SETETES HIDAYAH
JAMALUDIN RIFAI, S.Pd.I
SETETES HIDAYAH
36 KISAH-KISAH KEHIDUPAN NYATA DAN PELAJARAN HIDUP UNTUK KITA SEMUA MENJADI AKHLAK YANG MULIA
BUKU PERSEMBAHAN
Saya Mengucapkan Terima Kasih Yang Sebesar-Besarnya Kepada:
1. Allah Swt Atas Segala Anugrah Dan Kesempatan Yang Sudah Diberikan
2. Kedua Orang Tua Atas Cinta Dan Kasih Sayang Yang Tak Pernah Putus Asa Dan Selalu Mendoakan Anak-Anaknya Agar Sukses Dan Selalu Bersabar, Berusaha, Selalu Rendah Hati.
3. Keluarga Besar Terutama Buat Kedua Kakakku, Mbak Suwarni Rivai, Mbak Masni Rivai Yang Telah Memberiku Motivasi Dan Dukungan Terhadap Saya.
4. Teman-Teman Sekolahku Dari Sd Sampai Perguruan Tinggi, Khususnya Para Sahabat-Sahabatku Alumni Fakultas Tarbiyah Program Study Pendidikan Bahasa Inggris : Mr Satarudin A.Tudu S.Pd.I, Bersama Mr Risky Paputungan, S.Pd.I, Yang Selalu Memberiku Motivasi Serta Nasihat-Nasihat Yang Membangun Juga,
5. Buat Guru-Guruku Serta Dosen-Dosenku Yang Tak Dapat Saya Sebut Satu Persatu, Yang Selalu Memberikan Ilmu Dan Motivasi Kepada Saya.
6. Orang-Orang Yang Sudah Meluangkan Waktu Membaca Karya-Karya Saya. Terima Kasih Banyak.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon ampunan hanya kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang mampu memberinya petunjuk. Kita bersaksi bahwa tidak ada yang mampu memberinya petunjuk. Kita bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan kita bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Pembaca yang budiman, setetes hidayah merupakan nikmat yang dianugerahkan Allah Azza wa Jalla kepada seorang hamba. Ia merupakan salah satu nikmat yang agung dari sekian banyak nikmat. Dan nikmat hidayah, adalah nikmat yang bernilai istimewa. Hidayah merupakan sentuhan lembut Ilahi, yang akan mengantarkan seorang hamba kepada pantai kebahagiaan. Ia merupakan wujud kasih-sayang Ilahi, sehingga seorang hamba tidak terjatuh ke dalam jurang kesalahan dan kesengsaraan. Ia menuntun seorang hamba yang dikuasai hawa nafsu, sehingga menjadi terbimbing kepada kehendak Dzat Yang Maha Kuasa. Maknanya, Allah tidak membiarkan seorang hamba berada dalam kesendirian ketika mencari kebenaran. Akan tetapi, tanganNya menuntunnya ke arah yang Dia ridhai.
Kebanyakan orang menemukan hidayah, tatkala jiwanya sedang remuk redam disebabkan karena musibah yang sedang menimpanya. Musibah ini menumbangkan semua kesombongannya, meluluh-lantakkan ketidakpeduliannya terhadap Allah dan syari’atNya. Ketika seorang hamba sudah berada di atas jurang kehancuran, Allah menahannya, lalu menuntunnya dengan kelembutan dan kasih-sayang-Nya. Akhirnya, hamba yang sombong ini terselamatkan, kembali kepada jalan Allah. Ini semua dikarenakan hidayah Allah. Terkadang Allah menundukkan kesombongan seorang hamba dengan membinasakan kekayaan, yang seorang hamba ini merasa memilikinya selama ini. Kesadaran muncul setelah api besar membakar rumahnya atau istananya, dan segala kekayaan yang ia peroleh dengan menghabiskan semua waktu dan masa mudanya yang hanya untuk mengumpulkan harta.
Terkadang Allah memaksanya untuk bersujud dan membaluri keningnya dengan tanah, setelah ia kehilangan orang-orang yang dicintainya. Kadangkala Allah memberi hidayah kepada seseorang, setelah orang itu terjerat dalam kasus korupsi; setelah ia merasakan sempitnya penjara, dan pedihnya kehilangan jabatan. Maka ia tinggalkan dunia, dan ia kembali kepada Allah. Atau terkadang Allah menimpakan penyakit kepadanya, sehingga menyebabkan dirinya terbaring lemas. Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, ia tetap tergolek di atas kasur, setelah puluhan tahun dengan kesehatan yang dimilikinya ia melawan Allah, dengan selalu berbuat maksiat. Dia menyangka, seakan ia memiliki kekuatan. Mereka itu adalah orang-orang beruntung. Mereka menemukan jalan kembali, setelah diberi teguran oleh Dzat Maha Pencipta.
Penulis menyajikan buku dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan suguhan cerita yang menarik tentu akan menambah semangat anda. Penulis sadar SETETES HIDAYAH ini masih jauh dari apa yang disebut dengan kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Walau demikian penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan SETETES HIDAYAH ini dengan semua kemampuan yang penulis miliki.
Penulis
Jamaludin Rifai, S.Pd.I
DAFTAR ISI
BUKU PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
1. MATI SURI.......................................................................................................... 1
2. JENAZAH DIRUBUNGI BELATUNG............................................................ 4
3. JASAD TIDAK HANGUS TERBAKAR......................................................... 9
4. AZAB MELEMPAR AL-QUR’AN................................................................... 14
5. TENGGELAM KARENA MENDUSTAI ORANG TUA.............................. 18
6. SEJUK NAN INDAH DI RAUDHAH............................................................... 26
7. KEKUATAN SEDEKAH................................................................................... 31
8. MAMAT DAN KOTAK AMAL........................................................................ 35
9. KEAJAIBAN SHALAT HAJAT....................................................................... 39
10. AKIBAT MERAMPAS HARTA SAUDARANYA SENDIRI....................... 43
11. DI MEKKAH GILA MASUK RUMAH SAKIT JIWA.................................. 48
12. MUKJIZAT SEDEKAH SETELAH IJAB QABUL....................................... 51
13. AZAB DAN TAUBAT......................................................................................... 54
14. AZAB LELAKI DURHAKA.............................................................................. 59
15. TRAGIS DI MALAM IDUL ADHA................................................................. 63
16. GEMAR BERAMAL SHALEH......................................................................... 68
17. TERLEMPAR SAAT MENUNAIKAN IBADAH HAJI................................ 75
18. SEDEKAH MENGHILANGKAN SAKIT GINJALNYA............................. 76
19. MENJEMPUT MAUT DENGAN TANGAN MENCAKAR......................... 81
20. AZAB SANG LINTAH DARAT........................................................................ 85
21. AZAB SANG PELACUR PENUH BOROK.................................................... 88
22. PERUT MELEPUH MENJELANG AJAL...................................................... 93
23. KISAH SEORANG SUPIR YANG DUA KALI UMRAH............................. 100
24. SEDEKAH KECIL BERBUAH BESAR DI TANAH HARAM.................... 104
25. HIKAYAT KUBURAN AMBLAS.................................................................... 107
26. BAGAIKAN KACANG YANG LUPA PADA KULIT.................................. 110
27. AKHIR HAYAT SI TAJAM LIDAH................................................................ 114
28. EMPAT KALI HADAPI SIKSA SAKARATUL MAUT............................... 119
29. HIKAYAT HAJI KIKIR DI TANAH SUCI..................................................... 124
30. SEDEKAH MENYELAMATKANNYA DARI MEJA HIJAU..................... 127
31. MENAMPAR BUNDA MENUAI BUTA......................................................... 131
32. WASIAT ISTRI DURHAKA............................................................................. 135
33. HIKAYAT IBU YANG TAK AKUR DENGAN TETANGGANYA........... 141
34. DUA KAKINYA PUTUS AKIBAT MENENDANG IBU.............................. 145
35. BERKAT TAHAJUD SANG GURU MENGAJI NAIK HAJI...................... 149
36. SEDEKAH BERBUAH HAJI............................................................................ 153
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................... 156
TENTANG PENULIS.................................................................................................. 157
MATI SURI
Fenomena
mati suri adalah salah satu fenomena yang hingga kini masih belum terungkap
oleh ilmu pengetahuan. Bukan hanya di dalam negeri, fenomena ini rupanya
terjadi juga di luar negeri. Tak sedikit orang yang mengalami fenomena langka
ini. Anak-anak, orang dewasa, tua, muda, wanita maupun pria, semuanya bisa
mengalami mati suri, tentunya atas kehendak dan izin Alloh. Nah, pada
kesempatan kali ini saya menyampaikan satu kisah nyata mati suri yang pernah
dialami oleh tetangga. Seorang kakek tua yang kini hidup kembali dan menjalani
harinya seperti biasa. Silakan disimak untuk pelajaran untuk kita semua.
Kisah
Nyata Mati Suri Mbah Rino, seorang kakek tua berusia 67 tahun tetangga desa
saya, tak pernah membayangkan sebelumnya untuk bisa mengalami sesuatu yang tak
bisa dirasakan semua orang. Dia terpilih di antara sekian juta orang untuk
mengalami fenomena mati suri dalam hidupnya. Kisah nyata mati suri yang ia
alami itu terjadi sekitar 2 tahun lalu, saat saya masih duduk di kelas 3 SMK.
Pagi itu, seperti pagi yang biasa bagi mbah Rino. Setelah bangun tidur dan
minum kopi, ia mandi untuk menyegarkan kembali tubuhnya yang sudah renta itu.
Ia kini memang tengah menikmati masa pensiun setelah usia mudanya dihabiskan
menjadi seorang guru sekolah dasar di kampung saya. Mbah Rino hidup di rumah
kecil bersama anak perempuannya yang masih gadis. Si sulung dari 8 bersaudara
itu memang ditugasi untuk mengurusi bapaknya, sementara kakak-kakaknya bekerja
mencari nafkah. Selepas ba’da dzuhur, tak diduga sebelumnya, Mbah Rino tiba-tiba
ditemukan sudah tidak bernafas lagi. Di ruang tengah tempat ia biasa
menghabiskan waktu sehari-hari, ia diketahui sudah meninggal dunia. Mbak Ratih,
anak gadisnya itulah yang menemukannya.
Singkat
cerita, rumah Mbah Rino telah ramai dikunjungi para pelayat. Mbah Rino memang
orang yang ramah dan supel. Semua orang menyukainya. Ia juga dikenal sangat
murah hati dan sering menolong orang yang kesusahan. Semua orang merasa
kehilangannya, sehingga wajar jika isak tangis menyertai prosesi pemandian jenazahnya.
Semua orang yang hadir melayat mbah Rino tak pernah mengira sebelumnya jika
pada hari itu, mereka akan menjadi saksi kebesaran Alloh. Menjadi saksi dari
kisah nyata mati suri yang tak semua orang bisa mengalaminya. Jenazah Mbah Rino
usai dikafani dan disholat. Anak-anaknya dari kota pun sudah kumpul semua. Kini
tiba waktunya untuk mengantarkan beliau ke rumah terakhirnya. Liang kubur yang
sunyi dan gelap. Iring-iringan pelayat yang tak henti mengumandangkan tahlil
mengantar kepergian Mbah Rino. Perjalanan dari rumah duka ke areal pemakaman
sekitar 20 menit. Pemanggul jenazah berganti-gantian.
Sawuran
beras dan uang logam juga terus berulang, seperti layaknya prosesi pemakaman
pada umumnya. Tiba-tiba, pelayat terhenyak. Dari dalam keranda terdengar suara
dan kain penutup keranda itu seperti ada yang menarik dari dalam. Mbah Rino
bangun dan hidup kembali. Semua orang terhenyak lari tunggang langgang
ketakutan melihat mayat hidup di atas keranda. “Aa....a.a.....aaaa..a!” Jenazah
Mbah Rino terbangun. Semua pelayat berhamburan. Kabur ketakutan karena melihat
mayat hidup di dalam keranda. Mayat Mbah Rino hidup kembali. Ya... Hidup
kembali. Pak Ustadz desa yang ada di barisan depan pun tercengang. Ditanyanya
mbah Rino yang masih mengenakan busana pocong itu dengan penuh kegaguan.
“Assalammualaikum Mbah?” Tanya Pak Ustadz. “Wa alaikumsalam Pak Ustadz. Kenapa
saya ada disini dan menggunakan pakaian semacam ini?” Jawab Mbah Rino dengan
rasa heran yang jelas tergambar dari raut wajahnya. “Siapa namamu?” Sergah pak
Ustadz ingin memastikan bahwa yang berbicara itu benar-benar Mbah Rino, bukan
jin atau sebangsanya. “Pak Ustadz, ini Si Mbah, Mbah Rino. Kenapa bertanya
begitu?” Jawab Mbah Rino. “Subhanalloh!! Saudara-saudara, inilah bukti
kekuasaan Alloh. Kita telah menyaksikan fenomena yang luar biasa. Mbah Rino
telah mengalami mati suri.” Pak Ustadz melantangkan suaranya. Seketika itu,
para pelayat yang tadi lari terbirit-birit kembali berkumpul ke dekat keranda,
menyaksikan Mbah Rino yang mengalami kisah nyata mati suri. Semua orang
berdecak kagum seraya mengucap tasbih. Subhanalloh. Sungguh Engkau Maha Kuasa
Ya Rabb. Mbah Rino kemudian kembali ke rumah dibonceng motor. Sementara itu,
para pelayat yang masih penasaran, menyusulnya kembali ke rumah duka.
Mereka
ingin mengetahui apa yang dialami oleh Mbah Rino selama 4 jam terakhir
mengalami mati suri. Mbah Rino melepaskan 3 lapis kain kafan ditubuhnya dan
kembali mengenakan pakaiannya seperti biasa. Orang-orang berkumpul dan saat itu
juga Mbah Rino menceritakan apa yang dia alami. “Mbah tadi tidur dan bermimpi.
Dalam mimpi itu, mbah bertemu dengan seorang pria tinggi besar. Ia mengaku
bernama Rozaq. Ia mengajak simbah ke Makkah untuk melaksanakan sholat Dzuhur
bersama. Kemudian mbah diajak ke sebuah lembah di padang pasir yang luas oleh
dia. Mbah bingung dan laki-laki tadi juga tampak kebingungan. Tiba-tiba mbah
disuruh pulang lagi, katanya ini masih belum waktunya. Mbah sempat heran dengan
kata-kata yang dia ucapkan, sebelum akhirnya mbah terbangun dan sudah ada di
dalam keranda.” Papar Mbah Rino sambil terbata-bata. “Ini adalah fenomena mati
suri Mbah. Mbah telah mengalami sebuah fenomena yang tidak semua orang bisa
mengalaminya. Kemungkinan, laki-laki yang mengajak simbah tadi adalah malaikat
maut mbah. Saya kira Alloh masih memberi kesempatan untuk Simbah melakukan
sesuatu yang diingin simbah di dunia ini.” Seru pak ustadz. “Entahlah, yang
jelas, mbah merasa ini hanya mimpi. Mbah tadi seperti hanya tidur dan tak tahu
jika jantung simbah sudah tidak berdetak lagi seperti tanda-tanda kematian yang
diceritakan oleh orang-orang.
Mbah
memang selalu berdoa agar diberi kesempatan untuk dapat menyaksikan akad nikah
Si Ratih setiap habis sholat tahajud dan sholat fardlu. Mbah merasa senang
sekali, Alloh telah mengabulkan doa simbah.” Tutur Mbah Rino seraya menitikan
air mata. Para pelayat hening, tertunduk, dan merasa malu atas apa yang dialami
Mbah Rino. Doa seorang laki-laki tua renta itu telah diijabah oleh-Nya. Mereka
bubar, dan semenjak saat itupun masjid yang biasanya sepi, hingga sekarang
selalu penuh sesak terutama saat sholat Maghrib dan Subuh. Nah, itulah kisah
nyata mati suri yang terjadi di kampung saya. Mbah Rino hidup kembali untuk
mengajarkan banyak hal kepada semua masyarakat di kampung saya. Sangat
menakjubkan. Semoga kisah nyata mati suri ini bisa memberikan efek bagi kita
semua, sehingga kita bisa mengambil pelajaran yang baik darinya. Semoga
bermanfaat.
(Demi
menjaga kerahasiaan dan nama baik, semua nama pelaku/ kecuali nama tempat, yang
tercantum dalam kisah iktibar ini telah di samarkan. Selebihnya, kalau ada
kesamaan itu hanyalah kebetulan belaka, dan tidak ada maksud untuk merugikan
dan mencemarkan nama baik. Kalau ada kesalahan maka dengan ini permintaan maaf
secara ikhlas. Demikian pemberitahuan ini di sampaikan agar dimaklumi)
JENAZAH
DIRUBUNGI BELATUNG
Ini
adalah kisah nyata proses penguburan seorang pejabat di sebuah kota. Kepada
Arrahmah, netizen pemberi kabar ini tidak bersedia menyebutkan namanya. Ia juga
sengaja tidak menyebutkan nama dan alamat jelas keluarga jenazah demi menjaga
nama baik jenazah dan keluarga yang ditinggalkan. (Demi menjaga kerahasiaan dan
nama baik, semua nama pelaku/ kecuali nama tempat, yang tercantum dalam kisah
iktibar ini telah di samarkan. Selebihnya, kalau ada kesamaan itu hanyalah
kebetulan belaka, dan tidak ada maksud untuk merugikan dan mencemarkan nama
baik. Kalau ada kesalahan maka dengan ini permintaan maaf secara ikhlas.
Demikian pemberitahuan ini di sampaikan agar dimaklumi) Insyaa Allah, kisah ini
dapat menjadi hikmah pada Ramadhan 1436 Hijriyah ini dan cermin bagi kita
semua, sebelum ajal menjemput. Kisah ini diceritakan langsung oleh seorang
Modin (pengurus jenazah) kepada pemberi kabar. Dengan gaya bertutur, selengkapnya
sang Modin menceritakan pengalamannya.
Hardi
(Nama samaran) terlibat dalam pengurus jenazah lebih dari 16 tahun. Berbagai
pengalaman telah saya lalui, sebab dalam jangka atau kurun waktu tersebut
macam-macam jenis mayat sudah saya tangani. Ada yang meninggal dunia akibat
kecelakaan, sakit tua, sakit jantung, bunuh diri dan sebagainya. Bagaimanapun,
pengalaman mengurus satu jenazah seorang pejabat yang kaya serta berpengaruh
ini, menyebabkan saya dapat kesempatan ‘Istimewa’ sepanjang hidup. Inilah pertama
saya bertemu proses penguburan yang cukup aneh, menyedihkan, menakutkan dan
sekaligus memberikan banyak hikmah.
Sebagai
Modin tetap di desa ini, saya diminta oleh anak almarhum untuk mengurus jenazah
bapaknya. Saya terus pergi ke rumahnya. Ketika saya tiba sampai ke rumah
almarhum tercium bau jenazah itu sangat busuk. Baunya cukup memualkan perut dan
menjijikan. Saya telah mengurus banyak jenazah tetapi tidak pernah saya bertemu
dengan mayat yang sebusuk ini. Ketika saya lihat wajah almarhum, sekali lagi
saya tersentuh,saya tengok wajahnya seperti dirundung oleh macam-macam perasaan
takut, cemas, kesal dan macam-macam. Wajahnya seperti tidak mendapat nur dari
Allah Subhanahu Wata’ala.
Kemudian
saya pun ambil kain kafan yang dibeli oleh anak almarhum dan saya potong. Secara
kebetulan pula, disitu ada dua orang yang pernah mengikuti kursus fardhu
kifayahatau pengurus jenazah yang pernah saya ajar. Saya ajak mereka mambantu
saya dan mereka setuju. Tetapi selama memandikan mayat itu, kejadian pertama
pun terjadi. Sekadar untuk pengetahuan pembaca, apabila memandikan jenazah,
badan mayat itu perlu dibangunkan sedikit dan perutnya hendaklah diurut-urut
untuk mengeluarkan kotoran yang tersisa. Maka saya pun urut-urut perut
almarhum.
Tapi
apa yang terjadi, pada hari itu sangat mengejutkan. Allah Subhanahu
Wata’alaberkehendak dan menunjukkan kekuasaannya karena pada hari tersebut,
kotoran tidak keluar dari dubur akan tetapi melalui mulutnya. Hati saya
berdebar-debar. Apa yang sedang terjadi di depan saya ini? Telah dua kali mulut
mayat ini memuntahkan kotoran, saya harap hal itu tidak terulang lagi karena
saya mengurut perutnya untuk kali terakhir. Tiba-tiba ketentuan Allah Subhanahu
Wata’ala berlaku, ketika saya urut perutnya keluarlah dari mulut mayat itu kotoran
bersama beberapa ekor ulat yang masih hidup. Ulat itu adalah seperti ulat
kotoran (belatung). Padahal almarhum meninggal dunia akibat diserang jantung
dan waktu kematiannya dalam tempo yang begitu singkat mayatnya sudah menjadi
demikian rupa?
Saya
lihat wajah anak almarhum. Mereka seperti terkejut. Mungkin malu, terperanjat
dan merasa mendapat aib dengan apa yang berlaku pada bapaknya. Kemudian saya
tengok dua orang pembantu tadi, mereka juga terkejut dan panik. Saya katakan
kepada mereka, “Inilah ujian Allah terhadap kita !!” Kemudian saya minta salah
satu seorang dari pada pembantu tadi pergi memanggil semua anak almarhum. Almarhum
pada dasarnya seorang yang beruntung karena mempunyai tujuh orang anak,
kesemuanya laki-laki. Seorang berada di luar negeri dan enam lagi berada di
rumah. Ketika semua anak almarhum masuk, saya nasehati mereka. Saya
mengingatkan mereka bahwasanya tanggung jawab saya adalah membantu menguruskan
jenazah Bapak mereka, bukan menguruskan semuanya, tanggung jawab ada pada ahli
warisnya. Sepatutnya sebagai anak, mereka yang lebih afdhal menguruskan jenazah
Bapak mereka itu, bukan hanya iman, hanya bilal, atau guru.
Saya
kemudian meminta ijin serta bantuan mereka untuk menunggingkan mayat itu. Takdir
Allah, ketika ditunggingkan mayat tersebut, tiba-tiba keluarlah ulat-ulat yang
masih hidup, hampir sebaskom banyaknya. Baskom itu kira-kira besar sedikit dari
penutup saji meja makan. Subhanallah, suasana menjadi makin panik. Benar-benar
kejadian yang luar biasa sulit diterima akal pikiran manusia biasa. Saya terus
berdoa dan berharap tidak terjadi lagi kejadian yang lebih ganjil. Selepas itu
saya memandikan kembali mayat tersebut dan saya ambilkan wudhu. Saya meminta
anak-anaknya kain kafan.
Saya
bawa mayat ke dalam kamarnya dan tidak diijinkan seorang pun melihat upacara
itu terkecuali waris yang terdekat sebab saya takut kejadian yang lebih aib
akan terjadi. Peristiwa apa pula yang terjadi setelah jenazah diangkat ke kamar
dan hendak dikafani, takdir Allah jua yang menentukan, ketika mayat ini
diletakkan di atas kain kafan, saya dapati kain kafan itu hanya cukup menutupi
ujung kepala dan kaki tidak ada lebih, maka saya tak dapat mengikat kepala dan
kaki. Tidak keterlaluan kalau saya katakan ia seperti kain kafan itu tidak mau
menerima mayat tadi. Tidak apalah, mungkin saya yang khilaf dikala memotongnya.
Lalu saya ambil pula kain, saya potong dan tampung di tempat-tempat yang
kurang. Memang kain kafan jenazah itu jadi sambung-menyambung, tapi apa mau
dikata, itulah yang dapat saya lakukan. Dalam waktu yang sama saya berdoa
kepada Allah, “Yaa Allah, jangan kau hinakan jenazah ini Yaa Allah, cukuplah
sekedar peringatan kepada hamba-Mu ini.”
Selepas
itu saya beri taklimat tentang sholat jenazah tadi, satu lagi masalah timbul,
jenazah tidak dapat dihantar ke tanah pekuburan karena tidak ada mobil
jenazah/mobil ambulance. Saya hubungi kelurahan, pusat Islam, masjid, dan
sebagainya, tapi susah. Semua sedang terpakai, beberapa tempat tersebut juga
tidak punya kereta jenazah lebih dari satu karena kereta yang ada sedang
digunakan pula. Suatu hal yang saya pikir bukan sekedar kebetulan.
Dalam
keadaan itu seorang hamba Allah muncul menawarkan bantuan. Lelaki itu meminta
saya menunggu sebentar untuk mengeluarkan van/sejenis mobil pick-up dari garasi
rumahnya. Kemudian muncullah sebuah van. Tapi ketika dia sedang mencari tempat
untuk meletakkan vannya itu dirumah almarhum, tiba-tiba istrinya keluar. Dengan
suara yang tegas dia berkata dikhalayak ramai, “Mas, saya tidak perbolehkan
mobil kita ini digunakan untuk angkat jenazah itu, sebab semasa hayatnya dia
tidak pernah mengijinkan kita naik mobilnya.”
Renungkanlah
kalau tidak ada apa-apanya, tidak mungkin seorang wanita yang lembut hatinya
akan berkata demikian.!! Jadi saya suruh tuan yang punya van itu membawa
kembali vannya. Selepas itu muncul pula seorang lelaki menawarkan bantuannya. Lelaki
itu mengaku dia anak murid saya. Dia meminta ijin saya dalam 10-15 menit
membersihkan mobilnya itu. Dalam jangka waktu yang ditetapkan itu, muncul mobil
tersebut, tapi dalam keadaan basah kuyup. Mobil yang dimaksudkan itu sebenarnya
lori. Dan lori itu digunakan oleh lelaki tadi untuk menjual ayam ke pasar,
dalam perjalanan menuju kawasan pekuburan, saya berpesan kepada dua pembantu
tadi supaya masyarakat tidak usah membantu kami menguburkan jenazah, cukup
tinggal di camping saja akan lebih baik. Saya tidak mau mereka melihat lagi
peristiwa ganjil.
Rupanya
apa yang saya takutkan itu berlaku sekali lagi, takdir Allah yang terakhir amat
memilukan. Sesampainya Jenazah tiba di tanah pekuburan, saya perintahkan tiga
orang anaknya turun ke dalam liang dan tiga lagi menurunkan jenazah. Allah
Subhanahu Wata’ala berkehendak semua atas makhluk ciptaan-Nya berlaku. Saat
jenazah itu menyentuh ke tanah tiba-tiba air hitam yang busuk baunya keluar
dari celah tanah yang pada asal mulanya kering. Hari itu tidak ada hujan, tapi
dari mana datang air itu? Sukar untuk saya menjawabnya. Lalu saya arahkan anak
almarhum, supaya jenazah bapak mereka dikemas dalam peti dengan hati-hati. Saya
takut nanti ia terlentang atau telungkup na’udzubillah. Kalau mayat terlungkup,
tak ada harapan untuk mendapat syafa’at Nabi.
Papan
keranda diturunkan dan kami segera timbun kubur tersebut. Selepas itu kami
injak-injak tanah supaya mampat dan bila hujan ia tidak mendap/ambrol. Tapi
sungguh mengherankan, saya perhatikan tanah yang diinjak itu menjadi becek.
Saya tahu, jenazah yang ada di dalam telah tenggelam oleh air hitam yang busuk
itu. Melihat keadaan tersebut, saya arahkan anak-anak almarhum supaya berhenti menginjak
tanah itu. Saya tinggalkan lobang kubur 1/4 meter. Artinya kubur itu tidak
ditimbun hingga ke permukaan lubangnya, tapi ia seperti kubur berlobang.
Tidak
cukup dengan itu, apabila saya hendak bacakan talqin, saya lihat tanah yang
diinjak itu ada kesan serapan air. Subhanallah, dalam sejarah belum pernah ada
peristiwa seperti itu terjadi. Melihat keadaan itu, saya ambil keputusan untuk
selesaikan penguburan secepat mungkin. Sejak lama terlibat dalam penguburan
jenazah, inilah mayat yang saya tidak talqinkan. Saya bacakan tahlil dan doa
yang paling ringkas. Setelah saya pulang ke rumah almarhum, saya lalu
mengumpulkan keluarganya.
Saya
bertanya kepada istri almarhum, apakah yang telah dilakukan oleh almarhum
semasa hayatnya.
1. Apakah dia pernah
menzalimi orang alim?
2. Mendapat harta
secara merampas, menipu dan mengambil yang bukan haknya?
3. Memakan harta masjid
dan anak yatim?
4. Menyalahkan gunakan
jabatan untuk kepentingan sendiri?
5. Tidak pernah
mengeluarkan zakat, shodaqoh atau infaq?
Istri
almarhum tidak dapat memberikan jawabannya. Memikirkan mungkin dia malu untuk
memberi tahu, maka saya tinggalkan nomor telepon rumah. Tapi sedihnya hingga
sekarang, tidak seorang pun anak almarhum menghubungi saya. Untuk pengetahuan
umum, anak almarhum merupakan orang yang berpendidikan tinggi hingga ada
seorang yang beristrikan orang Amerika, seorang dapat istri orang Australia dan
seorang lagi istrinya orang Jepang. Peristiwa ini akan tetap saya ingat, dan
kisah ini benar-benar nyata bukan rekaan atau isapan jempol. Semua kebenaran
saya kembalikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala pencipta jagad raya ini. Kepada
semua pembaca, tanyalah diri kita, akankah kita menginginkan peristiwa itu
terjadi pada diri kita sendiri, ibu, bapak kita, anak kita atau kaum keluarga
kita?
Semoga
akhir hidup kita semua husnul khatimah, Aammiin. Kejadian ini diangkat dari
kisah nyata. Untuk melindungi individu yang terlibat dalam cerita ini, saya
akan menyamarkan identitas dengan nama lain. Jika ada kesamaan kisah dengan
nama para tokoh, mungkin Anda memang terlibat dalam konspirasi ini.
JASAD
TIDAK HANGUS TERBAKAR
Satu
malam kebakaran hebat terjadi disebuah pemukiman padat penduduk. Kebakaran itu
menghanguskan empat rumah sekaligus. Dalam kebakaran tersebut, harta benda
ludes dimakan si jago merah. Hanya tinggal puing-puing saja. Kebakaran itu juga
merenggut empat nyawa. Kesemuanya tidak bisa diselamatkan. Api melahap keempat
jasad manusia tersebut. Peristiwa itu terjadi di pertengahan malam, sehingga
penghuninya tidak sempat melarikan diri dan akhirnya terjebak di dalam rumah
yang sudah terkepung oleh ganasnya kobaran api. Sekitar 30 menit, api menjalar
begitu cepatnya, karena kala itu angin begitu kencang.
Disamping
itu, pemukiman warga yang padat mengakibatkan api mudah menjalar dengan cepat.
Ditambah lagi bangunan rumah yang 70% tersebut dari bahan kayu, hingga
mempermudah api menjalar. Petugas pemadam kebakaran juga mengalami kesulitan
untuk menembus lokasi karena sempitnya gang-gang yang mengintari lokasi. Hingga
kemudian pemadam kebakaran dapat menaklukkan apai sekitar 40 mneit lamanya. Itu
pun sebelumnya dibantu oleh warga sekitar yang terbangun dari tidur mereka
karena suara gaduh yang ditimbulkan dari teriakan warga akibat adanya korban
api dan asap yang ditimbulkan.
Setelah
api dapat ditaklukan, petugas pemadam kebakaran kemudian menyisiri rumah yang
sudah hangus terbakar. Salah seseorang anggota keluarga penghuni rumah tersebut
menjerit histeris karena rumahnya sudah hangus terbakar. Lebih dari itu, sebab jeritannya
lantaran suaminya bisa dipastikan terjebak di dalam rumah ketika api itu
menyerang rumah mereka. Pasalnya suaminya berada di dalam kamar, sementara
dirinya tidur di ruang tamu, sehingga tidak sempat membangunkan suaminya. Suaminya
sudah tiga hari sedang sakit, sehingga fisiknya begitu lemah. Maka, bisa
dipastikan pula, karena sakitnya itu, suaminya tidak bisa menyelamatkan diri.
Tak hanya dirinya yang menangisi kejadian itu. Tetangganya pun menangis begitu
kencangnya. Karena kedua anak kecilnya terjebak di dalam rumah. Begitu juga
dengan tetangga dekatnya. Ada satu orang yang terjebak di dalam rumah, dan bisa
dipastikan ia pun tidak lolos dari kobaran api. Maka ada empat orang yang
terjebak di dalam rumah yang berderet itu.
Benar
saja, keempat orang yang dikhawatirkan itu memang sudah tidak tertolong lagi.
Keempatnya sudah terbakar. Badannya hangus. Namun, dari empat jasad itu,
anehnya ada satu jasad yang masih utuh dari kobaran api, meski ia termasuk yang
terjebak di dalam rumah. Jasadnya mulus dibanding ketiga korban lainnya. Warga
pun merasa kaget, karena tidak mungkin jasad itu tidak hangus, padahal tempat
tidurnya pun sudah hangus. Jasad pria itu masih bersih kulitnya. Hanya baju dan
celananya yang terbakar. Warga merasa keheranan. Antara percaya dan tidak
percaya. Tidak mungkin, secara nalar manusiawi kulit jasad pria itu bisa tidak
hangus dari kobaran api yang sangat dahsyat itu. Karena kulit manusia sangat
tipis, dan besar kemungkinan kulit manusia akan meleleh bila terkena kobaran
api yang sangat besar.
Pria
yang menjadi objek ketakjuban itu memang sudah tidak bernyawa lagi. Ia
tergeletak dengan baju yang sudah hangus. Nyawanya tidak tertolong, bersama
tiga orang tetangganya itu. Keesokan harinya, setelah jasadnya dibawa ke rumah
sakit, dan dipulangkan kembali di kampung tersebut, jelaslah bahwa jasad pria
itu memang masih utuh dan tidak terlihat adanya luka bakar. Mulus dan putih.
Tidak ada luka sama sekali.
Pria
yang jasadnya tak terbakar itu bernama Hendrik (Sebut saja begitu namanya)
Hendrik setiap harinya berprofesi sebagai tenaga keamanan di salah satu kantor
swasta. Ia sudah lama menjadi satpam. Kurang lebih 15 tahun ia jalani profesi
itu. Ia memiliki satu istri dan dua anak. Kedua anaknya beserta mertuanya di
lain kampung. Sementara istrinya tertidur di ruang tamu usai menonton televisi.
Setelah ditelusuri, kebakaran itu berasal dari korsleting listrik dari rumah
tetangganya. Karena rumah mereka berdekatan, dan sebagian besar bangunan rumah
tetangga dan rumahnya terbuat dari bahan kayu, maka api sangat mudah terbakar.
Siang hari sebelum kejadian kebakaran itu, Hendrik memang tidak terlihat keluar
rumah. Ia sedang mengalami sakit demam.
Sudah
tiga hari ia tidak masuk kerja. Pulasnya ia tertidur malam itu bisa jadi karena
efek samping dari obat yang ia konsumsi sebelum tidur. Ketika api mulai
menjalar ke kamarnya, istrinya hanya mampu berteriak dan tidak bisa
membangunkan apalagi menyelamatkan suaminya. Istrinya langsung keluar dan
meminta bantuan warga sekitar untuk menyelamatkan suaminya. Namun, ajal berkata
lain. Allah sudah menentukan ajalnya. Ia meninggal dunia bersamaan dengan
peristiwa itu. Meski demikian, jasad Hendrik ternyata tidak tersayat oleh
tajamnya kobaran api. Warga sangat terkejut dan merasa keheranan. Karena,
peristiwa itu sungguh sangat luar biasa dan tidak bisa dipahami oleh nalar
manusia.
Yang
pasti, warga mulai menerka-nerka dengan apa yang terjadi pada Hendrik. Pria
yang dikenal sangat ramah dan baik hati itu akhirnya meninggal dunia. Hendrik
dikenal sebagai sosok pria yang rajin beribadah, manakala berada di rumah, ia
tidak ketinggalan untuk shalat berjamaah di mushala. Hendrik juga termasuk
warga yang senang bergaul dan tidak pernah membuat masalah dengan tetangganya.
Salah seorang yang merasa kehilangan dengan sosok Hendrik adalah Ust. Aripin
(Nama samaran) mengenal dekat almarhum Hendrik lantaran ia adalah Ketua Mushala
di lingkungan tersebut. Hampir setiap hari ia bertemu Hendrik di mushala;
setiap waktu shalat tiba, terutama untuk waktu shalat Magrib, Isya dan Shubuh.
Sementara Dzuhur dan Ashar, Hendrik memang jarang terlihat di mushala, karena
ia berada di tempat kerja.
“Hendrik
orangnya rajin ibadah. Ia sangat menyesal manakala tidak bisa shalat berjamaah.
Ia sedapat mungkin bisa shalat dengan berjamaah. Selain itu, salah satu
karakter yang saya sukai dari Hendrik adalah ia sangat rajin bersedekah. Meski
ia tergolong orang yang sederhana secara ekonomi, namun saat masuk mushola, ia
tak lupa menyisihkan uang di kotak amal,” Tutur Ust. Aripin mengenangnya.
“Hal
ini membuat saya kagum. Bagaimana tidak? Dia orangnya baik. Suka menolong dan
rajin shalat berjamaah.” Tegas Ust. Aripin.
Ust
Aripin pun menceritakan bahwa almarhum Aripin sering menjalankan atau
mendawamkan doa-doa Nabi Ibrahim. Hal ini ia ketahui kala ia sedang berbincang
santai dengan Hendrik. “Dia itu tidak pernah lupa untuk membaca doa Nabi
Ibrahim. Ada dua doa yang diajarkan Nabi Ibrahim seperti dikutip dalam
Al-Qur’an, yang diamalkan oleh Hendrik. Kedua doa itu terdapat dalam Qs.
Ibrahim dan QS. Ash-Shaaffaat.
“Ya
Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan
shalat, Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian
orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat),” (Qs Ibrahim:
40-41)
Kemudian
doa yang lainnya adalah “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (Seorang Anak)
yang termasuk orang-orang yang shaleh,” (QS. Ash-Shaaffaat: 100) kedua doa itu
diamalkan Hendrik setiap usai menjalankan shalat lima waktu.
Meski
pernah bergaul dengan Hendrik, Ust. Aripin tidak tahu secara pasti persis
berapa kali doa itu diwiridkan oleh Hendrik. Ia juga tidak tahu amalan apalagi
yang diamalkan oleh Hendrik. Namun demikian, Ust Aripin menyimpulkan satu
hikmah dari peristiwa yang menimpa Hendrik. Menurutnya, bisa jadi apa yang
menimpa Hendrik ada hubungannya dengan doa-doa yang dia amalkan, terutama
doa-doa Nabi Ibrahim. Tapi, bisa pula hal ini tidak ada hubungannya. Hanya
Allah yang tahu. Ia menegaskan bahwa Nabi Ibrahim adalah Rasul yang sangat taat
kepada Allah, dan tidak pantang mundur dalam berdakwah. Salah satu peristiwa
yang mudah diketahui oleh masyarakat umum adalah peristiwa dibakarnya Nabi
Ibrahim oleh raja Namrud, karena murkanya yang luar biasa pada Nabi Ibrahim,
maka Raja Zalim itu memerintahkan prajuritnya untuk membakar Nabi Ibrahim
secara hidup-hidup.
Peristiwa
ini kemudian dikenal masyarakat modern sebagai peristiwa pembunuhan manusia
yang keji dan kejam. Dengan begitu mudahnya Nabi Ibrahim dihukum dengan cara
dibakar hidup-hidup. Namun, karena Nabi Ibrahim adalah seorang Rasul, Allah
menjaga dan menolongnya. Nabi Ibrahim meminta kepada Allah untuk mendinginkan
sifat dasar api. Api yang biasanya panas menjadi dingin. Karena dingin dan
tidak panas itulah, maka Nabi Ibrahim selamat dan tubuhnya tidak cedera sama
sekali. “Hai api, jadilah engkau dingin serta selamatlah Ibrahim!” (QS
Al-Anbiya: 69)
Dalam
hal ini, tegas Ust Aripin, memang sangat berlebihan apabila peristiwa yang
menimpa Hendrik disamakan dengan apa yang menimpa Nabi Ibrahim. Kedua orang itu
tentu saja sangat berbeda. Kadar keimanan dan ketakwaannya pun sangat jauh
berbeda. Namun, tandas Ust Aripin, apa yang dilakukan Hendrik semasa hidupnya
dengan mengamalkan doa-doa Nabi Ibrahim bisa jadi menjadi penghubung dirinya
dengan Allah swt. Karena bagaimana pun juga, yang mematikan dan menghidupkan
manusia adalah Allah. Yang membuat api menjadi panas maupun dingin adalah Allah
swt pun, yang membuat Hendrik dan Nabi Ibrahim tidak cedera oleh ganasnya api
neraka, semata-mata karena kehendak Allah. Bukan kehendak siapa-siapa.
Namun
begitu, terlepas dari korelasi antara Hendrik dan Nabi Ibrahim itu, Ust Aripin
menilai bahwa kita yang masih hidup tentunya dapat membaca ayat-ayat Allah yang
tersirat dalam setiap peristiwa. Selain itu, sebagai manusia tentu saja apa
yang menimpa Hendrik dapat ditarik hikmahnya. Salah satu hikmah hidup yang
biasa diambil dari perilaku Hendrik yang baik adalah kegemarannya dalam
bersedekah, rajin shalat berjamaah, dan senang mendawamkan doa-doa Nabi
Ibrahim. “Ini yang harus kita ikuti dan teladani. Setiap yang baik wajib kita
teladani, dan yang buruk kita tinggalkan,”Tandas Ust Aripin.
“Sebaik-baiknya
doa adalah membaca Al-Qur’an. Doa-doa yang diajarkan Nabi Ibrahim, termaktub
dalam Al-Qur’an, oleh karena itu, amalkan dan dawamkanlah. Insya Allah itu
memberi kebaikan dalam hidup kita, baik untuk saat ini semasa hidup, maupun
nanti di akhirat,” Tegas Ust Aripin mengakhiri percakapannya.
(Demi
menjaga kerahasiaan dan nama baik, semua nama pelaku/ kecuali nama tempat, yang
tercantum dalam kisah iktibar ini telah di samarkan. Selebihnya, kalau ada
kesamaan itu hanyalah kebetulan belaka, dan tidak ada maksud untuk merugikan
dan mencemarkan nama baik. Kalau ada kesalahan maka dengan ini permintaan maaf
secara ikhlas. Demikian pemberitahuan ini di sampaikan agar dimaklumi)
TENTANG
PENULIS

Penulis
bernama Jamaludin Rifai lahir di Gorontalo 27 Juni 1986. Penulis berasal dari Provinsi Gorontalo. Penulis
adalah anak ke 7 dari 7 orang bersaudara. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar penulis
mempunyai bakat yaitu menulis dan mengarang. Penulis pernah kuliah di salah
satu kampus yang berada di Gorontalo yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo pada
tahun 2011, penulis berhasil menjadi alumni Fakultas Tarbiyah, Program Studi
Pendidikan Bahasa Inggris. Pada tahun 2015, penulis berhasil menamatkan
pendidikannya S1.
Meski
masih tergolong pada tahap awal belajar, penulis hobi membaca buku-buku dunia
novel Horor, dan suka membaca buku-buku Bahasa Inggris, buku-buku motivasi,
Penulis bercita-cita menjadi penulis yang terkenal melalui bukunya: SETETES
HIDAYAH
Penulis
dapat di hubungi melalui email :
jamaludinrifai442@gmail.com
No
HP: 085340008577
Komentar
Posting Komentar