RAHASIA SUKSES PARA PENGAMAL SHALAWAT, TAHAJUD, DHUHA DAN PUASA
JAMALUDIN
RIFAI, S.Pd.I
RAHASIA
SUKSES PARA PENGAMAL SHALAWAT, TAHAJUD, DHUHA DAN PUASA
KISAH-KISAH
INSPIRASI PELANCAR REZEKI, KESEHATAN, KEKAYAAN, KECERDASAN DAN KEBERKAHAN
“Demi Allah, Sungguh Aku Memohon
Ampun Kepada Allah Dan Bertaubat Kepada-Nya Dalam Sehari Lebih Dari Tujuh Puluh
Kali.” (HR. Bukhari)
KATA PENGANTAR
Dengan
menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Saya bersaksi bahwa
tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Puja dan puji syukur
kehadirat Allah Swt. Shalawat dan salam semoga terlimpah ke haribaan junjungan
kita Nabi Muhammad Saw. Beserta keluarganya dan sahabat-sahabatnya yang setia.
Banyak
kisah-kisah inpiratif tentang keberkahan Shalawat, Tahajud, Dhuha, dan Puasa
yang tersulubung di sekitar kita, hanya saja kita tidak mengetahui akan hal
tersebut. Karena itulah, penulis mencoba mengemas buku Dahsyatnya Mukjizat
Pengamal Tahajud, Dhuha, dan Puasa, yang Insya Allah akan menggugah dan
memberikan ispirasi bagi pembaca.
Banyak
kemudahan yang dirasakan bagi pelaku Tahajud, Dhuha, dan Puasa yang tak terduka
datangnya, baik dalam masalah kesehatan, finasial, maupun kecerdasan, ketiga
ibadah ini mengambil andil bisa terjadi karena dia terus melakukan ibadah
tersebut. Inilah anugerah yang diberikan-Nya kepada mereka yang menyukai apa
yang Dia sukai. Allah menyukai orang-orang yang Bertahajud, Dhuha, dan Berpuasa
di samping ibadah-ibadah sunah lainnya.
Jika
kita bisa meresapi, dan pastilah kita akan menyadari betapa ibadah tersebut
banyak memberi keberkahan. Setelah salat Tahajud, Dhuha, dan Berpuasa memang
tidak serta merta kita menjadi kaya ataupun langsung sembuh dari penyakit.
Tetapi spirit yang ditimbulkannya membuat kita semakin kuat menjalani hidup.
Dengan berdoa setelah Tahajud akan membuat kita tenang dan mulai bersemangat
lagi melakukan sesuatu yang dirasa sulit dilakukan. Begitupun halnya dengan
salat Dhuha, orang yang menginap suatu penyakit, dia terus berdoa sehabis
salatnya akan melahirkan kekuatan tersendiri baginya untuk menjalani hidup.
Allah tidak akan lengah! Dia akan memberi pertolongan dan kelapangan bagi
hamba-Nya yang benar-benar meminta pertolongan.
Sungguhpun
demikian, diperlukan niat dan sikap yang sungguh-sungguh dalam mengerjakannya.
Kita Bertahajud dengan niat ingin kaya, misalnya, tetapi tidak bekerja keras
dan hanya berdiam diri di rumah, tentu saja ini akan sia-sia. Begitu pula jika
kita salat Dhuha dengan tujuan agar bisa menyerap pelajaran, akan tetapi kita
sendiri tidak mau belajar sungguh-sungguh, Dhuha juga tidak akan berfungsi.
Allah akan melihat sejauh mana kesungguhan hamba-Nya dalam meraih suatu hal,
sehingga, meskipun kita telah beribadah dan berdoa dengan sungguh-sungguh, kita
juga harus berusaha keras dengan spirit tinggi agar keinginan kita terwujud.
Penulis
menyajikan buku dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan suguhan cerita
yang menarik tentu akan menambah semangat anda. Penulis sadar RAHASIA SUKSES
PARA PENGAMAL SHALAWAT, TAHAJUD, DHUHA DAN PUASA, ini masih jauh dari apa yang
disebut dengan kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata.
Walau demikian penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan RAHASIA
SUKSES PARA PENGAMAL SHALAWAT, TAHAJUD, DHUHA DAN PUASA, ini dengan semua
kemampuan yang penulis miliki.
Petiklah
hikmah dan inpirasi dari kisah-kisah dalam buku ini. Dengan begitu kita akan
lebih giat lagi untuk Tahajud, Dhuha, dan Berpuasa. Tidak mustahil suatu saat
kitalah yang merasakan sendiri mukjizatnya. Semoga buku ini bisa bermanfaat
bagi pembaca, dan terlebih bagi diri saya sendiri.
Penulis
Jamaludin
Rifai, S.Pd.I
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAGIAN 1. KISAH SUKSES PENGAMAL
SHALAWAT........................... 1
DIBALIK SUKSESNYA FADEL MUHAMMAD.......................................... 1
AA’ GYM, SELALU BASAH DENGAN
SHALAWAT................................. 4
BAGIAN 2. PARA PENGAMAL TAHAJUD................................................. 8
AGUSTINI : TAHAJUD ATASI DEPRESI..................................................... 8
IDAN HERMANTO, SUKSES DALAM KARIER......................................... 10
ABDULRRAHMAN, SUKSES BERBISNIS................................................... 13
SUMANTRI, PEDAGANG KAKI LIMA SUKSES....................................... 16
WIJAYA: SEHARI DAPAT UANG RP 20
JUTA.......................................... 18
KISAH PROF. DR. MOH. SHOLEH................................................................. 21
TAHAJUDNYA PARA SAHABAT NABI DAN PARA
PENGIKUTNYA................................................................................................. 26
PENYESALAN FULAN..................................................................................... 29
PERUBAHAN SIFAT FULAN.......................................................................... 33
SAID AL-HARITS DAN AL-KHALIDAH...................................................... 36
MENENANGKAN HATI DAN MENJERNIHKAN PIKIRAN.................. 41
TAHAJUD MEMUDAHKAN REZEKI........................................................... 42
KISAH PEDANG MALAM AL-FATIH (SANG
PEMBUKA)...................... 44
ABU YAZID AL-BUSTAMI BERTAHAJUD................................................. 48
BELI TIKET PESAWAT DENGAN SHALAT
TAHAJUD.......................... 51
KEAJAIBAN TAHAJUD BAGI MUHAMMAD
AKROM........................... 56
KISAH AJAIB BENI, SI PENGAMEN
JALANAN....................................... 59
TAHAJUD MENDATANGKAN REZEKI SECARA TIBA-TIBA............. 62
ARJUNA: LAKI-LAKI CACAT BERISTRI
SALEHAH.............................. 65
BU MARTI: PENGUSAHA SUKSES YANG RAJIN BERTAHAJUD...... 69
BAGIAN 3. PARA PELAKU SHALAT DHUHA........................................... 72
SECERCAH CAHAYA DI BALIK DHUHA................................................... 72
BURUH PABRIK SABUN MENJADI
PENGUSAHA KONVEKSI............ 78
BERLIMPAHNYA HARTA ABDURRAHMAN BIN
AUF.......................... 80
JUMLAH KEKAYAAN HARTA UMAN BIN
KHATHAB.......................... 83
JUMLAH KEKAYAAN UTSMAN BIN AFFAN........................................... 85
DHUHA MENGANTARKAN REZEKI........................................................... 86
ALLAH MENGGANTI DENGAN YANG LEBIH
BESAR.......................... 90
MUHAMMAD IHSAN: MERAIH BANYAK
BEASISWA........................... 92
KISAH SEORANG TUKANG PIPA AIR........................................................ 96
PAK MONO: MEWAJIBKAN PEGAWAINYA
SHALAT DHUHA........... 98
KISAH PILU SEORANG PEMULUNG.......................................................... 100
TRIANI OKTAVIANI PEROLEH
UN-TERTINGGI.................................... 104
PAK MUSLIM: SI TUKANG BECAK YANG
NAIK HAJI......................... 106
BAGIAN 4. PARA PELAKU PUASA.............................................................. 112
DRS. RULLY SETIAWAN; SUKSES MENJADI
PENGUSAHA KAYA RAYA............................................................................ 112
DEBBY HENDRIANSYAH; PEBISNIS
KALIGRAFI KUNINGAN
KELAS EKSPOR................................................................................................ 115
MILFINA DEVI AGUSTINA, MENJADI
BUPATI
PEREMPUAN PERTAMA DI KOTA
KELAHIRANNYA.......................... 119
KISAH PENJUAL ULEKAN BATU................................................................ 123
KISAH PEDAGANG KOPRA........................................................................... 127
KISAH PENGEPUL RONGSOK...................................................................... 130
KISAH PENJUAL SURABI............................................................................... 133
KISAH PENGUSAHA MEUBEL...................................................................... 136
KISAH PENGEDAR MINYAK WANGI......................................................... 138
SEMANGAT BELAJAR TUMBUH KARENA RAJIN
BERPUASA......... 142
PUASA DAUD MENGHILANGKAN DEPRESI........................................... 146
JONI ARIADINATA: SASTRAWAN YANG
GEMAR BERPUASA......... 149
TIADA RASA SAKIT SEJAK PUASA SUNAH............................................. 151
IMAM MAWARDI: MENJADI PEGAWAI
NEGERI
DENGAN BERPUASA....................................................................................... 156
KEAJAIBAN PUASA DAUD BAGI EMA...................................................... 160
KISAH SUKSES MUHAMMAD FUDHALI................................................... 161
KISAH HARU SUTRISNO, PENDERITA
TUMOR...................................... 166
ABDULLAH BIN GHALIB: AROMA HARUM
DARI KUBURANNYA.. 169
KEISTIMEWAAN YANG DIMILIKI USTAZ
MUHYIDIN........................ 171
KISAH MENAKJUBKAN DARI SEORANG
REKTOR.............................. 173
ABDULLAH BIN AMR BIN ASH: PENULIS
YANG WARAK.................. 177
KISAH ACHAMAD: MENDAPAT BANYAK
KEMUDAHAN................... 179
KEBERHASILAN SEORANG ANAK NAKAL............................................. 184
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 187
TENTANG PENULIS......................................................................................... 192
WIJAYA:
SEHARI DAPAT UANG RP 20 JUTA
Kali
ini penulis mencoba menceritakan pengalaman Wijaya, seseorang guru yang mendapatkan
uang 20 juta dalam satu hari. Ini mungkin adalah rezeki dalam kelapangan dari
Allah untuk menjawab doa-doa yang dia ucapkan di setiap Tahajudnya. Berikut
kisahnya.
“Waktu
itu, saya benar-benar dalam keadaan sulit. Atap rumah saya baru saja roboh. Kayu
penyangga genting sudah keropos di makan rayap. Begitu keropos di makan rayap.
Tentu saya harus segera pindah, maka salah seorang anggota keluarga kami akan
tertimpa genteng beton dari atap rumah. Saya pun langsung mencari rumah
kontrakan dekat rumah. Dan Alhamdulillah saya dapatkan rumah kontrakan mungil
satu pintu dan satu kamar. Kami pun sempat sebulan tinggal di rumah kontrakan
yang sangat sederhana itu, yang bayaran per bulannya sebesar Rp 200.000 ribu
rupiah.”
“Dalam
tidur di rumah kontrakan, saya bermimpi bertemu dengan almarhum ayah. Di dalam
mimpi itu, ayah berkata kalau saya akan mendapat rezeki yang cukup banyak. saya
pun terbangung di malam hari yang sunyi. Seolah almarhum ayah benar-benar hadir
dalam kehidupan nyata. Saya langsung ke kamar mandi mengambil air wudhu,
kemudin melaksanakan shalat Tahajud. Di malam itu, saya berdoa. Semoga Allah
memberi saya rezeki yang melimpah. Bila saya dapat rezeki, uang itu akan saya
pakai untuk memperbaiki rumah peninggalan almarhum ayah.”
“Usai
shalat Tahajud, saya pun tertidur, dan almarhum ayah datang lagi dalam mimpi
sambil tersenyum. Entah apa yang beliau rasakan. Ayah hanya bilang, “Terima
kasih sudah merenovasi rumah ini.” Pagi hari, saya terbangun dari mimpi. Adzan
Shubuh terdengar dari masjid di dekat rumah. Saya pun segera meluncur ke masjid
untuk melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. Rasanya damai, bisa melaksanakan
shalat Shubuh berjamaah. Saya pun tak lupa berdoa semoga hari ini diberikan
rezeki yang melimpah.”
“Pulang
dari masjid, saya langsung mandi, berpakaian dinas seorang guru, dan langsung
berangkat sekolah dengan motor jadul saya. Satu jam kemudian, saya sampai di
sekolah. Di parkiran motor, pak satpam sekolah memanggil saya.”Pak Wijaya, ada
surat dari pusat perbukuan.” Begitu katanya. Saya pun langsung mengambil surat
itu dimeja satpam. Sesampai di ruang guru, saya buka isi amplop itu. Ternyata,
isinya adalah pemanggilan naskah buku pengayaan tahun 2009. Saya pun diminta
untuk hadir di sebuah hotel berbintang di Jakarta.”
“Berapa
hari kemudian, saya sudah berada di sebuah hotel mewah di Bilangan. Jakarta
Barat. Saya bertemu dengan teman-teman finalis lainnya. Satu demi satu para
finalis di wawancarai. Tak terkecuali oleh dewan juri. Malam hari, dewan juri
mengumumkan pemenangnya. Saya terpilih menjadi juara pertamanya. Saya
mendapatkan uang Rp 20.0000.0000,00. Sungguh, sebuah kejutan yang tak pernah
terbayangkan. Saya pun menangis dalam kebahagiaan. Saya bersyukur dan sangat
bersyukur atas terkabulnya doa yang saya panjatkan di setiap shalat dan shalat
Tahajud.”
“Di
dalam hotel, kami hitung uang itu. Bersama Pak John Wahyudi, teman sekamar yang
juga mendapatkan uang yang sama, saya nikmati saat-saat menjadi seorang jutawan
baru. Seorang guru yang tiba-tiba menjadi jutawan. Seorang guru yang sehari
dapat uang cash Rp 20 juta rupiah. Sebuah kisah nyata yang harus saya bagikan
kepada semua orang. Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk berbagi.
Itulah kisah nyata seorang guru. Kini rumah saya sudah direnovasi. Pak John
Wahyudi, teman sekamar saya waktu itu, sudah sempat bermalam di rumah kami.”
Shalat
Tahajud memang memiliki kekuatan yang dahsyat untuk memecahkan persoalan hidup.
Akan tetapi, tidak serta merta dengan shalat Tahajud kita langsung kaya, atau
dengan shalat Tahajud kita langsung sembuh. Tetapi perlu adanya spirit Tahajud/
hasrat menjalani hidup, yang tercermin dari sikap pelakunya. Pelaku shalat
Tahajud harus memiliki niat yang baik. Berniat haruslah tulus semata-mata
karena Allah.
Selanjutnya,
yang perlu dilakukan adalah berusaha, berdoa, dan bersyukur. Seseorang yang
menjalani Tahajud secara rutin, tetapi tidak melakukan apa-apa, tentu bukanlah
satu cara pandang yang baik. Selain bertahajud, seseorang diharuskan juga
berusaha dengan semaksimal mungkin sehingga Allah benar-benar akan memberikan
apa yang kita inginkan melihat usaha kita yang begitu kuat. Setelah berusaha,
kita juga harus berdoa. Selesai shalat Tahajud, sempatkanlah berdoa, karena
kekuatan doa sangatlah berpengaruh bagi terkabulnya doa itu sendiri. Jika
seandainya Anda sudah diberikan kelapangan dan bantuan oleh Allah, jangan lupa
bersyukur. Selain itu, yang tak kalah penting adalah meski pun kita sudah kaya
ataupun sudah sembuh dari penyakit, tetaplah melakukan shalat Tahajud.
KISAH PROF. DR. MOH. SHOLEH
“Sesungguhnya, di dalam malam hari ada satu
waktu. Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah (memohon kebaikan dunia dan
akhirat) di dalam itu, kecuali Allah pasti mengabulkan permohonannya. Waktu
tersebut ada pada tiap-tiap malam.” (HR. Muslim)
Kisah
ini datang dari penulis buku Terapi Shalat Tahajud. Beliau lahir di Kediri pada
9 Desember 1960. Sekitar 1982-an, beliau menderita penyakit kulit. Entah apa
nama penyakit kulit yang dideritanya itu, karena masing-masing dokter yang dia
temui memberikan diagnosis berbeda-beda. Ada yang menyatakan kanker kulit,
eksim, albino, dan masih banyak yang lainnya. Di kulitnya timbul bercak-bercak
berwarna putih kemerahan, yang dimulai dari atas pergelangan tangan kanannya
dan menimbulkan rasa gatal. Kurang lebih tiga tahun ia menghadapi penyakit ini,
tapi penyakit itu terus menjalar hingga hampir ke seluruh sendi tubuhnya.
Kepala bagian depan dan belakang, kedua telinganya, hidung, kedua siku tangan,
pinggang, kedua pergelangan tangan, kedua lutut, dan kedua pergelangan kaki.
Tentu
saja penyakit tersebut membuatnya sedih, takut, dan cemas, karena dikhawatirkan
penyakit ini akan mengganggu kenyamanan orang lain. Hal ini, terlihat setiap
berinteraksi dan berjabat tangan dengan orang lain, mereka selalu memalingkan
muka dan kurang menunjukkan sikap ramah. Bahkan dia pernah tidak dizinkan
menyaksikan acara pernikahan adik kandungnya sendiri. Alasannya, khawatir jika
penyakit ini membuat para undangan merasa tidak nyaman.
Tidak
sebatas itu saja yang dia khawatirkan, melihat kondisinya yang seperti itu,
sangatlah jarang ada gadis yang mau mendekatinya, karena khawatir penyakit
tersebut akan menyebar keseluruh tubuh dan akhirnya akan berakibat fatal.
Meskipun ada gadis yang mau dengannya, masalah lain juga muncul dalam benaknya,
bagaimana nanti jika dia memiliki anak, kemudian anaknya merasa sedih dan
minder karena memilki ayah yang memiliki kulit tidak normal.
Alhamdulillah,
pada tahun 1984, beliau pun menikah dengan seorang perempuan yang baik dan mau
menerima kekurangannya. Setelah menikah, penyakit kulitnya tidak berkurang,
malahan melebar dan menjalar ke seluruh bagian tubuh. Sebenarnya dia sudah
mencoba berobat, baik melalui pengobatan medis murni, maupun pengobatan
laterntif. Hampir semua dokter spesialis kulit yang ada diberbagai kota ia
datangi, bahkan ia pernah berobat ke dokter spesialis kulit yang ada diberbagai
kota ia datangi, bahkan ia pernah berobat ke dokter spesialis kulit di Blitar,
tapi tidak berhasil, malah dahi, pipi, dan kulit tangannya menjadi melepuh.
Melihat hal tersebut, dia tetap sabar. Dia yakin suatu saat Allah akan
menyembuhkan penyakitnya. Dia yakin, Allah akan memberikan jalan terbaik
untuknya.
Karena
berbagai cara pengobatan sudah dilakukan dan tidak mendapat hasil yang
dinginkan, akhirnya para dokter yang dia kunjungi menyerah, mereka tidak mampu
mencari obat yang sesuai. Mereka mengatakan bahwa penyakit kulit yang
dideritanya adalah penyakit langka dan belum ada obatnya. Dari sana, dia mulai
pasrah dan mencoba menerima kenyataan yang dialaminya. Dia semakin memperkuat
agamanya dengan mendekatkan diri kepada Allah, selain shalat lima waktu, shalat
Tahajud tak pernah ketinggalan dilakukannya. Waktu malam dia habiskan untuk
bertahajud dan bercakap-cakap dengan Tuhannya, yakni sekitar pukul 23.00 WIB
hingga subuh.
Beliau
menyerahkan seluruh urusan kepada Allah, sebagaimana tertera pada penggalan
bait doa berikut ini, “Ya, Allah! Sekiranya Engkau menguji diri kami secara
pribadi, Insya Allah saya akan sabar menerima. Tetapi ya, Allah! Yang Engkau
ujikan kepada kami ini adalah suatu penyakit yang mengganggu kenyamanan dan
mendapatkan fitnah yang mengganggu kenyamanan dan mendatangkan fitnah bagi
orang lain. Orang lain menjadi tidak nyaman ketika melihat kami. Oleh karena
itu, Ya Allah! Sembuhkanlah penyakit kulit kami. Silahkan Engkau pilih satu di
antara dua pilihan, Engkau kembalikan kulit kami ini menjadi lebih baik, bersih
dan menawan. Ya Allah, Tuhan kami. Tuhan sumber segala kesembuhan. Kirimkan
kepada kami dari sisi-Mu para malaikat untuk menyembuhkan penyakit kami.”
Selama
waktu kurang lebih 2-3 tahun, kelihatannya Allah mengabulkan doanya, dengan
mengubah dan memutihkan seluruh kulitnya seperti yang terlihat sekarang.
Belajar dari pengalaman spiritual yang dilakukannya, dia dapat menyimpulkan
bahwa doa hamba akan banyak dikabulkan manakala sang hamba tidak mempunyai
kesombongan. Yang dimaksud kesombongan di sini adalah apabila sang hamba masih
terasa ada sesuatu selain Allah yang bisa menolong, membantu, atau menyembuhkan.
Masalah
lain yang unik yang pernah terjadi padanya adalah proses perolehan bantuan
biaya penelitian disertasi. Ketika kuliahnya hampir berakhir, dia menghadapi
kesulitan mendapatkan biaya penelitian yang jumlahnya relatif besar. Dana yang
dibutuhkan untuk biaya tersebut sebesar 45 juta, dia merasa bingung mencari
uang segitu banyaknya. Jangankan untuk biaya penelitian, untuk membayar SPP dan
Heregistrasi saja sangat susah. Ditambah lagi pada waktu ekonomi bangsa di
tengah menghadapi krisis moneter pada tahun 1998.
Untuk
memecahkan kebutuhannya itu, beliau berusaha mengajukan proposal dan permohonan
ke beberapa instansi, dan terlebih lagi adalah dengan tidak menyia-nyiakan
waktu malamnya. Saat malam yang telah dijalaninya selama ini lebih
ditingkatkannya. Pada malam yang hening, dia mulai lebih ditingkatkannya. Pada
malam yang hening, dia mulai terbenam dalam Tahajud dan memohonon kepada-Nya.
Akhirnya, buah manis dari shalat Tahajud mulai kelihatan.
Besok
harinya, Allah mengirimkan pertolongan kepadanya. Sekitar jam 13.00 WIB, ketika
beliau hendak mempresentasikan proposal penelitiannya di hadapan para dokter
peserta seminar, ada seorang laki-laki memanggilnya, sedang dia sendiri tidak
mengenalnya. “Apakah Anda yang bernama Pak Sholehah?” mendengar hal tersebut,
dengan ramah beliau menjawab. “Ya, betul”. Laki-laki yang belakangan ternyata
bernama dr. Kabat, Sp.P, tersebut berkata, “Saya dengan Anda sudah lulus ujian
akhir, tinggal disertasinya, kan?” dengan agak bingung beliau membalasnya,
“Bapak tahu dari mana saya sudah selesai?”
“Dari
profesor Kunten, ahli Imunologi.” Jawabnya singkat. Ringkas cerita, akhirnya
laki-laki itulah yang membantu semua biaya penelitiannya. Dia begitu bersyukur
mengenal laki-laki sebaik itu. Inilah hal indah yang pernah beliau alami.
Tampaknya cerita beliau tentang kedahsyatan shalat Tahajud tidak habis sampai
di sini, dia juga pernah mengalami kejadian yang paling menginspirasi lagi.
Setelah pendidikan formal tingkat paling tinggi ditempuhnya, yakni pada tahun
2000, gelar profesor ia dapatkan empat tahun kemudian, yakni pada 2004. Melihat
apa yang telah diraihnya sampai sekarang, beliau merasa masih ada yang kurang,
yaitu keinginannya untuk menunaikan ibadah haji. Sebagaimana muslim lainnya,
beliau juga memiliki keinginan kuat untuk pergi ke Tanah Suci.
Namun,
di sini timbul masalah baru, masalah yang sama ketika proses perolehan bantuan
biaya penelitian disertasinya. Kali ini, beliau juga terbentur masalah biaya,
sedang keinginan yang amat mendalam itu, setiap menyaksikan di layar kaca
seremoni jamaah haji yang sedang tawaf, sai, dan melempar jumrah, beliau
langsung menitikkan air mata. Setiap habis shalat, baik shalat fardhu dan
shalat Tahajud, beliau selalu berdoa kepada-Nya tentang keinginannya tersebut.
Doa tersebut dibacanya setiap selesai shalat Fardhu dan shalat Tahajud
sepanjang pertengahan 2004.
Pada
awal 2005, ada titik terang yang mulai datang kepadanya. Seorang temannya
menawarkan kepadanya untuk ikut program arisan haji. Istrinya pun ikut
mendorongnya untuk ikut program tersebut. Akan tetapi, saat itu dia selalu
menolaknya karena dia tidak mau mengambil resiko nantinya. Hal yang
dipikirkannya adalah, bagaimana kalau nanti beliau meninggal dunia, sedang ia
memiliki tanggungan arisan haji. Masih dalam tahun yang sama, hanya selang
kurang lebih dua bulan saja, apa yang dia idam-idamkan itu akhirnya terwujud,
yang lebih menarik dan membuatnya sangat bersyukur adalah ia pergi haji tanpa
biaya sendiri. Bagaimana bisa?
Saat
itu, beliau menjadi bintang tamu Ustaz Abu Sangkan dalam sebuah training shalat
khusyuk di Bank Indonesia Pusat, Jakarta. Saat menutup pemberian sesi materi
“Shalat dalam perspektif Kesehatan.” Seorang lelaki setengah baya langsung
mendekatinya dan merangkul pundaknya. Setelah melepaskan kedua tangannya, dan sedikit
mundur, beliau berkata. “Ustadz kelihatannya belum pernah haji?” saya menjawab.
“Ya betul. Memang selama ini saya memfokuskan diri pada pendidikan. Ya, semoga
Allah memudahkan saya untuk segera bisa haji.” Jawabannya dengan menyunggingkan
senyuman.
Sungguh,
suatu hal yang tidak diduga-duga oleh belaiu, ternyata laki-laki yang
memeluknya tadilah yang bersedia mengajak dan menawarkan haji kepadanya.
Melihat kenyataan itu, beliau seakan tidak percaya dan terasa seperti mimpi,
beliau tidak mampu menahan air mata kebahagiaan. Sekitar dua minggu setelah
itu, seorang pengacara dari Jakarta. Satu angkatan dengan alumni Training
shalat Khusyuk, bersama dengan 4 orang temannya bersilaturahmi ke rumah beliau
untuk menawarkan pergi haji. Karena beliau sudah ditawari oleh laki-laki yang
dikenalnya ketika menjadi bintang tamu beberapa minggu yang lalu, akhirnya
orang tersebut menawarkan kepada istri beliau tanpa kenai biaya pula. Akhirnya,
beliau berangkat bersama sang istri ke Tanah Suci. Apa yang diimpi-impikannya
selama ini terwujud juga. Sungguh kisah yang begitu menggugah. Semoga kisa bisa
memetik pelajaran yang terkandung di dalamnya.
TAHAJUDNYA PARA SAHABAT NABI
DAN PARA PENGIKUTNYA
Banyak
sekali kisah-kisah tentang kebiasaan sahabat-sahabat Nabi Saw. Yang bisa
menginspirasi kita agar semakin menguatkan ibadah kita. Memberikan inspirasi
kepada kita untuk mulai melakukan shalat Tahajud. Karena shalat Tahajud
merupakan shalat sunnah yang mengandung banyak keajaiban. Selain itu, shalat
malam ini membuat kita sangat dekat denganNya, karena di saat orang lain
terlelap pulas, kita sibuk dengan doa-doa dan bercakap-cakap dengan Allah,
Tuhan semesta alam ini, sehingga memiliki peluang yang besar bagi terkabulnya
doa.
Di
antara tradisi-tradisi para sahabat Nabi Saw. Diriwayatkan bahwa Umar Bin
Khathtab Ra, biasa berjalan sambil membaca ayat-ayat Al-Qur’an sebagai wiridnya
di malam hari, hingga dia pingsan dan terjatuh. Akhirnya, dia dikunjungi banyak
sahabat selama beberapa hari, layaknya menjenguk orang sakit.
Kemudian,
seorang saleh yang tiba dari suatu perjalanan. Tempat tidur yang empuk telah
disiapkan untuknya dan akhirnya ia pun terlelap tidur hingga pagi, lepaslah
Tahajud dan wiridnya. Maka dia bersumpah bahwa sesudah malam itu tidak akan
pernah tidur di atas tempat tidur.
Apabila
malam telah larut, biasanya Abdul Azis bin Rawwab mendatangi pembaringannya,
seraya tangannya menepuk tempat tidur tersebut dan berkata, “Wahai, kasur!
Engkau sungguh empuk. Tetapi demi Allah, sesungguhnya yang di surga lebih empuk
darimu!” selesai berkata demikian, dia meneruskan shalat malamnya hingga tiba
waktu Shubuh. Al-Fudhail berkata, “Aku menghadapi permulaan malam yang tersisa
begitu panjang. Lalu mulai membaca Al-Qur’an dan ternyata waktu Shubuh telah
datang sebelum bacaanku selesai.”
Adapun
Ibnu Mas’ud Ra, ketika orang lain tengah tidur lelap, ia biasa bangun malam,
kemudian terdengar suaranya badai lebah berdengung sampai tiba waktu Shubuh.
Diriwayatkan bahwa Sufyan ats-Tsauri pada suatu malam terlalu kekeyangan, maka
ia berkata, “Keledai akan ditambah pakannya jika bekerja lebih banyak.”
kemudian, ia shalat sepanjang malam itu hingga pagi hari. Sementara ath-Tha’us
Ra. Bila tidur di tempat pembaringannya ia merasa terpanggang, bagaikan biji
kacang di atas penggorengan. Sehingga ia pun melompat bangun, dan melakukan
shalat malam hingga waktu Shubuh. Lalu ia berkata, “Bayangan neraka Jahanam
telah menyusup ke dalam impian mereka yang rajin beribadah!”
Al-Hasan
Ra. Berkata, “Kita ketahui bahwa tidak ada yang lebih berat daripada bertahan
untuk beribadah sepanjang malam, dan membelanjakan harta.” Ketika ada yang
bertanya. “Apakah orang yang melakukan shalat malam termasuk ke dalam golongan
orang-orang yang tampan wajahnya?” mengenai ini ia menjawab, “Karena ia
bermunajat dengan Yang Maha Pengasih, maka Allah Swt. Membungkus tubuh orang
tersebut dengan cahaya-Nya.”
Al-Hasan
Ra, berkata, “Orang yang berniat berbuat dosa dan karena niatnya itu, ia
diharamkan untuk bangun malam.”
Al-Fudhail
berkata, “Apabila engkau tidak sanggup bangun malam dan berpuasa pada siang
hari, maka sebenarnya engkau sedang terhalangi dari pahala, karena banyaknya
dosa yang telah engkau perbuat.” Hasan bin Shalis memiliki seorang budak
perempuan, yang suatu hari dijualnya kepada seseorang. Tengah malam, budak
perempuan tersebut bangun, kemudian berseru, “Wahai, penghuni rumah, bangunlah!
Shalat! Shalat!” seisi rumah terbangun, dan kemudian budak tersebut bertanya,
“Adakah tuan-tuan ini hanya mengerjakan shalat Fardhu yang lima saja?” ketika
seisi rumah membenarkan, maka si budak kembali pulang kepada Hasan seraya
berkata, “Wahai, Tuan! Anda telah menjualku kepada keluarga yang hanya
melaksanakan shalat Fardhu saja, bawalah aku kembali!” kemudian Al-Hasan
mengambil budak itu kembali.
Dikisahkan
bahwa ketika Masruq pergi haji, ia tidak pernah tidur di malam hari kecuali
sekadar bersujud. Dan diriwayatkan berdasar otoritas Azhar bin Mughits salah
seorang yang istikamah dalam mendirikan shalat malam, yang mana suatu ketika ia
berkata, “Aku bermimpi bertemu perempuan yang sangat cantik, seolah bukan
perempuan biasa, lalu aku bertanya kepadanya, “Siapakah engkau?” dan perempuan
itu menjawab. “Aku adalah bidadari surga.’ Kemudian aku meminangnya sebagai
istri, dan ia menjawab, ‘Datanglah kepada Tuanku, dan bayarlah maskawin
bagiku!’ ‘Apa maskawin yang engkau minta?’ tanyaku. Diapun menjawab, ‘Shalat
Tahajud yang panjang!”
Yusuf
bin Mihran berkata, “Aku telah mendengar bahwa di bawah Arsy ada malaikat yang
berwujud seekor ayam jago/jantan. Kukunya dari intan permata, dan tajinya dari
zamrut hijau. Ketika lewat sepertiga malam yang pertama, ia mengepakkan
sayapnya dan berkokok, “Bangunlah wahai orang yang rindu Tahajud!” ketika lewat
tengah malam, ia melakukan hal yang sama. Dan ketika masuk pada sepertiga malam
yang terakhir, kembali mengepakkan sayap dan berkokok, “Bangunlah, wahai orang
yang rindu Tahajud!” akhirnya, ketika fajar merekah, kembali mengepakkan
sayapnya dan berkokok, “biarlah orang-orang lalai, menanggung beban dosanya
sendiri!”
Al-Mughirah
bin Habib telah berkata, “Aku perhatikan bahwa Malik Bin Dinar berwudhu setelah
shalat Isya, lalu pergi dan berdiam diri di tempat shalat. Ia mengusap-usap
janggutnya dan dengan berlinangan air mata, mulailah ia berdoa, “Ya, Allah
sesembahanku! Jauhkanlah uban Malik ini dari neraka! Sungguh, Engkau telah
mengetahui penghuni surga dan penghuni neraka. Maka siapa salah satu di antara
dua Malik?” Ia senantiasa berdoa demikian hingga tiba waktu fajar. Dalam sebuah
riwayat dikatakan pula bahwa Malik bin Dinar pernah berkata, “Suatu malam aku
tertidur, sehingga lupa dengan wiridku. Dalam mimpi aku berjumpa dengan seorang
gadis cantik jelita. Di tangannya tergenggam selembar kertas dan ia pun
bertanya, ‘Dapatkah engkau membaca dengan baik?’
Ketika
kukatakan bisa membaca, ia memberikan kertas tersebut kepadaku, yang mana
tulisan-tulisannya terbaca, ‘Adakah kesenangan dan keinginan-keinginan dengan
gadis cantik jelita telah menjauhkanmu dari surga? Di sana engkau akan kekal
dan dapat bermain-main dengan gadis cantik jelita yang engkau temui. Daripada
bermimpi, lebih baik bertahajud dan membaca Al-Qur’an hingga fajar tiba.”
Subhanallah! Benar-benar mengharukan kisah-kisah mereka. Semoga kita bisa
mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut.
PENYESALAN FULAN
Pembaca
yang budiman, kali ini kita akan bercerita tentang kisah seorang yang larut
dengan organisasi di kampusnya, yang akhirnya membuatnya menyesal telah
menyia-nyiakan usaha dan kerja keras yang telah dilakukan orangtuanya demi
menguliahkannya. Tahajudlah yang membuatnya berubah dan merancang berbagai hal
untuk mengubah semua kebiasaannya. Termasuk juga di dalamnya kisah Fulan yang
tidak juga kalah menginspirasi.
Memang,
organisasi kampus adalah wadah yang baik bagi perkembangan dan kreativitas
Mahasiswa, akan tetapi kita harus bisa menyimbangkan antara organisasi dan
kegiatan pembelajaran di kampus. Jangan sampai tujuan utama kita untuk belajar
malah terabaikan karena organisasi di kampus. Karena bagaimanapun juga, tujuan
utama masuk Perguruan Tinggi adalah untuk belajar. Jika menginginkan mengikuti
suatu organisasi tidak ada masalah, tetapi jangan sampai mengabaikan tujuan
utama kita. Penyesalan adalah salah satu akibat yang ditimbulkan jika
mengabaikan pembelajaran di kampus dan mengutamakan berdemo ataupun memasuki
organisasi kampus lainnya. Inilah yang terjadi pada Fulan.
Fulan,
seorang yang kuliah di salah satu kampus negeri di Yogyakarta. Dia jauh-jauh
dari Cilacap, berbagai cerita heroik tentang perjuangan mahasiswa menentang
ketidakadilan telah terekam dalam benaknya sejak sebelum menjadi mahasiswa.
Itulah sebabnya, begitu kakinya menginjakkan kaki di bangku perkuliahan,
informasi pertama yang dicarinya adalah tentang keberadaan
organisasi-organisasi kampus, mulai dari rapat ke rapat, pelatihan ke
pelatihan, seminar ke seminar, diskusi ke diskusi, malang melintang di dunia
organisasi mahasiswa membuatnya sangat kaya pengalaman hidup.
Tahun
demi tahun dia manfaatkan untuk fokus pada organisasi kampus. Berdemo ataupun
berdiskusi dari satu forum ke forum lainnya. Itulah yang dia lakukan. Dia tidak
sadar bahwa dia sudah membelakangkan kepentingan belajarnya. Bahkan, dia lupa
bagaimana susahnya orangtuanya di rumah mencarikan biaya untuk belajar, akan
tetapi dia malah mempergunakannya hanya untuk berorganisasi.
Tak
pernah terpikir oleh Fulan ia telah berada di semester atas. Ia melalui ospek
demi ospek, dari tahun ke tahun. Dengan rasa bangga karena berdiri gagah di
hadapan mahasiswa baru juniornya. Dan seorang adik kelasnya di masa SMA, kini
menjadi adik tingkatnya juga di kampus, dan mulai bercerita tentang perkuliahan
mereka. Adik kelasnya itupun mulai bercerita menanyakan tentang kepintarannya
dulu waktu di SMA.
Mendengar
hal itu, dia langsung terperangah dalam hati, karena dia sadar bahwa sekarang
dia bukanlah anak yang rajin seperti saat di SMA, karena dipungkiri atau tidak,
sekarang dia tidak lagi rajin seperti dulu. Bahkan diusia akademiknya yang
berada di ujung tanduk, dia sama sekali belum mencari judul skripsi dan juga
belum menyelesaikan beberapa matakuliah karena kemalasannya. Yang ada sekarang,
dia hanya memfokuskan diri untuk kegiatan organisasinya dengan mengabaikan
perkuliahannya sendiri. Jika diingat-ingat lagi, dia terkenal karena kepintaran
dan kerajinannya belajar. Tetapi, sekarang tidak ditemui lagi pada dirinya.
Saat
seperti ini, dia benar-benar kalut, antara kekhawatiran tidak mampu
menyelesaikan kuliah, perasaan bersalah kepada orangtua, dan sekaligus rasa
pesimis yang menghunjam. Detik demi detik, dia terus merasa khawatir. Suatu
saat, mendadak Fulan diingatkan akan suatu hal, Tahajud. Entah bagaimana
caranya Tuhan mengirimkan pesan tersebut kepadanya, inilah satu hal yang tak
pernah terpikir oleh Fulan, bahkan dia merasa sangat asing dengan yang namanya
Tahajud. Meskipun kenyataannya dia adalah aktivis masjid kampus. Tetapi dia
tidak begitu paham untuk mengamalkan ibadah seperti berpuasa ataupun
bertahajud.
Seperti
banyak orang bilang, bahwa apa yang digemar-gemborkan tidak selalu dapat
ditunaikan dengan sempurna, termasuk Tahajud itu sendiri. Ia ingat betul
bagaimana ia mendoktrin adik tingkatnya untuk tekun beribadah kepada-Nya, dan
melakukan Tahajud dengan rutin. Namun, harus diakuinya, ia tidak sebaik yang
dikatakannya kepada adik-adik tingkatnya itu. Mengingat hal itu, dia semakin
merasa bersalah, terutama kepada kedua orangtuanya. Di tengah keheningan malam,
ia mulai memarkirkan dirinya beberapa waktu di ruangan kosnya, dan diabaikannya
beberapa kegiatan yang telah menantinya. Di kesunyian malam, ia bermunajat
kepada-Nya. Merenungkan kembali apa yang telah dilakukannya. “Saat itu, saya
benar-benar seperti berdiri di hadapan-Nya seorang diri. Allah benar-benar
seperti memunculkan segala memori perjalanan saya hingga saat bertahajud itu,
saya ingat dengan orangtua yang menanti saya di rumah dengan penuh harapan agar
saya belajar dengan baik, lulus kuliah, dan bisa mendapatkan pekerjaan yang
bagus. Memang saya masih memiliki beberapa adik bersekolah. Orangtua berharap,
selain meringankan beban orangtua dengan cepat lulus kuliah, saya dapat segera
bekerja dan membatu mereka mencarikan biaya sekolah adik-adik.” Kenang Fulan
dengan sedih.
Ketika
Tahajud itu, Fulan benar-benar menemukan makna penting dari doa kepada
Tuhannya. Detik-detik bermunajat kepada-Nya itulah yang membuat keinginannya
tumbuh. Betapa orangtua telah berjuang keras untuk membesarkannya, tidak semata
fisik, tetapi juga yang lain termasuk intelektualitas. Tapi apa yang telah
diberikannya? Kebanggaan? Bukan. Akhirnya, dia menyadari dan mengambil suatu
kesimpulan bahwa selama ini dia terlalu heroik berdemonstrasi ke sana kemari,
mengisi diskusi ke mana-mana, akan tetapi dia menghabiskan pelajarannya sebagai
tujuan utama masuk Perguruan Tinggi.
Inilah
yang menyetak kesadaran Fulan, hingga di tengah Tahajud itu pula ia merancang
kuliah. Ia mendaftar mata kuliah yang belum selesai, memasang target baru
dengan waktu masih tersisa, termasuk merencakan berbagai kemungkinan jalan
untuk penyelesaian skripsinya.
Langkah
paling revolusioner yang dilakukannya adalah dengan menjual HP satu-satunya. Ia
ingin menciptakan keheningan diri dengan menunda hal lain yang tidak terkait
urusan studinya, ia telah memasang target, dalam waktu 1 tahun kedepan, ia
harus lulus. Ia tekuni kuliah yang
tersisa, satu demi satu, tak perduli kuliah bersama dengan adik-adik tingkatnya
yang semester 1. Dia tidak mempedulikan apa kata adik-adik kelasnya yang
memandang rendah terhadap dirinya. Bahkan dia pernah disindir oleh dosennya
dengan mengatakan, “Hari ini, saya kuliah dengan ditemani seorang asisten
dosen.” Tentu hal ini membuatnya ditertawakan oleh adik-adik tingkatnya di
kelas. Tetapi ia tak perduli, semangatnya tetap sama, dan ia memiliki keyakinan
yang kuat untuk bisa lulus demi orangtuanya.
Akhirnya,
skripsi diselesaikannya dengan cepat. Sebagai aktivis mengumpulkan dan menganalisis
data bukanlah hal yang sulit. Dengan beberapa kali bimbingan, ia telah berhasil
menyelesaikan skripsi tepat di saat tinggal menunggu mata kuliah terakhirnya.
Akhirnya, tepat di ujung usia akademiknya, ia berhasil menyelesaikan kuliah. Ia
berterima kasih kepada adik tingkatnya yang membuat dia tersadar, dan Allah
yang telah menggerakkan mukjizat Tahajud di tengah keheningan malam.
“Saya
merasakan benar di tengah kesunyian itu, ada yang membimbing saya untuk
merenung, mengeksploitasi kembali apa yang salah dan saya lakukan, dan apa yang
terjadi esok. Itu melahirkan kekuatan bagi saya untuk segera menyelesaikan
kuliah.” Subhanallah.
PERUBAHAN
SIFAT FULAN
Fulan adalah seorang dosen senior yang low profil.
Sikap hidup itu tidak muncul secara tiba-tiba, tapi melalui proses tahajud.
Mula-mula ia seorang dosen yang killer bagi mahasiswanya, memberi tugas kuliah
berat yang seakan-akan tak sanggup dikerjakan mahasiswa yang penuh dengan
tumpukan tugas-tugas. Selain itu, dia dikenal sebagai dosen yang tidak
bersahabat dan tidak berkomunikasi penuh dengan mahasiswanya saat melakukan
pembelajaran. Baginya, begitulah cara menjadi dosen, sebagaimana dicontohkan
oleh dosennya terdahulu.
Dalam hal memberi nilai Indeks Prestasi (IP), ia
berusaha memberi nilai seobjektif mungkin, bila dia melihat mahasiswanya tidak
mampu memenuhi syarat penilaian yang telah diberikannya, mereka tidak akan
mendapat nilai minimal B, karena nilai B tersebut adalah sebuah keberuntungan
bagi mereka. Di suatu hari, Fulan mendapat tugas menguji skripsi mahasiswanya.
Di antara tumpukan tugas-tugas para mahasiswa, juga tugas akhir yang harus
diuji, dia menekur diri selepas shalat Isya.
Didepannya terhampar kertas dan pena, diterangi
lampu yang setia menemaninya semenjak masih menjadi seorang mahasiswa. Malam
itu, dia harus bekerja mempelajari skripsi yang hendak diujinya. Tak
tanggung-tanggung, ini jelas bukan skripsi biasa. Karena pemiliknya adalah
mantan aktivis mahasiswa yang bergeliat di berbagai kegiatan mahasiswa,
termasuk juga pers kampus. Bukan apa, bagi Fulan, mahasiswa pemilik skripsi ini
jelas calon korban yang dikuliti dengan alasan sepele, “perilaku seenaknya yang
kerap dipraktikkannya dalam kehidupan kampus.”
Mahasiswa ini dikenal sebagai sosok yang tak pernah
lelah menguliti berbagai kebijakan kampus, kebijakan kampus seperti tidak ada
yang benar di matanya. Sebagai seorang aktivitis pers kampus, ia benar-benar
menempatkan pers sebagai anjing penjaga kampus dari kebijakan-kebijakan yang
menyimpang. Tulisannya lebih dari pedang yang menyayat. Itulah yang
menanghabiskannya sebagai mahasiswa paling dikenal sekaligus paling diburu para
dosen. Makanya, ketika dia berhasil menyempurnakan status kemahasiswaannya
dengan menyerahkan skripsi untuk diuji, banyak dosen yang terhenyak.
Biasanya, orang yang aktif dalam pers kampus sangat
susah untuk dikritisi, justru dialah yang akan mengkritisi. Sehingga Fulan
sebagai dosen penguji, dituntut untuk benar-benar mempelajari skripsi yang
dibuat oleh salah satu mahasiswanya itu. Di tengah kondisi seperti itu, banyak
orang berharap agar Fulan sebagai penguji benar-benar mampu menggeluti skripsi
itu, ini jelas bukan tugas yang mudah. Selain skripsi tersebut ditulis dengan
tak biasa, gaya bahasa yang lebih rumit dibandingkan skripsi mahasiswa lainnya,
juga dapat dipastikan penulisannya memiliki kemampuan nalar berpikir dan
wawasan pengetahuan yang lebih luas dan mendalam.
Dia tidak mau begitu saja menyerah. Dibacanya
skripsi itu dengan cermat, diberinya coretan penanda beberapa hal penting yang
patut dikritisi. Tak diduga olehnya, hingga pukul 01.00 malam, ia belum tuntas
mempelajari skripsi yang hendak diujinya esok hari. Ini luar biasa, karena
biasanya ia cukup membaca sekilas skripsi yang hendak diujinya, lantas dengan
sedikit basa-basi dan otoritas akademik yang dimiliki, ia akan “membantai”
mahasiswa yang akan diujinya.
Sejenak menghilangkan lelah, ia mengambil wudu dan
menyempatkan diri untuk shalat Tahajud, sesuatu yang asing baginya. Karena
dipungkiri atau tidak, selama ini dia sangat jarang beribadah malam, apalagi
untuk shalat Tahajud. Meski terkesan aneh, ia tetap melakukannya, ia
membutuhkan semacam dukungan moril dan pengetahuan diri untuk menguji
mahasiswanya. Dia tidak mau terkesan sebagai orang yang tidak mampu menghadapi
mahasiswanya sendiri, karena itulah dia bela-belain untuk mempelajari skripsi
itu dengan cermat. Dia merasakan ada yang aneh dalam Tahajudnya.
Berbagai kesan yang ditangkapnya dari membaca
skripsi itu muncul, berjalin kelindan dengan berbagai citra penulisannya yang
pernah muncul dibenak para dosen, termasuk dirinya. Fulan merenung di tengah
Tahajud itu. Ia puaskan dirinya untuk berpasrah diri kepada-Nya. Ia ingin
mendapatkan suntikan tenaga guna menguatkan perannya sebagai penguji. Dalam
Tahajud itu, ia mendapat hal baru dalam memahami seorang mahasiswa. Di tengah
Tahajud itu, dia juga mengakui rasa malunya sebagai dosen yang belum juga
berkarya dan menulis buku yang bermutu. Padahal dari skripsi itu ia mempelajari
banyak hal seperti membaca sebuah buku.
Fulan telah memutuskan, dan ketika esok harinya, dia
tidak seperti biasanya, ia menyebarkan senyum bahagia, bukan bentuk wajah seram
dan sangar yang diperlihatkan biasanya. Dalam sesi yang diberikan ketua
penguji, ia pun menyampaian, “Selamat, Anda telah berhasil membuat sebuah
disertasi penting tentang masalah ini. Saya tidak akan bertanya aneh-aneh
seperti biasanya, tetapi saya menyampaikan masukan dan usulan agar skripsi ini
Anda tawarkan kepada penerbit untuk diterbitkan.”
Inilah babak baru dari pelajaran seorang dosen
bernama Fulan. ketika mengajar, dia tidak lagi terpaku kepada persepsi dan teks
diktat yang dibuatnya. Malah ia kini menerapkan hal lain, seperti memberi nilai
pada mahasiswa yang berani berbicara di kelas, dan bagi mahasiswa yang menulis
makalah. Saat membimbing skripsi ia mulai cerdas, tidak lagi terpaku kesalahan
huruf demi huruf, kata demi kata, letak, dan sebagainya.
Ia memberikan catatan penting untuk mengembangkan
materi skripsi itu, dan berusaha mengembangkan mahasiswa yang dibimbingnya.
Inilah makna berlapang dalam majelis bukan semata membangun ruangan yang luas
agar orang tak berdesak-desakkan, melainkan kesiapan untuk mendiskusikan dan
menerima pendapat orang lain. Menuntut ilmu pun menjadi ajang untuk
mengembangkan pemikiran dan membangun tradisi intelektual, bukan menghakimi dan
mematikan potensi pemikiran seseorang.
Kini, Fulan adalah idola baru dikalangan mahasiswa.
Ia tidak saja membimbing beberapa mahasiswa yang skripsi, tetapi juga sedia
setiap kala untuk berdiskusi dengan mahasiswa. Ia tidak lagi terpaku di balik
meja kerjanya, tapi menyapa mahasiswanya di sanggar. Buah Tahajudnya
memunculkan rasa pengabdian sejati dari seseorang dosen yang mendorong
munculnya tradisi intelektual.
Cara yang dilakukan Fulan patut di contoh. Karena
tidak setiap orang sempurna, pasti ada sisi buruk yang membuat orang tidak
menyukai kita. Seperti kisah tadi misalnya, dia tidak disukai oleh mahasiswanya
karena bersikap tidak ramah, tidak bersosialisasi dengan mahasiswanya. Sehingga
dengan begitu kita perlu mengintrospeksi diri, apa yang menyebabkan orang lain
tidak menyukai kita. Dengan shalat Tahajud, pikiran kita akan mulai terbuka,
dan berani mengubah cara pandang dan perilaku yang salah menjadi lebih baik.
Inilah yang akhirnya didapatkan oleh Fulan, dia yang dulunya tidak disukai oleh
mahasiswanya, sekarang justru menjadi dosen idola.
TENTANG
PENULIS
Penulis
bernama Jamaludin Rifai lahir di Gorontalo 27 Juni 1986. Penulis berasal dari Provinsi Gorontalo. Penulis
adalah anak ke 7 dari 7 orang bersaudara. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar penulis
mempunyai bakat yaitu menulis dan mengarang. Penulis pernah kuliah di salah
satu kampus yang berada di Gorontalo yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo pada
tahun 2011, penulis berhasil menjadi alumni Fakultas Tarbiyah, Program Studi
Pendidikan Bahasa Inggris. Pada tahun 2015, penulis berhasil menamatkan
pendidikanya S1.
Meski
masih tergolong pada tahap awal belajar, penulis hobi membaca buku-buku novel
horor, dan suka membaca buku-buku Bahasa Inggris, buku-buku motivasi, Penulis
bercita-cita menjadi penulis yang terkenal melalui bukunya: RAHASIA SUKSES PARA
PENGAMAL SHALAWAT, TAHAJUD, DHUHA DAN PUASA.
Penulis dapat di
hubungi melalui emailnya: jamaludinrifai442@gmail.com
atau menghubungi kontak : 0853-4000-8577
Komentar
Posting Komentar