RAHASIA SUKSES PARA PENGAMAL SHALAWAT, TAHAJUD, DHUHA DAN PUASA

JAMALUDIN RIFAI, S.Pd.I

RAHASIA SUKSES PARA PENGAMAL SHALAWAT, TAHAJUD, DHUHA DAN PUASA

KISAH-KISAH INSPIRASI PELANCAR REZEKI, KESEHATAN, KEKAYAAN, KECERDASAN DAN KEBERKAHAN


Demi Allah, Sungguh Aku Memohon Ampun Kepada Allah Dan Bertaubat Kepada-Nya Dalam Sehari Lebih Dari Tujuh Puluh Kali.” (HR. Bukhari)
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Puja dan puji syukur kehadirat Allah Swt. Shalawat dan salam semoga terlimpah ke haribaan junjungan kita Nabi Muhammad Saw. Beserta keluarganya dan sahabat-sahabatnya yang setia.
Banyak kisah-kisah inpiratif tentang keberkahan Shalawat, Tahajud, Dhuha, dan Puasa yang tersulubung di sekitar kita, hanya saja kita tidak mengetahui akan hal tersebut. Karena itulah, penulis mencoba mengemas buku Dahsyatnya Mukjizat Pengamal Tahajud, Dhuha, dan Puasa, yang Insya Allah akan menggugah dan memberikan ispirasi bagi pembaca.
Banyak kemudahan yang dirasakan bagi pelaku Tahajud, Dhuha, dan Puasa yang tak terduka datangnya, baik dalam masalah kesehatan, finasial, maupun kecerdasan, ketiga ibadah ini mengambil andil bisa terjadi karena dia terus melakukan ibadah tersebut. Inilah anugerah yang diberikan-Nya kepada mereka yang menyukai apa yang Dia sukai. Allah menyukai orang-orang yang Bertahajud, Dhuha, dan Berpuasa di samping ibadah-ibadah sunah lainnya.
Jika kita bisa meresapi, dan pastilah kita akan menyadari betapa ibadah tersebut banyak memberi keberkahan. Setelah salat Tahajud, Dhuha, dan Berpuasa memang tidak serta merta kita menjadi kaya ataupun langsung sembuh dari penyakit. Tetapi spirit yang ditimbulkannya membuat kita semakin kuat menjalani hidup. Dengan berdoa setelah Tahajud akan membuat kita tenang dan mulai bersemangat lagi melakukan sesuatu yang dirasa sulit dilakukan. Begitupun halnya dengan salat Dhuha, orang yang menginap suatu penyakit, dia terus berdoa sehabis salatnya akan melahirkan kekuatan tersendiri baginya untuk menjalani hidup. Allah tidak akan lengah! Dia akan memberi pertolongan dan kelapangan bagi hamba-Nya yang benar-benar meminta pertolongan.
Sungguhpun demikian, diperlukan niat dan sikap yang sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kita Bertahajud dengan niat ingin kaya, misalnya, tetapi tidak bekerja keras dan hanya berdiam diri di rumah, tentu saja ini akan sia-sia. Begitu pula jika kita salat Dhuha dengan tujuan agar bisa menyerap pelajaran, akan tetapi kita sendiri tidak mau belajar sungguh-sungguh, Dhuha juga tidak akan berfungsi. Allah akan melihat sejauh mana kesungguhan hamba-Nya dalam meraih suatu hal, sehingga, meskipun kita telah beribadah dan berdoa dengan sungguh-sungguh, kita juga harus berusaha keras dengan spirit tinggi agar keinginan kita terwujud.
Penulis menyajikan buku dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan suguhan cerita yang menarik tentu akan menambah semangat anda. Penulis sadar RAHASIA SUKSES PARA PENGAMAL SHALAWAT, TAHAJUD, DHUHA DAN PUASA, ini masih jauh dari apa yang disebut dengan kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Walau demikian penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan RAHASIA SUKSES PARA PENGAMAL SHALAWAT, TAHAJUD, DHUHA DAN PUASA, ini dengan semua kemampuan yang penulis miliki.
Petiklah hikmah dan inpirasi dari kisah-kisah dalam buku ini. Dengan begitu kita akan lebih giat lagi untuk Tahajud, Dhuha, dan Berpuasa. Tidak mustahil suatu saat kitalah yang merasakan sendiri mukjizatnya. Semoga buku ini bisa bermanfaat bagi pembaca, dan terlebih bagi diri saya sendiri.

Penulis

Jamaludin Rifai, S.Pd.I






DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAGIAN 1. KISAH SUKSES PENGAMAL SHALAWAT........................... 1
DIBALIK SUKSESNYA FADEL MUHAMMAD.......................................... 1
AA’ GYM, SELALU BASAH DENGAN SHALAWAT................................. 4

BAGIAN 2. PARA PENGAMAL TAHAJUD................................................. 8
AGUSTINI : TAHAJUD ATASI DEPRESI..................................................... 8
IDAN HERMANTO, SUKSES DALAM KARIER......................................... 10
ABDULRRAHMAN, SUKSES BERBISNIS................................................... 13
SUMANTRI, PEDAGANG KAKI LIMA SUKSES....................................... 16
WIJAYA: SEHARI DAPAT UANG RP 20 JUTA.......................................... 18
KISAH PROF. DR. MOH. SHOLEH................................................................. 21
TAHAJUDNYA PARA SAHABAT NABI  DAN PARA
PENGIKUTNYA................................................................................................. 26
PENYESALAN FULAN..................................................................................... 29
PERUBAHAN SIFAT FULAN.......................................................................... 33
SAID AL-HARITS DAN AL-KHALIDAH...................................................... 36
MENENANGKAN HATI DAN  MENJERNIHKAN PIKIRAN.................. 41
TAHAJUD MEMUDAHKAN REZEKI........................................................... 42
KISAH PEDANG MALAM AL-FATIH (SANG PEMBUKA)...................... 44
ABU YAZID AL-BUSTAMI BERTAHAJUD................................................. 48
BELI TIKET PESAWAT DENGAN SHALAT TAHAJUD.......................... 51
KEAJAIBAN TAHAJUD BAGI MUHAMMAD AKROM........................... 56
KISAH AJAIB BENI, SI PENGAMEN JALANAN....................................... 59
TAHAJUD MENDATANGKAN REZEKI  SECARA TIBA-TIBA............. 62
ARJUNA: LAKI-LAKI CACAT BERISTRI SALEHAH.............................. 65
BU MARTI: PENGUSAHA SUKSES  YANG RAJIN BERTAHAJUD...... 69

BAGIAN 3. PARA PELAKU SHALAT DHUHA........................................... 72
SECERCAH CAHAYA DI BALIK DHUHA................................................... 72
BURUH PABRIK SABUN MENJADI PENGUSAHA KONVEKSI............ 78
BERLIMPAHNYA HARTA ABDURRAHMAN BIN AUF.......................... 80
JUMLAH KEKAYAAN HARTA UMAN BIN KHATHAB.......................... 83
JUMLAH KEKAYAAN UTSMAN BIN AFFAN........................................... 85
DHUHA MENGANTARKAN REZEKI........................................................... 86
ALLAH MENGGANTI DENGAN YANG LEBIH BESAR.......................... 90
MUHAMMAD IHSAN: MERAIH BANYAK BEASISWA........................... 92
KISAH SEORANG TUKANG PIPA AIR........................................................ 96
PAK MONO: MEWAJIBKAN PEGAWAINYA SHALAT DHUHA........... 98
KISAH PILU SEORANG PEMULUNG.......................................................... 100
TRIANI OKTAVIANI PEROLEH UN-TERTINGGI.................................... 104
PAK MUSLIM: SI TUKANG BECAK YANG NAIK HAJI......................... 106

BAGIAN 4. PARA PELAKU PUASA.............................................................. 112
DRS. RULLY SETIAWAN; SUKSES MENJADI
PENGUSAHA KAYA RAYA............................................................................ 112
DEBBY HENDRIANSYAH; PEBISNIS KALIGRAFI KUNINGAN
KELAS EKSPOR................................................................................................ 115
MILFINA DEVI AGUSTINA, MENJADI BUPATI
PEREMPUAN PERTAMA DI KOTA KELAHIRANNYA.......................... 119
KISAH PENJUAL ULEKAN BATU................................................................ 123
KISAH PEDAGANG KOPRA........................................................................... 127
KISAH PENGEPUL RONGSOK...................................................................... 130
KISAH PENJUAL SURABI............................................................................... 133
KISAH PENGUSAHA MEUBEL...................................................................... 136
KISAH PENGEDAR MINYAK WANGI......................................................... 138
SEMANGAT BELAJAR TUMBUH KARENA RAJIN BERPUASA......... 142
PUASA DAUD MENGHILANGKAN DEPRESI........................................... 146
JONI ARIADINATA: SASTRAWAN YANG GEMAR BERPUASA......... 149
TIADA RASA SAKIT SEJAK PUASA SUNAH............................................. 151
IMAM MAWARDI: MENJADI PEGAWAI NEGERI
DENGAN BERPUASA....................................................................................... 156
KEAJAIBAN PUASA DAUD BAGI EMA...................................................... 160
KISAH SUKSES MUHAMMAD FUDHALI................................................... 161
KISAH HARU SUTRISNO, PENDERITA TUMOR...................................... 166
ABDULLAH BIN GHALIB: AROMA HARUM DARI KUBURANNYA.. 169
KEISTIMEWAAN YANG DIMILIKI USTAZ MUHYIDIN........................ 171
KISAH MENAKJUBKAN DARI SEORANG REKTOR.............................. 173
ABDULLAH BIN AMR BIN ASH: PENULIS YANG WARAK.................. 177
KISAH ACHAMAD: MENDAPAT BANYAK KEMUDAHAN................... 179
KEBERHASILAN SEORANG ANAK NAKAL............................................. 184
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 187

TENTANG PENULIS......................................................................................... 192



WIJAYA:
SEHARI DAPAT UANG RP 20 JUTA
Kali ini penulis mencoba menceritakan pengalaman Wijaya, seseorang guru yang mendapatkan uang 20 juta dalam satu hari. Ini mungkin adalah rezeki dalam kelapangan dari Allah untuk menjawab doa-doa yang dia ucapkan di setiap Tahajudnya. Berikut kisahnya.
“Waktu itu, saya benar-benar dalam keadaan sulit. Atap rumah saya baru saja roboh. Kayu penyangga genting sudah keropos di makan rayap. Begitu keropos di makan rayap. Tentu saya harus segera pindah, maka salah seorang anggota keluarga kami akan tertimpa genteng beton dari atap rumah. Saya pun langsung mencari rumah kontrakan dekat rumah. Dan Alhamdulillah saya dapatkan rumah kontrakan mungil satu pintu dan satu kamar. Kami pun sempat sebulan tinggal di rumah kontrakan yang sangat sederhana itu, yang bayaran per bulannya sebesar Rp 200.000 ribu rupiah.”
“Dalam tidur di rumah kontrakan, saya bermimpi bertemu dengan almarhum ayah. Di dalam mimpi itu, ayah berkata kalau saya akan mendapat rezeki yang cukup banyak. saya pun terbangung di malam hari yang sunyi. Seolah almarhum ayah benar-benar hadir dalam kehidupan nyata. Saya langsung ke kamar mandi mengambil air wudhu, kemudin melaksanakan shalat Tahajud. Di malam itu, saya berdoa. Semoga Allah memberi saya rezeki yang melimpah. Bila saya dapat rezeki, uang itu akan saya pakai untuk memperbaiki rumah peninggalan almarhum ayah.”
“Usai shalat Tahajud, saya pun tertidur, dan almarhum ayah datang lagi dalam mimpi sambil tersenyum. Entah apa yang beliau rasakan. Ayah hanya bilang, “Terima kasih sudah merenovasi rumah ini.” Pagi hari, saya terbangun dari mimpi. Adzan Shubuh terdengar dari masjid di dekat rumah. Saya pun segera meluncur ke masjid untuk melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. Rasanya damai, bisa melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. Saya pun tak lupa berdoa semoga hari ini diberikan rezeki yang melimpah.”
“Pulang dari masjid, saya langsung mandi, berpakaian dinas seorang guru, dan langsung berangkat sekolah dengan motor jadul saya. Satu jam kemudian, saya sampai di sekolah. Di parkiran motor, pak satpam sekolah memanggil saya.”Pak Wijaya, ada surat dari pusat perbukuan.” Begitu katanya. Saya pun langsung mengambil surat itu dimeja satpam. Sesampai di ruang guru, saya buka isi amplop itu. Ternyata, isinya adalah pemanggilan naskah buku pengayaan tahun 2009. Saya pun diminta untuk hadir di sebuah hotel berbintang di Jakarta.”
“Berapa hari kemudian, saya sudah berada di sebuah hotel mewah di Bilangan. Jakarta Barat. Saya bertemu dengan teman-teman finalis lainnya. Satu demi satu para finalis di wawancarai. Tak terkecuali oleh dewan juri. Malam hari, dewan juri mengumumkan pemenangnya. Saya terpilih menjadi juara pertamanya. Saya mendapatkan uang Rp 20.0000.0000,00. Sungguh, sebuah kejutan yang tak pernah terbayangkan. Saya pun menangis dalam kebahagiaan. Saya bersyukur dan sangat bersyukur atas terkabulnya doa yang saya panjatkan di setiap shalat dan shalat Tahajud.”
“Di dalam hotel, kami hitung uang itu. Bersama Pak John Wahyudi, teman sekamar yang juga mendapatkan uang yang sama, saya nikmati saat-saat menjadi seorang jutawan baru. Seorang guru yang tiba-tiba menjadi jutawan. Seorang guru yang sehari dapat uang cash Rp 20 juta rupiah. Sebuah kisah nyata yang harus saya bagikan kepada semua orang. Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk berbagi. Itulah kisah nyata seorang guru. Kini rumah saya sudah direnovasi. Pak John Wahyudi, teman sekamar saya waktu itu, sudah sempat bermalam di rumah kami.”
Shalat Tahajud memang memiliki kekuatan yang dahsyat untuk memecahkan persoalan hidup. Akan tetapi, tidak serta merta dengan shalat Tahajud kita langsung kaya, atau dengan shalat Tahajud kita langsung sembuh. Tetapi perlu adanya spirit Tahajud/ hasrat menjalani hidup, yang tercermin dari sikap pelakunya. Pelaku shalat Tahajud harus memiliki niat yang baik. Berniat haruslah tulus semata-mata karena Allah.
Selanjutnya, yang perlu dilakukan adalah berusaha, berdoa, dan bersyukur. Seseorang yang menjalani Tahajud secara rutin, tetapi tidak melakukan apa-apa, tentu bukanlah satu cara pandang yang baik. Selain bertahajud, seseorang diharuskan juga berusaha dengan semaksimal mungkin sehingga Allah benar-benar akan memberikan apa yang kita inginkan melihat usaha kita yang begitu kuat. Setelah berusaha, kita juga harus berdoa. Selesai shalat Tahajud, sempatkanlah berdoa, karena kekuatan doa sangatlah berpengaruh bagi terkabulnya doa itu sendiri. Jika seandainya Anda sudah diberikan kelapangan dan bantuan oleh Allah, jangan lupa bersyukur. Selain itu, yang tak kalah penting adalah meski pun kita sudah kaya ataupun sudah sembuh dari penyakit, tetaplah melakukan shalat Tahajud.



KISAH PROF. DR. MOH. SHOLEH
Sesungguhnya, di dalam malam hari ada satu waktu. Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah (memohon kebaikan dunia dan akhirat) di dalam itu, kecuali Allah pasti mengabulkan permohonannya. Waktu tersebut ada pada tiap-tiap malam.” (HR. Muslim)
Kisah ini datang dari penulis buku Terapi Shalat Tahajud. Beliau lahir di Kediri pada 9 Desember 1960. Sekitar 1982-an, beliau menderita penyakit kulit. Entah apa nama penyakit kulit yang dideritanya itu, karena masing-masing dokter yang dia temui memberikan diagnosis berbeda-beda. Ada yang menyatakan kanker kulit, eksim, albino, dan masih banyak yang lainnya. Di kulitnya timbul bercak-bercak berwarna putih kemerahan, yang dimulai dari atas pergelangan tangan kanannya dan menimbulkan rasa gatal. Kurang lebih tiga tahun ia menghadapi penyakit ini, tapi penyakit itu terus menjalar hingga hampir ke seluruh sendi tubuhnya. Kepala bagian depan dan belakang, kedua telinganya, hidung, kedua siku tangan, pinggang, kedua pergelangan tangan, kedua lutut, dan kedua pergelangan kaki.
Tentu saja penyakit tersebut membuatnya sedih, takut, dan cemas, karena dikhawatirkan penyakit ini akan mengganggu kenyamanan orang lain. Hal ini, terlihat setiap berinteraksi dan berjabat tangan dengan orang lain, mereka selalu memalingkan muka dan kurang menunjukkan sikap ramah. Bahkan dia pernah tidak dizinkan menyaksikan acara pernikahan adik kandungnya sendiri. Alasannya, khawatir jika penyakit ini membuat para undangan merasa tidak nyaman.
Tidak sebatas itu saja yang dia khawatirkan, melihat kondisinya yang seperti itu, sangatlah jarang ada gadis yang mau mendekatinya, karena khawatir penyakit tersebut akan menyebar keseluruh tubuh dan akhirnya akan berakibat fatal. Meskipun ada gadis yang mau dengannya, masalah lain juga muncul dalam benaknya, bagaimana nanti jika dia memiliki anak, kemudian anaknya merasa sedih dan minder karena memilki ayah yang memiliki kulit tidak normal.
Alhamdulillah, pada tahun 1984, beliau pun menikah dengan seorang perempuan yang baik dan mau menerima kekurangannya. Setelah menikah, penyakit kulitnya tidak berkurang, malahan melebar dan menjalar ke seluruh bagian tubuh. Sebenarnya dia sudah mencoba berobat, baik melalui pengobatan medis murni, maupun pengobatan laterntif. Hampir semua dokter spesialis kulit yang ada diberbagai kota ia datangi, bahkan ia pernah berobat ke dokter spesialis kulit yang ada diberbagai kota ia datangi, bahkan ia pernah berobat ke dokter spesialis kulit di Blitar, tapi tidak berhasil, malah dahi, pipi, dan kulit tangannya menjadi melepuh. Melihat hal tersebut, dia tetap sabar. Dia yakin suatu saat Allah akan menyembuhkan penyakitnya. Dia yakin, Allah akan memberikan jalan terbaik untuknya.
Karena berbagai cara pengobatan sudah dilakukan dan tidak mendapat hasil yang dinginkan, akhirnya para dokter yang dia kunjungi menyerah, mereka tidak mampu mencari obat yang sesuai. Mereka mengatakan bahwa penyakit kulit yang dideritanya adalah penyakit langka dan belum ada obatnya. Dari sana, dia mulai pasrah dan mencoba menerima kenyataan yang dialaminya. Dia semakin memperkuat agamanya dengan mendekatkan diri kepada Allah, selain shalat lima waktu, shalat Tahajud tak pernah ketinggalan dilakukannya. Waktu malam dia habiskan untuk bertahajud dan bercakap-cakap dengan Tuhannya, yakni sekitar pukul 23.00 WIB hingga subuh.
Beliau menyerahkan seluruh urusan kepada Allah, sebagaimana tertera pada penggalan bait doa berikut ini, “Ya, Allah! Sekiranya Engkau menguji diri kami secara pribadi, Insya Allah saya akan sabar menerima. Tetapi ya, Allah! Yang Engkau ujikan kepada kami ini adalah suatu penyakit yang mengganggu kenyamanan dan mendapatkan fitnah yang mengganggu kenyamanan dan mendatangkan fitnah bagi orang lain. Orang lain menjadi tidak nyaman ketika melihat kami. Oleh karena itu, Ya Allah! Sembuhkanlah penyakit kulit kami. Silahkan Engkau pilih satu di antara dua pilihan, Engkau kembalikan kulit kami ini menjadi lebih baik, bersih dan menawan. Ya Allah, Tuhan kami. Tuhan sumber segala kesembuhan. Kirimkan kepada kami dari sisi-Mu para malaikat untuk menyembuhkan penyakit kami.”
Selama waktu kurang lebih 2-3 tahun, kelihatannya Allah mengabulkan doanya, dengan mengubah dan memutihkan seluruh kulitnya seperti yang terlihat sekarang. Belajar dari pengalaman spiritual yang dilakukannya, dia dapat menyimpulkan bahwa doa hamba akan banyak dikabulkan manakala sang hamba tidak mempunyai kesombongan. Yang dimaksud kesombongan di sini adalah apabila sang hamba masih terasa ada sesuatu selain Allah yang bisa menolong, membantu, atau menyembuhkan.
Masalah lain yang unik yang pernah terjadi padanya adalah proses perolehan bantuan biaya penelitian disertasi. Ketika kuliahnya hampir berakhir, dia menghadapi kesulitan mendapatkan biaya penelitian yang jumlahnya relatif besar. Dana yang dibutuhkan untuk biaya tersebut sebesar 45 juta, dia merasa bingung mencari uang segitu banyaknya. Jangankan untuk biaya penelitian, untuk membayar SPP dan Heregistrasi saja sangat susah. Ditambah lagi pada waktu ekonomi bangsa di tengah menghadapi krisis moneter pada tahun 1998.
Untuk memecahkan kebutuhannya itu, beliau berusaha mengajukan proposal dan permohonan ke beberapa instansi, dan terlebih lagi adalah dengan tidak menyia-nyiakan waktu malamnya. Saat malam yang telah dijalaninya selama ini lebih ditingkatkannya. Pada malam yang hening, dia mulai lebih ditingkatkannya. Pada malam yang hening, dia mulai terbenam dalam Tahajud dan memohonon kepada-Nya. Akhirnya, buah manis dari shalat Tahajud mulai kelihatan.
Besok harinya, Allah mengirimkan pertolongan kepadanya. Sekitar jam 13.00 WIB, ketika beliau hendak mempresentasikan proposal penelitiannya di hadapan para dokter peserta seminar, ada seorang laki-laki memanggilnya, sedang dia sendiri tidak mengenalnya. “Apakah Anda yang bernama Pak Sholehah?” mendengar hal tersebut, dengan ramah beliau menjawab. “Ya, betul”. Laki-laki yang belakangan ternyata bernama dr. Kabat, Sp.P, tersebut berkata, “Saya dengan Anda sudah lulus ujian akhir, tinggal disertasinya, kan?” dengan agak bingung beliau membalasnya, “Bapak tahu dari mana saya sudah selesai?”
“Dari profesor Kunten, ahli Imunologi.” Jawabnya singkat. Ringkas cerita, akhirnya laki-laki itulah yang membantu semua biaya penelitiannya. Dia begitu bersyukur mengenal laki-laki sebaik itu. Inilah hal indah yang pernah beliau alami. Tampaknya cerita beliau tentang kedahsyatan shalat Tahajud tidak habis sampai di sini, dia juga pernah mengalami kejadian yang paling menginspirasi lagi. Setelah pendidikan formal tingkat paling tinggi ditempuhnya, yakni pada tahun 2000, gelar profesor ia dapatkan empat tahun kemudian, yakni pada 2004. Melihat apa yang telah diraihnya sampai sekarang, beliau merasa masih ada yang kurang, yaitu keinginannya untuk menunaikan ibadah haji. Sebagaimana muslim lainnya, beliau juga memiliki keinginan kuat untuk pergi ke Tanah Suci.
Namun, di sini timbul masalah baru, masalah yang sama ketika proses perolehan bantuan biaya penelitian disertasinya. Kali ini, beliau juga terbentur masalah biaya, sedang keinginan yang amat mendalam itu, setiap menyaksikan di layar kaca seremoni jamaah haji yang sedang tawaf, sai, dan melempar jumrah, beliau langsung menitikkan air mata. Setiap habis shalat, baik shalat fardhu dan shalat Tahajud, beliau selalu berdoa kepada-Nya tentang keinginannya tersebut. Doa tersebut dibacanya setiap selesai shalat Fardhu dan shalat Tahajud sepanjang pertengahan 2004.
Pada awal 2005, ada titik terang yang mulai datang kepadanya. Seorang temannya menawarkan kepadanya untuk ikut program arisan haji. Istrinya pun ikut mendorongnya untuk ikut program tersebut. Akan tetapi, saat itu dia selalu menolaknya karena dia tidak mau mengambil resiko nantinya. Hal yang dipikirkannya adalah, bagaimana kalau nanti beliau meninggal dunia, sedang ia memiliki tanggungan arisan haji. Masih dalam tahun yang sama, hanya selang kurang lebih dua bulan saja, apa yang dia idam-idamkan itu akhirnya terwujud, yang lebih menarik dan membuatnya sangat bersyukur adalah ia pergi haji tanpa biaya sendiri. Bagaimana bisa?
Saat itu, beliau menjadi bintang tamu Ustaz Abu Sangkan dalam sebuah training shalat khusyuk di Bank Indonesia Pusat, Jakarta. Saat menutup pemberian sesi materi “Shalat dalam perspektif Kesehatan.” Seorang lelaki setengah baya langsung mendekatinya dan merangkul pundaknya. Setelah melepaskan kedua tangannya, dan sedikit mundur, beliau berkata. “Ustadz kelihatannya belum pernah haji?” saya menjawab. “Ya betul. Memang selama ini saya memfokuskan diri pada pendidikan. Ya, semoga Allah memudahkan saya untuk segera bisa haji.” Jawabannya dengan menyunggingkan senyuman.
Sungguh, suatu hal yang tidak diduga-duga oleh belaiu, ternyata laki-laki yang memeluknya tadilah yang bersedia mengajak dan menawarkan haji kepadanya. Melihat kenyataan itu, beliau seakan tidak percaya dan terasa seperti mimpi, beliau tidak mampu menahan air mata kebahagiaan. Sekitar dua minggu setelah itu, seorang pengacara dari Jakarta. Satu angkatan dengan alumni Training shalat Khusyuk, bersama dengan 4 orang temannya bersilaturahmi ke rumah beliau untuk menawarkan pergi haji. Karena beliau sudah ditawari oleh laki-laki yang dikenalnya ketika menjadi bintang tamu beberapa minggu yang lalu, akhirnya orang tersebut menawarkan kepada istri beliau tanpa kenai biaya pula. Akhirnya, beliau berangkat bersama sang istri ke Tanah Suci. Apa yang diimpi-impikannya selama ini terwujud juga. Sungguh kisah yang begitu menggugah. Semoga kisa bisa memetik pelajaran yang terkandung di dalamnya.







TAHAJUDNYA PARA SAHABAT NABI
DAN PARA PENGIKUTNYA
Banyak sekali kisah-kisah tentang kebiasaan sahabat-sahabat Nabi Saw. Yang bisa menginspirasi kita agar semakin menguatkan ibadah kita. Memberikan inspirasi kepada kita untuk mulai melakukan shalat Tahajud. Karena shalat Tahajud merupakan shalat sunnah yang mengandung banyak keajaiban. Selain itu, shalat malam ini membuat kita sangat dekat denganNya, karena di saat orang lain terlelap pulas, kita sibuk dengan doa-doa dan bercakap-cakap dengan Allah, Tuhan semesta alam ini, sehingga memiliki peluang yang besar bagi terkabulnya doa.
Di antara tradisi-tradisi para sahabat Nabi Saw. Diriwayatkan bahwa Umar Bin Khathtab Ra, biasa berjalan sambil membaca ayat-ayat Al-Qur’an sebagai wiridnya di malam hari, hingga dia pingsan dan terjatuh. Akhirnya, dia dikunjungi banyak sahabat selama beberapa hari, layaknya menjenguk orang sakit.
Kemudian, seorang saleh yang tiba dari suatu perjalanan. Tempat tidur yang empuk telah disiapkan untuknya dan akhirnya ia pun terlelap tidur hingga pagi, lepaslah Tahajud dan wiridnya. Maka dia bersumpah bahwa sesudah malam itu tidak akan pernah tidur di atas tempat tidur.
Apabila malam telah larut, biasanya Abdul Azis bin Rawwab mendatangi pembaringannya, seraya tangannya menepuk tempat tidur tersebut dan berkata, “Wahai, kasur! Engkau sungguh empuk. Tetapi demi Allah, sesungguhnya yang di surga lebih empuk darimu!” selesai berkata demikian, dia meneruskan shalat malamnya hingga tiba waktu Shubuh. Al-Fudhail berkata, “Aku menghadapi permulaan malam yang tersisa begitu panjang. Lalu mulai membaca Al-Qur’an dan ternyata waktu Shubuh telah datang sebelum bacaanku selesai.”
Adapun Ibnu Mas’ud Ra, ketika orang lain tengah tidur lelap, ia biasa bangun malam, kemudian terdengar suaranya badai lebah berdengung sampai tiba waktu Shubuh. Diriwayatkan bahwa Sufyan ats-Tsauri pada suatu malam terlalu kekeyangan, maka ia berkata, “Keledai akan ditambah pakannya jika bekerja lebih banyak.” kemudian, ia shalat sepanjang malam itu hingga pagi hari. Sementara ath-Tha’us Ra. Bila tidur di tempat pembaringannya ia merasa terpanggang, bagaikan biji kacang di atas penggorengan. Sehingga ia pun melompat bangun, dan melakukan shalat malam hingga waktu Shubuh. Lalu ia berkata, “Bayangan neraka Jahanam telah menyusup ke dalam impian mereka yang rajin beribadah!”
Al-Hasan Ra. Berkata, “Kita ketahui bahwa tidak ada yang lebih berat daripada bertahan untuk beribadah sepanjang malam, dan membelanjakan harta.” Ketika ada yang bertanya. “Apakah orang yang melakukan shalat malam termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tampan wajahnya?” mengenai ini ia menjawab, “Karena ia bermunajat dengan Yang Maha Pengasih, maka Allah Swt. Membungkus tubuh orang tersebut dengan cahaya-Nya.”
Al-Hasan Ra, berkata, “Orang yang berniat berbuat dosa dan karena niatnya itu, ia diharamkan untuk bangun malam.”
Al-Fudhail berkata, “Apabila engkau tidak sanggup bangun malam dan berpuasa pada siang hari, maka sebenarnya engkau sedang terhalangi dari pahala, karena banyaknya dosa yang telah engkau perbuat.” Hasan bin Shalis memiliki seorang budak perempuan, yang suatu hari dijualnya kepada seseorang. Tengah malam, budak perempuan tersebut bangun, kemudian berseru, “Wahai, penghuni rumah, bangunlah! Shalat! Shalat!” seisi rumah terbangun, dan kemudian budak tersebut bertanya, “Adakah tuan-tuan ini hanya mengerjakan shalat Fardhu yang lima saja?” ketika seisi rumah membenarkan, maka si budak kembali pulang kepada Hasan seraya berkata, “Wahai, Tuan! Anda telah menjualku kepada keluarga yang hanya melaksanakan shalat Fardhu saja, bawalah aku kembali!” kemudian Al-Hasan mengambil budak itu kembali.
Dikisahkan bahwa ketika Masruq pergi haji, ia tidak pernah tidur di malam hari kecuali sekadar bersujud. Dan diriwayatkan berdasar otoritas Azhar bin Mughits salah seorang yang istikamah dalam mendirikan shalat malam, yang mana suatu ketika ia berkata, “Aku bermimpi bertemu perempuan yang sangat cantik, seolah bukan perempuan biasa, lalu aku bertanya kepadanya, “Siapakah engkau?” dan perempuan itu menjawab. “Aku adalah bidadari surga.’ Kemudian aku meminangnya sebagai istri, dan ia menjawab, ‘Datanglah kepada Tuanku, dan bayarlah maskawin bagiku!’ ‘Apa maskawin yang engkau minta?’ tanyaku. Diapun menjawab, ‘Shalat Tahajud yang panjang!”
Yusuf bin Mihran berkata, “Aku telah mendengar bahwa di bawah Arsy ada malaikat yang berwujud seekor ayam jago/jantan. Kukunya dari intan permata, dan tajinya dari zamrut hijau. Ketika lewat sepertiga malam yang pertama, ia mengepakkan sayapnya dan berkokok, “Bangunlah wahai orang yang rindu Tahajud!” ketika lewat tengah malam, ia melakukan hal yang sama. Dan ketika masuk pada sepertiga malam yang terakhir, kembali mengepakkan sayap dan berkokok, “Bangunlah, wahai orang yang rindu Tahajud!” akhirnya, ketika fajar merekah, kembali mengepakkan sayapnya dan berkokok, “biarlah orang-orang lalai, menanggung beban dosanya sendiri!”
Al-Mughirah bin Habib telah berkata, “Aku perhatikan bahwa Malik Bin Dinar berwudhu setelah shalat Isya, lalu pergi dan berdiam diri di tempat shalat. Ia mengusap-usap janggutnya dan dengan berlinangan air mata, mulailah ia berdoa, “Ya, Allah sesembahanku! Jauhkanlah uban Malik ini dari neraka! Sungguh, Engkau telah mengetahui penghuni surga dan penghuni neraka. Maka siapa salah satu di antara dua Malik?” Ia senantiasa berdoa demikian hingga tiba waktu fajar. Dalam sebuah riwayat dikatakan pula bahwa Malik bin Dinar pernah berkata, “Suatu malam aku tertidur, sehingga lupa dengan wiridku. Dalam mimpi aku berjumpa dengan seorang gadis cantik jelita. Di tangannya tergenggam selembar kertas dan ia pun bertanya, ‘Dapatkah engkau membaca dengan baik?’
Ketika kukatakan bisa membaca, ia memberikan kertas tersebut kepadaku, yang mana tulisan-tulisannya terbaca, ‘Adakah kesenangan dan keinginan-keinginan dengan gadis cantik jelita telah menjauhkanmu dari surga? Di sana engkau akan kekal dan dapat bermain-main dengan gadis cantik jelita yang engkau temui. Daripada bermimpi, lebih baik bertahajud dan membaca Al-Qur’an hingga fajar tiba.” Subhanallah! Benar-benar mengharukan kisah-kisah mereka. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut.

PENYESALAN FULAN
Pembaca yang budiman, kali ini kita akan bercerita tentang kisah seorang yang larut dengan organisasi di kampusnya, yang akhirnya membuatnya menyesal telah menyia-nyiakan usaha dan kerja keras yang telah dilakukan orangtuanya demi menguliahkannya. Tahajudlah yang membuatnya berubah dan merancang berbagai hal untuk mengubah semua kebiasaannya. Termasuk juga di dalamnya kisah Fulan yang tidak juga kalah menginspirasi.
Memang, organisasi kampus adalah wadah yang baik bagi perkembangan dan kreativitas Mahasiswa, akan tetapi kita harus bisa menyimbangkan antara organisasi dan kegiatan pembelajaran di kampus. Jangan sampai tujuan utama kita untuk belajar malah terabaikan karena organisasi di kampus. Karena bagaimanapun juga, tujuan utama masuk Perguruan Tinggi adalah untuk belajar. Jika menginginkan mengikuti suatu organisasi tidak ada masalah, tetapi jangan sampai mengabaikan tujuan utama kita. Penyesalan adalah salah satu akibat yang ditimbulkan jika mengabaikan pembelajaran di kampus dan mengutamakan berdemo ataupun memasuki organisasi kampus lainnya. Inilah yang terjadi pada Fulan.
Fulan, seorang yang kuliah di salah satu kampus negeri di Yogyakarta. Dia jauh-jauh dari Cilacap, berbagai cerita heroik tentang perjuangan mahasiswa menentang ketidakadilan telah terekam dalam benaknya sejak sebelum menjadi mahasiswa. Itulah sebabnya, begitu kakinya menginjakkan kaki di bangku perkuliahan, informasi pertama yang dicarinya adalah tentang keberadaan organisasi-organisasi kampus, mulai dari rapat ke rapat, pelatihan ke pelatihan, seminar ke seminar, diskusi ke diskusi, malang melintang di dunia organisasi mahasiswa membuatnya sangat kaya pengalaman hidup.
Tahun demi tahun dia manfaatkan untuk fokus pada organisasi kampus. Berdemo ataupun berdiskusi dari satu forum ke forum lainnya. Itulah yang dia lakukan. Dia tidak sadar bahwa dia sudah membelakangkan kepentingan belajarnya. Bahkan, dia lupa bagaimana susahnya orangtuanya di rumah mencarikan biaya untuk belajar, akan tetapi dia malah mempergunakannya hanya untuk berorganisasi.
Tak pernah terpikir oleh Fulan ia telah berada di semester atas. Ia melalui ospek demi ospek, dari tahun ke tahun. Dengan rasa bangga karena berdiri gagah di hadapan mahasiswa baru juniornya. Dan seorang adik kelasnya di masa SMA, kini menjadi adik tingkatnya juga di kampus, dan mulai bercerita tentang perkuliahan mereka. Adik kelasnya itupun mulai bercerita menanyakan tentang kepintarannya dulu waktu di SMA.
Mendengar hal itu, dia langsung terperangah dalam hati, karena dia sadar bahwa sekarang dia bukanlah anak yang rajin seperti saat di SMA, karena dipungkiri atau tidak, sekarang dia tidak lagi rajin seperti dulu. Bahkan diusia akademiknya yang berada di ujung tanduk, dia sama sekali belum mencari judul skripsi dan juga belum menyelesaikan beberapa matakuliah karena kemalasannya. Yang ada sekarang, dia hanya memfokuskan diri untuk kegiatan organisasinya dengan mengabaikan perkuliahannya sendiri. Jika diingat-ingat lagi, dia terkenal karena kepintaran dan kerajinannya belajar. Tetapi, sekarang tidak ditemui lagi pada dirinya.
Saat seperti ini, dia benar-benar kalut, antara kekhawatiran tidak mampu menyelesaikan kuliah, perasaan bersalah kepada orangtua, dan sekaligus rasa pesimis yang menghunjam. Detik demi detik, dia terus merasa khawatir. Suatu saat, mendadak Fulan diingatkan akan suatu hal, Tahajud. Entah bagaimana caranya Tuhan mengirimkan pesan tersebut kepadanya, inilah satu hal yang tak pernah terpikir oleh Fulan, bahkan dia merasa sangat asing dengan yang namanya Tahajud. Meskipun kenyataannya dia adalah aktivis masjid kampus. Tetapi dia tidak begitu paham untuk mengamalkan ibadah seperti berpuasa ataupun bertahajud.
Seperti banyak orang bilang, bahwa apa yang digemar-gemborkan tidak selalu dapat ditunaikan dengan sempurna, termasuk Tahajud itu sendiri. Ia ingat betul bagaimana ia mendoktrin adik tingkatnya untuk tekun beribadah kepada-Nya, dan melakukan Tahajud dengan rutin. Namun, harus diakuinya, ia tidak sebaik yang dikatakannya kepada adik-adik tingkatnya itu. Mengingat hal itu, dia semakin merasa bersalah, terutama kepada kedua orangtuanya. Di tengah keheningan malam, ia mulai memarkirkan dirinya beberapa waktu di ruangan kosnya, dan diabaikannya beberapa kegiatan yang telah menantinya. Di kesunyian malam, ia bermunajat kepada-Nya. Merenungkan kembali apa yang telah dilakukannya. “Saat itu, saya benar-benar seperti berdiri di hadapan-Nya seorang diri. Allah benar-benar seperti memunculkan segala memori perjalanan saya hingga saat bertahajud itu, saya ingat dengan orangtua yang menanti saya di rumah dengan penuh harapan agar saya belajar dengan baik, lulus kuliah, dan bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus. Memang saya masih memiliki beberapa adik bersekolah. Orangtua berharap, selain meringankan beban orangtua dengan cepat lulus kuliah, saya dapat segera bekerja dan membatu mereka mencarikan biaya sekolah adik-adik.” Kenang Fulan dengan sedih.
Ketika Tahajud itu, Fulan benar-benar menemukan makna penting dari doa kepada Tuhannya. Detik-detik bermunajat kepada-Nya itulah yang membuat keinginannya tumbuh. Betapa orangtua telah berjuang keras untuk membesarkannya, tidak semata fisik, tetapi juga yang lain termasuk intelektualitas. Tapi apa yang telah diberikannya? Kebanggaan? Bukan. Akhirnya, dia menyadari dan mengambil suatu kesimpulan bahwa selama ini dia terlalu heroik berdemonstrasi ke sana kemari, mengisi diskusi ke mana-mana, akan tetapi dia menghabiskan pelajarannya sebagai tujuan utama masuk Perguruan Tinggi.
Inilah yang menyetak kesadaran Fulan, hingga di tengah Tahajud itu pula ia merancang kuliah. Ia mendaftar mata kuliah yang belum selesai, memasang target baru dengan waktu masih tersisa, termasuk merencakan berbagai kemungkinan jalan untuk penyelesaian skripsinya.
Langkah paling revolusioner yang dilakukannya adalah dengan menjual HP satu-satunya. Ia ingin menciptakan keheningan diri dengan menunda hal lain yang tidak terkait urusan studinya, ia telah memasang target, dalam waktu 1 tahun kedepan, ia harus lulus.  Ia tekuni kuliah yang tersisa, satu demi satu, tak perduli kuliah bersama dengan adik-adik tingkatnya yang semester 1. Dia tidak mempedulikan apa kata adik-adik kelasnya yang memandang rendah terhadap dirinya. Bahkan dia pernah disindir oleh dosennya dengan mengatakan, “Hari ini, saya kuliah dengan ditemani seorang asisten dosen.” Tentu hal ini membuatnya ditertawakan oleh adik-adik tingkatnya di kelas. Tetapi ia tak perduli, semangatnya tetap sama, dan ia memiliki keyakinan yang kuat untuk bisa lulus demi orangtuanya.
Akhirnya, skripsi diselesaikannya dengan cepat. Sebagai aktivis mengumpulkan dan menganalisis data bukanlah hal yang sulit. Dengan beberapa kali bimbingan, ia telah berhasil menyelesaikan skripsi tepat di saat tinggal menunggu mata kuliah terakhirnya. Akhirnya, tepat di ujung usia akademiknya, ia berhasil menyelesaikan kuliah. Ia berterima kasih kepada adik tingkatnya yang membuat dia tersadar, dan Allah yang telah menggerakkan mukjizat Tahajud di tengah keheningan malam.
“Saya merasakan benar di tengah kesunyian itu, ada yang membimbing saya untuk merenung, mengeksploitasi kembali apa yang salah dan saya lakukan, dan apa yang terjadi esok. Itu melahirkan kekuatan bagi saya untuk segera menyelesaikan kuliah.” Subhanallah.




PERUBAHAN SIFAT FULAN
Fulan adalah seorang dosen senior yang low profil. Sikap hidup itu tidak muncul secara tiba-tiba, tapi melalui proses tahajud. Mula-mula ia seorang dosen yang killer bagi mahasiswanya, memberi tugas kuliah berat yang seakan-akan tak sanggup dikerjakan mahasiswa yang penuh dengan tumpukan tugas-tugas. Selain itu, dia dikenal sebagai dosen yang tidak bersahabat dan tidak berkomunikasi penuh dengan mahasiswanya saat melakukan pembelajaran. Baginya, begitulah cara menjadi dosen, sebagaimana dicontohkan oleh dosennya terdahulu.
Dalam hal memberi nilai Indeks Prestasi (IP), ia berusaha memberi nilai seobjektif mungkin, bila dia melihat mahasiswanya tidak mampu memenuhi syarat penilaian yang telah diberikannya, mereka tidak akan mendapat nilai minimal B, karena nilai B tersebut adalah sebuah keberuntungan bagi mereka. Di suatu hari, Fulan mendapat tugas menguji skripsi mahasiswanya. Di antara tumpukan tugas-tugas para mahasiswa, juga tugas akhir yang harus diuji, dia menekur diri selepas shalat Isya.
Didepannya terhampar kertas dan pena, diterangi lampu yang setia menemaninya semenjak masih menjadi seorang mahasiswa. Malam itu, dia harus bekerja mempelajari skripsi yang hendak diujinya. Tak tanggung-tanggung, ini jelas bukan skripsi biasa. Karena pemiliknya adalah mantan aktivis mahasiswa yang bergeliat di berbagai kegiatan mahasiswa, termasuk juga pers kampus. Bukan apa, bagi Fulan, mahasiswa pemilik skripsi ini jelas calon korban yang dikuliti dengan alasan sepele, “perilaku seenaknya yang kerap dipraktikkannya dalam kehidupan kampus.”
Mahasiswa ini dikenal sebagai sosok yang tak pernah lelah menguliti berbagai kebijakan kampus, kebijakan kampus seperti tidak ada yang benar di matanya. Sebagai seorang aktivitis pers kampus, ia benar-benar menempatkan pers sebagai anjing penjaga kampus dari kebijakan-kebijakan yang menyimpang. Tulisannya lebih dari pedang yang menyayat. Itulah yang menanghabiskannya sebagai mahasiswa paling dikenal sekaligus paling diburu para dosen. Makanya, ketika dia berhasil menyempurnakan status kemahasiswaannya dengan menyerahkan skripsi untuk diuji, banyak dosen yang terhenyak.
Biasanya, orang yang aktif dalam pers kampus sangat susah untuk dikritisi, justru dialah yang akan mengkritisi. Sehingga Fulan sebagai dosen penguji, dituntut untuk benar-benar mempelajari skripsi yang dibuat oleh salah satu mahasiswanya itu. Di tengah kondisi seperti itu, banyak orang berharap agar Fulan sebagai penguji benar-benar mampu menggeluti skripsi itu, ini jelas bukan tugas yang mudah. Selain skripsi tersebut ditulis dengan tak biasa, gaya bahasa yang lebih rumit dibandingkan skripsi mahasiswa lainnya, juga dapat dipastikan penulisannya memiliki kemampuan nalar berpikir dan wawasan pengetahuan yang lebih luas dan mendalam.
Dia tidak mau begitu saja menyerah. Dibacanya skripsi itu dengan cermat, diberinya coretan penanda beberapa hal penting yang patut dikritisi. Tak diduga olehnya, hingga pukul 01.00 malam, ia belum tuntas mempelajari skripsi yang hendak diujinya esok hari. Ini luar biasa, karena biasanya ia cukup membaca sekilas skripsi yang hendak diujinya, lantas dengan sedikit basa-basi dan otoritas akademik yang dimiliki, ia akan “membantai” mahasiswa yang akan diujinya.
Sejenak menghilangkan lelah, ia mengambil wudu dan menyempatkan diri untuk shalat Tahajud, sesuatu yang asing baginya. Karena dipungkiri atau tidak, selama ini dia sangat jarang beribadah malam, apalagi untuk shalat Tahajud. Meski terkesan aneh, ia tetap melakukannya, ia membutuhkan semacam dukungan moril dan pengetahuan diri untuk menguji mahasiswanya. Dia tidak mau terkesan sebagai orang yang tidak mampu menghadapi mahasiswanya sendiri, karena itulah dia bela-belain untuk mempelajari skripsi itu dengan cermat. Dia merasakan ada yang aneh dalam Tahajudnya.
Berbagai kesan yang ditangkapnya dari membaca skripsi itu muncul, berjalin kelindan dengan berbagai citra penulisannya yang pernah muncul dibenak para dosen, termasuk dirinya. Fulan merenung di tengah Tahajud itu. Ia puaskan dirinya untuk berpasrah diri kepada-Nya. Ia ingin mendapatkan suntikan tenaga guna menguatkan perannya sebagai penguji. Dalam Tahajud itu, ia mendapat hal baru dalam memahami seorang mahasiswa. Di tengah Tahajud itu, dia juga mengakui rasa malunya sebagai dosen yang belum juga berkarya dan menulis buku yang bermutu. Padahal dari skripsi itu ia mempelajari banyak hal seperti membaca sebuah buku.
Fulan telah memutuskan, dan ketika esok harinya, dia tidak seperti biasanya, ia menyebarkan senyum bahagia, bukan bentuk wajah seram dan sangar yang diperlihatkan biasanya. Dalam sesi yang diberikan ketua penguji, ia pun menyampaian, “Selamat, Anda telah berhasil membuat sebuah disertasi penting tentang masalah ini. Saya tidak akan bertanya aneh-aneh seperti biasanya, tetapi saya menyampaikan masukan dan usulan agar skripsi ini Anda tawarkan kepada penerbit untuk diterbitkan.”
Inilah babak baru dari pelajaran seorang dosen bernama Fulan. ketika mengajar, dia tidak lagi terpaku kepada persepsi dan teks diktat yang dibuatnya. Malah ia kini menerapkan hal lain, seperti memberi nilai pada mahasiswa yang berani berbicara di kelas, dan bagi mahasiswa yang menulis makalah. Saat membimbing skripsi ia mulai cerdas, tidak lagi terpaku kesalahan huruf demi huruf, kata demi kata, letak, dan sebagainya.
Ia memberikan catatan penting untuk mengembangkan materi skripsi itu, dan berusaha mengembangkan mahasiswa yang dibimbingnya. Inilah makna berlapang dalam majelis bukan semata membangun ruangan yang luas agar orang tak berdesak-desakkan, melainkan kesiapan untuk mendiskusikan dan menerima pendapat orang lain. Menuntut ilmu pun menjadi ajang untuk mengembangkan pemikiran dan membangun tradisi intelektual, bukan menghakimi dan mematikan potensi pemikiran seseorang.
Kini, Fulan adalah idola baru dikalangan mahasiswa. Ia tidak saja membimbing beberapa mahasiswa yang skripsi, tetapi juga sedia setiap kala untuk berdiskusi dengan mahasiswa. Ia tidak lagi terpaku di balik meja kerjanya, tapi menyapa mahasiswanya di sanggar. Buah Tahajudnya memunculkan rasa pengabdian sejati dari seseorang dosen yang mendorong munculnya tradisi intelektual.
Cara yang dilakukan Fulan patut di contoh. Karena tidak setiap orang sempurna, pasti ada sisi buruk yang membuat orang tidak menyukai kita. Seperti kisah tadi misalnya, dia tidak disukai oleh mahasiswanya karena bersikap tidak ramah, tidak bersosialisasi dengan mahasiswanya. Sehingga dengan begitu kita perlu mengintrospeksi diri, apa yang menyebabkan orang lain tidak menyukai kita. Dengan shalat Tahajud, pikiran kita akan mulai terbuka, dan berani mengubah cara pandang dan perilaku yang salah menjadi lebih baik. Inilah yang akhirnya didapatkan oleh Fulan, dia yang dulunya tidak disukai oleh mahasiswanya, sekarang justru menjadi dosen idola.

TENTANG PENULIS
Penulis bernama Jamaludin Rifai lahir di Gorontalo 27 Juni 1986. Penulis  berasal dari Provinsi Gorontalo. Penulis adalah anak ke 7 dari 7 orang bersaudara. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar penulis mempunyai bakat yaitu menulis dan mengarang. Penulis pernah kuliah di salah satu kampus yang berada di Gorontalo yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tahun 2011, penulis berhasil menjadi alumni Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Pada tahun 2015, penulis berhasil menamatkan pendidikanya S1.
Meski masih tergolong pada tahap awal belajar, penulis hobi membaca buku-buku novel horor, dan suka membaca buku-buku Bahasa Inggris, buku-buku motivasi, Penulis bercita-cita menjadi penulis yang terkenal melalui bukunya: RAHASIA SUKSES PARA PENGAMAL SHALAWAT, TAHAJUD, DHUHA DAN PUASA.
Penulis dapat di hubungi melalui emailnya: jamaludinrifai442@gmail.com atau menghubungi kontak : 0853-4000-8577

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEREKA ADA DI SEKITAR KITA

MEREKA ADA DI SEKITAR KITA 2

SETETES HIDAYAH