldi sendiri punya pandangan lain. Ia menilai
bahwa Reihan memang diistimewakan oleh Allah. Keistimewaan itu tentu saja tidak
datang secara tiba-tiba. Kedatangannya ke mushala dan hendak bertaubat adalah
perjalanan panjang batinnya. Pertama, menurut Aldi, meskipun Reihan masih tetap
suka mabuk dan judi, tapi dia sangat mendukung upaya taubat yang dia jalani.
Reihan berharap bahwa dirinya dapat bertaubat dengan sungguh-sungguh. Kedua,
Reihan pernah bercerita bahwa dia akan bertaubat bila menemukan ketenangan dan
kesejukan hati saat menuju tempat ibadah. Nah, bisa jadi Reihan merasakan
kondisi itu pada saat dia masuk ke mushala. Ketiga, apa yang dialami Reihan ini
hampir mirip dengan kisah dalam kitab Nashaih Al-Ibad, seorang pemuda yang
berjalan menuju pintu taubat, namun ia meninggal dunia saat berada di dalam
perjalanan.
Pada
saat itu, malaikat bingung untuk menentukan apakah laki-laki itu layak
dimasukan ke dalam surga atau neraka. Karena, sepanjang hayatnya pemuda itu
meninggal dalam perjalanan menuju taubat kepada Allah. Artinya, niat taubatnya
itu dihitung sebagai kebaikan yang luar biasa. Allah kemudian menyuruh malaikat
untuk memasukan laki-laki itu ke dalam surga, karena laki-laki itu sudah berniat
dengan tulus untuk bertaubat dan jarak perjalanan menuju pintu taubat lebih
dekat dari jarak dia biasa bermaksiat. Dari tiga hal yang dikemukakan Aldi
tersebut semoga saja salah satunya adalah benar-benar dilakukan Reihan. Jika
memang ia sudah punya niatan untuk bertaubat dari dulu, maka secara hati dia
sudah punya itikad baik. Oleh karenanya Allah kemudian membukakan pintu
taubatnya dengan cara menggerakan hati Reihan untuk mendatangi mushala, tempat
ibadah; simbol bangunan ketaatan kepada Allah swt. Wallahu a’lam bilshawab.
(Demi
menjaga kerahasiaan dan nama baik, semua nama pelaku/ kecuali nama tempat, yang
tercantum dalam kisah iktibar ini telah di samarkan. Selebihnya, kalau ada
kesamaan itu hanyalah kebetulan belaka, dan tidak ada maksud untuk merugikan
dan mencemarkan nama baik. Kalau ada kesalahan maka dengan ini permintaan maaf
secara ikhlas. Demikian pemberitahuan ini di sampaikan agar dimaklumi)
KUCING-KUCING MENGANTAR
JENAZAH SANG NENEK
Perempuan
dengan rambut putih itu duduk seorang diri di sebuah gubuk. Tidak ada seorang
pun yang menemaninya. Tidak ada suami. Tak ada pula sanak saudara. Sehari
semalam, ia hanya bertemankan kucing-kucing yang sangat disayanginya. Miris
sekali nasibnya! Di usianya yang sudah renta, seharusnya ia hidup bahagia
bersama anak dan cucunya. Tapi, semua itu tak ada disisinya. Kemana
anak-anaknya? Kemana pula cucu-cucunya? Dimana juga suaminya? Setiap hari,
nenek itu menghabiskan waktunya di gubuk itu. Tidak makan sehari sudah biasa
baginya. Kini, baginya, makanan apapun terasa sangat berharga. Tidak perlu
makan pakai telur dadar atau ayam goreng, apalagi seafood. Makan dengan oreg
(tempe) dan ikan asin pun sudah cukup baginya. Bahkan, kalau hanya pakai nasi
dan sambal pun sudah cukup baginya dan tetap dimakannya.
Cukup
satu kata menggambarkan nenek itu di usia senjanya. Sebatang kara, tidak ada
pekerjaan yang bisa ia kais untuk mendapatkan rezeki, kecuali hanya
mengumpulkan sampah-sampah yang ditemuinya tak jauh dari gubuknya. Tenaganya sudah
tak kuat lagi untuk berjalan jauh. Sampah-sampah itu dikumpulkan dan dijualnya
hingga mendapatkan uang cukup untuk sebungkus nasi. Satu kilo sampah senilai
tak lebih dari 10 ribu rupiah. Bayangkan nenek itu harus mengumpulkan plastik
bekas minuman ringan, kaleng, kardus dan apa saja yang bisa dikumpulkan dan
dijual kembali. Dengan tubuh nenek yang ringkih dan tak bertenaga lagi,
beberapa hari ia bisa mengumpulkan sampah sekilo. Tidak lagi hitungan hari,
bahkan sebulan pun kadang tak bisa ia lakukan. Lalu, bagaimana ia bisa makan dan
minum untuk bertahan hidup?
Belas
kasih orang lain. Ya, nenek itu hanya berharap pada belas kasih tetangganya
yang punya hati nurani. Kok bisa? Sebab, banyak pula tetangganya yang berduit
tapi tak punya hati nurani. Hidupnya hanya untuk keluarganya sendiri. Hidupnya
hanya untuk memenuhi perut dan kepentingan sendiri. Ada seorang nenek yang
sangat membutuhkan tak jauh darinya yang tak pernah dihiraukannya. Demikian
kebanyakan hidup di daerah perkotaan yang ganas itu. Jika tak ada tetangga yang
memberinya makan dan minum, otomatis ia pun tak makan. Bayangkan saja, sudah
ringkih, kurus, dan lemah, tak makan lagi. Apa yang akan terjadi dengan
tubuhnya? Pasti sakit. Ya, tentu saja. Nenek itu seringkali sakit dan sembuh
juga dengan sendirinya, tanpa diobati. Dalam sebulan, pasti saja nenek itu
pernah sakit. Terkadang, yang jadi pertanyaan, kenapa tidak seorang pun yang
berusaha menariknya ke dalam rumah dan menjadikannya sebagai bagian dari
keluarganya? Dengan begitu, ia akan bisa makan dan minum sehari-hari dan tidak
usah repot lagi mengais-ngais sampah untuk mendapat keping-keping receh.
Ah,
zaman sekarang sulit sekali mencari orang yang benar-benar berempati terhadap
orang lain, apalagi terhadap nenek-nenek. Yang dipikirkan mereka selalu uang
dan uang. Mengurus nenek-nenek yang bukan keluarganya hanya akan merugikan diri
mereka sendiri. Uang keluar dan waktu tersita banyak untuk memperhatikannya.
Dengan kata lain, mereka akan berkata, “Seharusnya negara dong yang mengurus
nenek itu, bukan saya.” Betul jika negara tidak mau mengambil alih, kenapa
bukan kita. Bukankah membantu nenek yang hidupnya sebatang kara adalah sedekah.
Dan sedekah, kata agama, pahalanya sangat besar dan tidak pernah rugi bagi yang
melakukannya. Uang yang kita sumbangkan atau salurkan untuk membantu orang lain
tampaknya akan mengurangi tabungan kita, tapi kenyataannya tidaklah seperti
itu. Uang yang kita keluarkan untuk sedekah itu akan diganti oleh Allah dalam
keadaan yang jauh lebih banyak.
Faktanya
tidaklah seperti itu. Banyak orang yang mengabaikan kebenaran agama ini. Dan
nenek yang diketahui bernama Hadijah (Nama samaran) itu menjadi salah satu
korbannya. Sebuah korban dari arogansi seseorang yang berduit dan mampu, tapi
tak punya empati. Jika punya kekuatan untuk berteriak, sudah lama nenek itu
pasti ingin berteriak memperjuangkan keadilan dirinya. Tapi, tak ada yang bisa
dilakukannya. Kalaupun ia bisa melakukannya, percuma juga. Pasti tak ada orang
yang memperhatikannya. Nenek itu memang terkadang masih bisa makan. Tapi,
sekali lagi, itu pun hanya berharap pada bantuan orang lain atau tetangganya.
Dan kita tahu sendiri, kalau membatu pasti sifatnya tidaklah permanen.
Terkadang ia membantu dan terkadang tidak, tidak setiap hari. Sedangkan untuk
makan dan minum harus setiap hari, dan tak cukup sekali saja. Idealnya, dalam
sehari seseorang harus makan dua kali, pagi dan sore atau siang dan agak malam.
Orang
tidak makan dalam sehari pasti akan terkena penyakit dan itulah yang sering
dialami oleh sang nenek. Hebatnya, di tengah kelaparan yang melandanya, nenek
itu masih punya jiwa welas asih kepada kucing-kucing yang hidup bersamanya.
Saat ia mendapatkan makanan dari orang lain, tak sungkan-sungkan ia berbagi
kepada kucing-kucing yang jumlahnya sekitar lima ekor itu. Bayangkan, nasi
sebungkus dibagi antara dirinya dan lima ekor kucing. Berapa sendok makan jatah
untuk dirinya sendiri. Dalam sebungkus nasi, tak lebih ia bisa menikmati 7-8
sendok makan. Sedikit sekali. Itu pun tak rutin ia lakukan. Ah, sungguh sedih
sekali mendengarnya. Suatu ketika, seorang tetangga menghampiri rumahnya,
hendak memberi makan dan minum.
Diketuk-ketuk
pintu gubuk rumahnya. Tak ada jawaban. Berkali-kali diketuk sambil
dipanggil-panggil namanya. “Nek! Nek!” Tapi, nenek itu tidak menjawab. Merasa
curiga, tetangga itu pun memeriksa masuk. Sampai di dalam ia sangat terkejut
melihat beberapa ekor kucing berdiri mengelilingi nenek yang terbujur kaku di
tempat pembaringannya yang sangat sederhana. Ia pun menghampiri nenek itu dan
menggoyang-goyangkannya “Nek! Nek!.” Tetangga itu terus memanggilnya sambil
menggoyang-goyang tubuhnya. Tetap tidak bergerak. Apakah ia telah meninggal
dunia? Seketika tetangga itu berteriak. “Tolong! Tolong!” ia secepat kilat
keluar dari gubuk itu dan memanggil-manggil orang.” Nenek meninggal dunia!
Nenek meninggal dunia!” Tak berapa lama
kemudian warga pun datang. Mereka terkejut melihat nenek sudah terbujur kaku di
pembaringannya. Mereka pun banyak bertanya, “Penyakit apa yang menimpa nenek
itu sehingga membuatnya meninggal dunia?”
Tak
ada yang tahu persis tentang penyebab kematiannya. Namun, menurut tetangga yang
sering memberinya makan, beberapa hari sebelumnya sang nenek memang mengeluh
agak demam. Oleh tetangga, nenek itu hanya diberi obat demam biasa, tidak dibawa
ke dokter. Setelah itu, ia pun lepas kontrol dari tetangganya. Warga pun
berkesimpulan, bisa jadi penyakit demam itulah yang menyebabkan nenek meninggal
dunia. Jenazah nenek pun diurusnya mulai dari dimandikan, dikafani hingga
dikuburkan. Yang jelas, tidak ada sanak saudara yang datang menjenguknya.
Hidupnya sangat sebatang kara. Pengurus jenazahnya pun merupakan kolekan/
patungan dari tetangga dan warga yang menjenguknya. Namun, yang menjadi
pemandangan ganjil adalah sejak meninggal kucing-kucing milik nenek itu tak mau
pergi jauh dari pemiliknya. Kucing-kucing itu terus mengelilinginya. Ketika
diusir pergi, mereka datang lagi dan seterusnya hingga jenazah nenek diantar ke
kuburan.
Tampaknya
kucing-kucing itu merasakan duka yang mendalam dengan kepergian sang nenek.
Jika mereka bisa berbicara mungkin akan mengatakan, “Nek, setelah kamu pergi,
siapa lagi yang akan memberi kami makan. Kamu berhati mulia, Nek! Meski kamu
sendiri mendapat makanan dari bantuan orang lain, tapi kamu tidak lupa
membagikannya kepada kami. Semoga arwahmu tenang di alam sana Nek.” Jenazah
nenek pun akhirnya diantar ke kuburan. Herannya, saat jenazah itu di antar ke
kuburan, kucing-kucing itu terus mengikutinya.
Orang-orang
pun keheranan. Bahkan, hingga proses penguburan selesai kucing-kucing itu tetap
mengintari kuburan nenek hingga malam tiba. Kucing-kucing itu bubar
satu-persatu. Entahlah, setelah kepergian nenek, bagaimana nasib kucing-kucing
itu? Apakah mereka tetap tinggal di gubuk milik majikannya ataukah mencari
majikan baru? Tak ada yang tahu persis. Yang jelas, kisah nenek dan
kucing-kucingnya itu bisa menjadi pelajaran binatang kapan saja. Kasih sayang
kita yang tulus kepada binatang membuat mereka pun merasa kehilangan ketika
kita telah pergi. Jika manusia punya rasa, tampaknya binatang pun demikian.
(Demi
menjaga kerahasiaan dan nama baik, semua nama pelaku/ kecuali nama tempat, yang
tercantum dalam kisah iktibar ini telah di samarkan. Selebihnya, kalau ada
kesamaan itu hanyalah kebetulan belaka, dan tidak ada maksud untuk merugikan
dan mencemarkan nama baik. Kalau ada kesalahan maka dengan ini permintaan maaf
secara ikhlas. Demikian pemberitahuan ini di sampaikan agar dimaklumi.)
DHUHA TERAKHIR LELAKI SHALEH
Menjelang
Shubuh, lelaki yang biasa disapa Pak Sugiman (Nama samaran) itu sudah bersiap
diri ke masjid. Ia memang selalu datang lebih awal dari jamaah lainnya.
Biasanya, suaranya yang agak serak itu melantunkan shalawat dengan sempurna dan
irama yang naik turun di speaker masjid, sebuah bukti bahwa kecintaannya kepada
manusia yang paling mulia dan sempurna di jagat ini, Nabi Muhammad saw.
Sehari-hari, Pak sugiman bersifat sederhanan dan suka tolong-menolong, pertanda
bahwa ia juga sangat mencintai hubungan antar manusia, selain hablum
minallah/hubungan kepada Allah, yang menjadi pokok utama. Apa yang dilakukan
Pak Sugiman itu menjadi satu kebanggaan bukan hanya segi keluarganyam tapi juga
para tetangga dan jamaah masjid. Tentu saja, sikap dermawan Pak sugiman menjadi
kegembiraan bagi orang-orang yang kerap mendapatkan bantuan, meski tidak
seberapa. Namun, mereka merasa, yang sedikit diberikan Pak Sugiman itu sebegitu
berartinya dan berkah.
Pak
Suroso (Nama samaran) merasakan kedermawaan Pak Sugiman tidak hanya sekali.
Terkahir ketika dirinya mendapatkan peringatan terakhir dari petugas Perusahaan
Listrik Negara agar segera melunasi tagihan listriknya, Pak Sugiman yang
membantu. “Jika Pak Suroso tidak melunasinya sampai siang ini, maka besok pagi
aliran listrik ke rumah bapak akan diputus.” Begitu petugas PLN memperingati
melalui surat yang diberikan secara langsung pada Pak Suroso dengan tegas,
sebab sebelumnya petugas itu telah memperingati melalui surat yang diberikan
secara langsung pada Pak Suroso. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Pak
Suroso. Dia hanya memperlihatkan wajah kebingungan sampai petugas PLN
meninggalkannya dan berganti dengan kehadiran Pak Sugiman yang bertanya dengan
suara ramah.
“Jangan
terlalu bingung Pak Suroso. Insya Allah saya dapat membantu kesuliatan Bapak.”
Ucapan Pak Sugiman begitu menyejukkan. Kata-katanya itu tak ubahnya seperti
segelas air yang diberikan kepada orang yang tengah kehausan. Saat air itu
terteguk, bukan hanya tenggorokan yang terasa sejuk, tapi juga terasa damai dan
lapang dadanya.
“Benarkah
Pak sugiman?” Pak Suroso menyesal telah melontarkan pertanyaan itu. Ia
tersadar, sebenarnya ia cukup tahu kalau Pak Suroso itu seorang yang amanah
dengan perkataannya. Jadi tak ada alasan untuk meragukan ucapan lelaki
sederhana itu.
Pak Sugiman menanggapi pertanyaan Pak Suroso
menanggapi pertanyaan Pak Suroso dengan sesungging senyum. “Maaf, kalau boleh
tahu, berapa besar tagihan yang harus Bapak lunasi?”
Pak
Suroso menyebutkan angka tagihan rekening listriknya. “Alhamdulilah, sepertinya
uang yang ada di rumah cukup untuk menutup tagihan itu,” Ujar Pak Sugiman. “Pak
Suroso mau ikut ke rumah atau saya antar ke sini uangnya?”
Pak
Suroso merasa tak enak mendengar pertanyaan itu. Dia yang membutuhkan, kenapa
Pak Sugiman yang mengantar? “Tidak Pak, biar saya saja yang ikut ke rumah
Bapak,” Ucap Pak Suroso akhirnya.
Begitulah meski hidup dalam kesederhanaan, Pak
Sugiman kerap dapat meringankan kesusahan orang-orang yang dikenalnya. Kabar
wafatnya Pak Sugiman seperti bunyi petir di tengah hari. Semua terkejut. Semua
nyaris tak percaya dan semua merasa kehilangan jika kabar itu benar adanya.
“Ayo kita ke rumah Pak Sugiman sekarang juga” Ajak salah satu jamaah masjid
yang sangat mengenal Pak Sugiman.
“Ayo.”
Sambut jamaah lain.
“Semoga
kabar itu hanya isapan jempol saja.” Tambahnya.
“Iya.
Shubuh tadi Pak Sugiman masih menggemakan Adzan dengan baik. Dia juga terlihat
sehat-sehat saja.” Timpal yang lain.
Setelah
itu. Beberapa jamaah tanpa bercakap lagi langsung bergerak menuju rumah Pak
Sugiman. Sungguh, mereka hampir tidak percaya karena selembar bendera kuning
yang berkibar di tiang jemuran rumah Pak Sugiman menjawab kabar duka itu.
“Inna
lillahi wa inna ilaihi raji’uun.” Ucapan itu berbunyi secara serempak. Tampak
sajah sedih dari orang-orang yang menyayangi Pak Sugiman. Mereka merasa sangat
kehilangan dan tak akan pernah lagi mendengar suara serak Pak Sugiman saat
melantunkan Adzan. Selepas Shubuh itu, sepulang shalat berjamaah di masjid,
tiba-tiba Pak Sugiman minta dibuatkan pisang goreng dan secangkir kopi pahit
pada istrinya. “Sudah lama juga saya tidak mencicipi pisang goreng dan kopi
pahit.” Ujarnya. Padahal sebelum-belumnya dia selalu membuat sendiri minuman
untuknya. Ia tidak ingin merepotkan istrinya. Jika masih bisa melakukan
pekerjaannya sendiri, dia tidak akan meminta bantuan istrinya, apalagi orang
lian.
“Tidak
biasanya meminta dibuatkan kopi dan pisang goreng.” Ujar istrinya, berseloroh.
“Iya.
Setelah ini saya berencana pergi jauh.” Jawab Pak sugiman.
“Kemana?”
Tanya istrinya sedikit keheranan.
Pak
Sugiman tertawa. Kemudian bangkit dari duduknya. “Saya akan shalat Dhuha dulu
yah. Kopi dan pisang gorengnya taruh saja di atas meja.”
Meski
keheranan. Istri Pak Sugiman tidak mengorek jauh ucapan suaminya yang
dianggapnya aneh. Ia sangat mengerti suaminya itu langsung saja masuk dapur,
membuatkan kopi dan pisang goreng. Sementara Pak Sugiman langsung masuk ke
dalam kamar untuk melaksanakan shalat Dhuha. Pak Sugiman tak perlu masuk ke
kamar kecil untuk mengambil wudhu, sebab ia selalu menjaga wudhunya dari satu
waktu ke waktu lainnya. Pagi perlahan beranjak siang. Matahari terus bergerak
menuju titik di atas kepala. Kegiatan dihari itu berjalan tanpa ada kabar yang
membingungkan. Istri Pak Sugiman juga melakukan aktivitas tanpa ada firasat
buruk.
Namun
perasaan tidak enak tiba-tiba mengusik hatinya. Hal itu dirasakan ketika
suaminya tak kunjung ke luar kamar. Padahal, seperti biasanya, setelah shalat
Dhuha, Pak Sugiman keluar kamar dan
duduk-duduk diberanda sebentar sambil berzikir, seterusnya pergi ke sawah. Tapi
hari itu, istrinya merasa hatinya agak gundah saat suami tak kunjung keluar
kamar. Ada keinginan untuk masuk, namun khawatir mengganggu ibadah suaminya.
Namun setelah menunggu sekian lama, akhirnya ia memberanikan diri masuk ke
kamar. Ketika masuk, sang istri langsung melihat Pak Sugiman terbaring masih
mengenakan pakaian shalat. Wajah Pak Sugiman terlihat sumringah, tampak
membiaskan senyum.
“Rupanya
kamu tertidur Pak.” Begitu kata hati istrinya. Karena kebiasaan Pak Sugiman
pergi ke sawah setelah shalat Dhuha, maka istrinya pun segera membangunkannya
dengan panggilan lembut. Tiga kali panggilannya tidak mendapat respon. Kemudian
mencoba membangunkannya dengan menyentuh bahunya perlahan-lahan, tapi tetap
juga tak ada reaksi. Istri Pak Sugiman pun merasakan ketakutan yang menyeruak.
Kemudian ia mendekatkan dua jari tangannya ke lubang hidung Pak Sugiman dan tak
dirasakan hembusan udara dari situ.
Istri
Pak Sugiman semakin khawatir. Ia kembali memeriksa denyut nadi di pergelangan
tangan suaminya, ia tetap tidak menemui tanda kehidupan. “Inna lillahi wa inna
ilaihi raji’un.” Ucapannya, pelan dan merintih. Ia merasa kehilangan begitu
dalam. Tapi, ia merasa bangga. Begitu indah detik-detik akhir yang dialami
suaminya. Yah, lelaki sederhana yang shaleh itu masih dapat merasakan shalat
Dhuha terkahirnya, sebelum ajal menjemputnya.
(Demi
menjaga kerahasiaan dan nama baik, semua nama pelaku/ kecuali nama tempat, yang
tercantum dalam kisah iktibar ini telah di samarkan. Selebihnya, kalau ada
kesamaan itu hanyalah kebetulan belaka, dan tidak ada maksud untuk merugikan
dan mencemarkan nama baik. Kalau ada kesalahan maka dengan ini permintaan maaf
secara ikhlas. Demikian pemberitahuan ini di sampaikan agar dimaklumi.)
TENTANG PENULIS
Penulis
bernama Jamaludin Rifai lahir di Gorontalo 27 Juni 1986. Penulis berasal dari Provinsi Gorontalo. Penulis
adalah anak ke 7 dari 7 orang bersaudara. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar penulis
mempunyai bakat yaitu menulis dan mengarang. Penulis pernah kuliah di salah
satu kampus yang berada di Gorontalo yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo pada
tahun 2011, penulis berhasil menjadi alumni Fakultas Tarbiyah, Program Studi
Pendidikan Bahasa Inggris. Pada tahun 2015, penulis berhasil menamatkan
pendidikannya S1.
Meski masih tergolong pada tahap
awal belajar, penulis hobi membaca buku-buku dunia novel Horor, dan suka
membaca buku-buku Bahasa Inggris, buku-buku motivasi, Penulis bercita-cita
menjadi penulis yang terkenal melalui bukunya: SETETES HIDAYAH 2
Penulis dapat di hubungi melalui email : jamaludinrifai442@gmail.com
No HP: 085340008577
Komentar
Posting Komentar