MASIHKAH ADA HARI ESOK UNTUKKU?

JAMALUDIN RIFAI, S.Pd.I

MASIHKAH ADA HARI ESOK UNTUKKU?

Dan Sungguh Akan Kami Berikan Cobaan Kepadamu, Dengan Sedikit Ketakutan, Kelaparan, Kekurangan Harta, Jiwa Dan Buah-Buahan. Dan Berikanlah Berita Gembira Kepada Orang-Orang Yang Sehat, (Yaitu) Orang-Orang Yang Apabila Ditimpa Musibah, Mereka Mengucapkan, ‘Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raj’un.” (Al-Baqarah : 155-156)

(DIANGKAT DARI SEBUAH BUKU ASLINYA YANG BERJUDUL AZ-ZAMAN AL-QADIM)





BUKU PERSEMBAHAN
                       
Saya Mengucapkan Terima Kasih Yang Sebesar-Besarnya Kepada:
1.      Allah Swt Atas Segala Anugrah Dan Kesempatan Yang Sudah Diberikan
2.      Kedua Orang Tua Atas Cinta Dan Kasih Sayang Yang Tak Pernah Putus Asa Dan Selalu Mendoakan Anak-Anaknya Agar Sukses Dan Selalu Bersabar, Berusaha, Selalu Rendah Hati.
3.      Keluarga Besar Terutama Buat Kedua Kakakku, Mbak Suwarni Rivai, Mbak Masni Rivai Yang Telah Memberiku Motivasi Dan Dukungan Terhadap Saya.
4.      Teman-Teman Sekolahku Dari Sd Sampai Perguruan Tinggi, Khususnya Para Sahabat-Sahabatku Alumni Fakultas Tarbiyah Program Study Pendidikan Bahasa Inggris Yang Tak Bisa Saya Sebut Satu Persatu.
5.      Buat Guru-Guruku Serta Dosen-Dosenku Yang Tak Dapat Saya Sebut Satu Persatu, Yang Selalu Memberikan Ilmu Dan Motivasi Kepada Saya.
6.      Orang-Orang Yang Sudah Meluangkan Waktu Membaca Karya-Karya Saya. Terima Kasih Banyak.





KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon ampunan hanya kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang mampu memberinya petunjuk. Kita bersaksi bahwa tidak ada yang mampu memberinya petunjuk. Kita bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan kita bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Pembaca yang budiman, ada tiga unsur kehidupan, sebagaimana yang banyak tercantum dalam Al-Qur’an yang menjadi basis kepadatan makna dan kandungannya antara lain Akidah, Hukum, dan kisah. Persoalan akidah memadati sepertiga bagian Al-Qur’an. Oleh sebab itu, sebagaimana yang dijelaskan para ulama tafsir, surat Al-Ikhlash merupakan sepertiga Al-Qur’an, karena ia adalah surat tauhid. Dua peritga lainnya adalah pembahasan hukum dan kisah-kisah kehidupan sebagaimana yang banyak tercantum dalam Al-Qur’an. Salah satu tanda kekuasaan Allah. Allah memberi gambaran konkret tentang kehidupan orang-orang yang meniti jalan lurus dengan pemaparan kisah para nabi dan orang-orang shalih.
Demikian juga dalam kehidupan nyata yang kita alami. Di sekitar kita sesungguhnya terdapat banyak kisah yang tersemat dalam bingkai kehidupan pribadi, rumah tangga, atau dalam ruang lingkup yang lebih luas, yang kesemuanya dapat memberi pelajaran tentang arti kehidupan dan kedudukan manusia sebagai seorang hamba. Kisah si Fulan dengan dengan ibadahnya, kisah si Allan dengan kemaksiatannya, kisah si Fulan menyarati hidupnya dengan kesejukan hatinya, dan si Fulan yang memenuhi hidupnya dengan hatinya yang suntuk, dia yang meninggal dengan Husnul Khatimah, dan dia yang mengakhiri kehidupan dengan Su’ul Khatimah. Ribuan bahkan jutaan kisah bisa kita dapatkan dalam perjalanan kehidupan dunia yang fana ini. Tetapi sayang sekali, masih jarang di antara kaum Muslimin yang mengambil faidah secara maksimal dari kisah-kisah kehidupan yang ada untuk dipelajari, disimpulkan dan dijadikan pelajaran yang buruk disingkirkan dan yang baik dijadikan pelajaran serta amal.
Penulis menyajikan buku dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan suguhan cerita yang menarik tentu akan menambah semangat anda. Penulis sadar judul buku ini adalah, MASIHKAH ADA HARI ESOK UNTUKKU? ini masih jauh dari apa yang disebut dengan kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Walau demikian penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan buku ini, MASIHKAH ADA HARI ESOK UNTUKKU?, ini dengan semua kemampuan yang penulis miliki.

Penulis

Jamaludin Rifai, S.Pd.I


DAFTAR ISI

BUKU PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
PERJALANAN..................................................................................... 1
KELALAIAN........................................................................................ 8
HADIAH................................................................................................. 10
WAKTU YANG TERSIA-SIAKAN.................................................. 15
KEBAHAGIAAN.................................................................................. 18
PERINGATAN..................................................................................... 24
KEMBALI............................................................................................. 30
DOA........................................................................................................ 36
UNTUK MEREKA YANG MEMILIKI HATI................................ 39
PINTU SELALU TERBUKA............................................................. 42
AIR MATAMU DI SPANYOL
MENDAHULUI PANDANGANMU.................................................. 45               
PEMBAWA MINYAK WANGI......................................................... 49
MASA MENDATANG......................................................................... 54
PENUTUP.............................................................................................. 57
YANG PENTING MULAI SAJA....................................................... 61
KETERASINGAN DAN SEBUAH SIKAP...................................... 67
AIR MATA KEGEMBIRAAN........................................................... 72
MEMBANGUNKAN HATI YANG TERTIDUR............................ 77
KETEGUHAN...................................................................................... 80
PERTANYAAN ORANG YANG KEBINGUNGAN...................... 84
KAMI DAN KAMU.............................................................................. 88
BAHASA ANGKA................................................................................ 92
PELARIAN............................................................................................ 97
SEMOGA ALLAH MERAHMATINYA........................................... 101
IBU DARI ANAK-ANAK KITA........................................................ 103
ANGIN PRAHARA.............................................................................. 108
HARI-HARI YANG TAK AKAN KEMBALI.................................. 113
KERETA KAMI ADALAH KAUM MUSAFIR.............................. 117
PERPISAHAN....................................................................................... 122
JANGAN BERKELUH KESAH........................................................ 129
PEDANG................................................................................................ 136
AIR MATA PERPISAHAN................................................................. 148
NERAKA HAWIYAH.......................................................................... 151
BUDUR.................................................................................................. 156
HARI ID................................................................................................. 164
KECUALI PINTU LANGIT SAJA.................................................... 169
CARA BERDAKWAH........................................................................ 180

TENTANG PENULIS.......................................................................... 183


PERJALANAN
Aku bertanya kepada negeriku apa yang dapat ia kabarkan, tentang hal para kekasih akan apa yang mereka kerjakan. Negeriku berkata, “Mereka telah menyingkir sejak lama, pergi berlalu.”
Aku bertanya, “Ke mana aku akan mencari mereka pergi? Tempat singgah mana yang mereka singgahi.” Sang negeri menjawab, “Carilah dalam kubur mereka; mereka telah mendapatkan balasan dari apa yang telah mereka lakukan.
Saudariku tampak pucat dan kurus, namun sebagaimana kebiasaannya, ia tetap membaca Al-Qur’an. Jika engkau mencarinya, pasti akan mendapatinya di tempat shalatnya, sedang rukuk, sujud, dan menengadahkan kedua tangannya ke atas langit. Demikian setiap pagi dan petang, juga di tengah malam buta, tak pernah merasa malas dan tak pernah merasa bosan.
Sementara aku amat gemar membaca majalah-majalah seni dan buku-buku yang berisi cerita-cerita. Aku juga biasa menonton video, sampai aku dikenal sebagai orang yang keranjingan nonton. Orang yang banyak melakukan suatu hal, pasti akan ditandai dengan perbuatan itu. Aku tidak menjalankan kewajibanku dengan sempurna. Aku juga bukan orang yang selalu melaksanakan shalat dengan rutin.
Setelah aku mematikan video player, setelah selama tiga jam aku menonton berbagai macam film tanpa henti, terdengarlah adzan dari masjid sebelah. Aku pun kembali ke tempat tidurku. Wanita itu memanggilku dari arah mushalahnya. “Apa yang engkau inginkan wahai  Marwah?” Tanyaku. Dengan suara tajam, saudariku itu berkata kepadaku, “Janganlah engkau tidur sebelum engkau menunaikan Shalat Shubuh!”  Ah. Masih tersisa satu jam lagi, yang engkau dengar tadi itu baru adzan pertama.
Dengan suaranya yang penuh kasih dan seperti itulah sikapnya sebelum terserang penyakit parah dan jatuh terbaring di atas kasurnya. Saudariku itu kembali memanggil. “Mari sini Rahmansyah, duduklah di sisiku,”Sungguh aku sama sekali tidak dapat menolak permintaannya, yang menunjukkan karakter asli dari kejujurannya.
Tidak diragukan lagi, dengan pasrah, kupenuhi panggilannya.
“Apa yang engkau inginkan?” Tanyaku. “Duduklah” Ujarnya. Aku pun duduk. “Ada gerangan yang akan engkau utarakan?” dengan suara renyah dan merdu, ia berkata. “Allah berfirman,
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada Hari Kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian.” (QS. Ali Imran :185)
Dia diam sesaat. Kemudian ia bertanya kepadaku. “Apakah engkau percaya pada kematian?” “Tentu saja aku percaya.” Jawabku. “Apakah engkau percaya bahwa engkau akan dihisab atas perbuatan dosa besar maupun kecil?” “Benar. Tetapi Allah itu  Maha Pengampun dan umur itu juga panjang.” Jawabku.
“Wahai saudaraku! Tidaklah engkau takut mati mendadak? Lihatlah si Hidun yang lebih muda darimu, ia tewas dalam kecelakaan mobil. Juga si Fulan dan si Faulanah.” Ujarnya. “Kematian tidak mengenal umur, dan tidak dapat diukur dengan umur.” Ujarnya lagi.
Dengan suara orang yang ketakutan aku menjawab ucapannya di tengah ruang mushallahnya yang gelap, “Sesungguhnya aku takut dengan kegelapan, sekarang engkau malah menakut-nakutiku dengan kematian, bagaimana sekarang aku bisa tidur. Aku kira sebelumnya, engkau bersedia untuk bepergian bersamaku dalam liburan ini.”
Tiba-tiba suaranya terisak dan hatiku pun terenyuh, “Kemungkinan, pada tahun ini aku akan berpergian jauh, ke negeri lain. Kemungkinan wahai  Rahmansyah. Umur itu di Tangan Allah.” Lalu meledaklah tangisannya.
Aku merenung ketika ia terserang penyakit ganas. Para dokter secara berbisik memberitahukan kepada ayahku bahwa penyakitnya itu tidak akan membuatnya bertahan hidup lama. Tetapi siapa gerangan yang memberitahukan hal itu kepadanya? Atau ia memang sudah menanti-nantikan kejadian ini?
“Apa yang sedang engkau pikirkan?” terdengar suaranya, kali ini begitu keras. “Apakah engkau meyakini bahwa aku menyatakan hal itu karena aku sedang sakit? Tidak sama sekali. Bahkan mungkin umurku bisa lebih panjang dari orang-orang yang sehat. Dan engkau, sampai kapan masih bisa hidup? Mungkin dua puluh tahun lagi. Mungkin juga empat puluh tahun lagi. Kemudian apa yang terjadi?” Tangannya tampak bersinar di tengah kegelapan dan dihentakkan dengan keras.
“Tak ada perbedaan antara kita semua. Masing-masing kita pasti akan pergi meninggalkan dunia ini; menuju Surga atau Neraka. Tidaklah engkau menyimak Firman Allah,
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali Imran : 185)
Semoga pagi ini engkau baik-baik saja.
Dengan bergegas aku berjalan meninggalkannya, sementara suaranya mengetuk telingaku, “Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu. Jangan lupa shalat.”
Jam delapan pagi, aku mendengar ketukan pintu. Ini bukan waktu kebiasaanku untuk bangun. Terdengar suara tangis dan hirup-pikuk. Apa yang terjadi?
Kondisi Marwah semakin parah. Ayahku segera membawanya ke rumah sakit. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.
Tak ada tamasya pada tahun ini. Sudah ditakdirkan aku untuk tinggal di rumah saja tahun ini. Pada jam satu waktu Zhuhur, ayahku menelpon dari rumah sakit.”Kalian bisa menjenguknya sekarang, ayo lekas!”
Ibuku memberitahukan, bahwa ucapan ayahku terdengar gelisah dan suaranya juga terdengar berubah. Jubah panjangku kini sudah berada di tanganku.
Mana sopirnya? Kami pun naik mobil dengan tergesa-gesa. Mana jalan yang biasa kulalui bersama sopirku untuk bertamasya yang biasanya terasa pendek? Kenapa sekarang terasa jauh sekali. Jauh sekali? Mana keramian yang menyenangkan diriku agar aku bisa menengok ke kiri dan ke kanan? Kenapa sekarang terasa menyebalkan dan menyusahkan?
Ibu berada di sampingku sedang mendoakan saudariku tersebut. Ia adalah wanita yang shalihah dan taat. Aku tidak pernah melihatnya menyia-nyiakan waktu sedikit pun.
Kami masuk melewati pintu luar rumah sakit. Terdengar suara orang sakit mengaduh. Ada lagi orang yang tertimpal musibah kecelakaan mobil. Ada pula orang yang kedua matanya bolong. Tak diketahui lagi, apakah ia masih penduduk dunia, atau penduduk akhirat? Sungguh pemandangan yang mengherankan yang belum pernah kusaksikan sebelumnya.
Kami menaiki tangga dengan cepat, ternyata dia berada di dalam kamar gawat darurat. “Saya akan mengantar kalian kepadanya.” Perawat meneruskan perkataannya bahwa ia seorang putri yang baik sekali, dan dia menenangkan ibuku. “Sesungguhnya dia dalam keadaan baik setelah tadi mengalami pingsan.
“Dilarang masuk lebih dari satu orang.” Demikian tertulis. “Ini kamar gawat darurat.
Melalui sela-sela beberapa orang dokter dan melaui celah-celah jendela kecil yang terdapat di kamar tersebut, aku melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri saudariku  Marwah sedang memandang ke arahku, sementara ibu berdiri di sampingnya. Setelah dua menit kemudian, ibuku keluar tanpa bisa menahan air matanya.
Mereka mengizinkanku masuk dan memberi salam kepadanya, dengan syarat, tidak boleh berbicara kepadanya. “Dua menit, sudah cukup untuk saudari.”
“Bagaimana kabarmu wahai Marwah?” Tanyaku. “Kemarin sore mengaku baik-baik saja, apa yang terjadi pada dirimu?” Dia menjawabku setelah terlebih dahulu menekan tanganku, “Alhamdulillah, aku sekarang baik-baik saja. “Alhamdulillah , tetapi tanganmu dingin?” Tanyaku.
Aku duduk di sisi pembaringannya sambil mengelus-ngelus betisnya. Namun ia menyingkirkan betisnya dariku. “Maaf, kalau aku mengganggumu. “Kataku. Dia menjawab, “Oh tidak, aku hanya sedang memikirkan Firman Allah,
Dan bertaut betis kiri dengan betis kanan, kepada Rabbmu-lah pada hari itu kamu dihalau.” (QS. Al-Qiyamah 29-30).
Hendaknya engaku mendoakanku wahai saudaraku Rahmansyah. Bisa jadi sebentar lagi aku akan menghadapi permulaan alam Akhirat. Perjalananku akan panjang, sementara bekalku amat sedikit.”
Air mataku kontan berderai dari kedua belah mataku begitu aku mendengar ucapannya. Aku menangis, tidak lagi sadar di mana aku berada. Kedua mataku terus mengalirkan air mata karena tangisan, sehingga ayahku justru mengkhawatirkan kondisiku daripada Marwah sendiri. Mereka sama sekali tidak terbiasa mendengar tangisan seperti ini dariku dan aku mengurung diri di kamarku.
Seiring tenggelamnya matahari, di hari yang penuh kedukaan, muncullah saudari sepupu dari pihak ibuku dan saudari sepupu dari pihak ayahku. Kejadian-kejadian yang sangat cepat, orang-orang banyak berdatangan. Suara-suara ribut pun terdengar bersahutan. Hanya satu yang aku ketahui: Marwah telah meninggal dunia.
Aku tidak dapat lagi membedakan siapa yang datang. Aku juga tidak mengetahui lagi apa yang mereka ucapkan. Ya Allah, di mana aku, dan apa yang sedang terjadi? Menangis pun aku sudah tak sanggup lagi.
Setelah itu mereka memberitahukan bahwa ayaku menarik tanganku untuk mengucapkan selamat tinggal kepada saudariku, untuk terakhir kalinya. Aku juga sempat menciumnya. Aku hanya ingat satu hal, ketika aku melihat wajahnya ditutup, di atas pembaringan maut. Aku ingat kata-katanya, “Ketika betis-betis bertautan,” Aku pun mengerti, bahwa, “Semuanya tergiring menuju Rabbmu.”
Aku tidak ingat lagi bahwa aku pernah mengunjungi mushallahnya, kecuali pada malam itu saja. Yakni ketika aku teringat, siapa yang menjadi pasanganku di rahim ibuku. Karena kami adalah dua anak kembar. Aku ingat, siapa yang selalu menemaniku dalam keduakaan. Aku ingat, siapa yang selalu menghilangkan kegundahanku. Siapa pula yang berlinang air matanya sepanjang malam, ketika ia mengajakku berbicara tentang kematian dan tentang Hari Hisab. Hanya Allah-lah tempat memohon pertolongan.
Inilah hari pertamanya di alam kubur. Ya Allah, berikanlah rahmat kepadanya di dalam kuburnya. Ya Allah, berilah dia cahaya di dalam kuburnya.
Ini dia mushaf Al-Qur’annya, dan ini sajadahnya. Ini, ini dan ini lagi. Bahkan ini, ini adalah rok merahnya yang pernah dia nyatakan, “Akan kusimpan, untuk hari pernikahanku nanti”
Aku juga ingat, dan aku pun menangisi hari-hari yang telah berlalu itu. Aku terus saja menangis dan menangis berkepanjangan. Aku berdoa kepada Allah, agar memberi, agar memberi rahmat-Nya kepadaku, memberi taubat dan mengampuni diriku. Aku juga berdoa semoga saudariku itu mendapatkan keteguhan dalam kuburnya, sebagaimana jug ayang sering menjadi doanya.
Secara tiba-tiba, aku bertanya kepada diriku sendiri. “Bagaimana bila yang memanggil dunia adalah diriku? Ke mana kira-kira tempat kembaliku?” Aku tidak mampu mencari jawabannya karena besarnya rasa takut yang mencekam diriku. Meledaklah tangisanku dengan keras.
Allahu Akbar,  Allahu Akbar.  Adzan Shubuh  pun berkumandang, namun betapa merdunya ia terdengar kali ini. Aku merasakan ketenangan dan kententraman, aku pun mengulangi apa yang diucapkan oleh sang muadzin. Aku melipat selimutku dan berdiri tegak untuk melaksanakan shalat Shubuh. Aku shalat, bagaikan orang yang melakukannya untuk terkahir kali, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh saudariku dahulu. Dan ternyata, itu memang shalatnya yang terakhir.
Bila datang waktu sore, aku tidak lagi menunggu waktu pagi. Dan bila datang waktu pagi, aku tidak lagi menunggu waktu sore......




















KELALAIAN
Ya Allah, berilah rahmat kepada kami, ketika kuburan kami telah lenyap dan nama kami tidak pernah disebut lagi. Tak ada lagi yang mengenal kami dan tak seorang pun yang menyebut-nyebut kami. Bahkan, tak seorang pun yang menziarahi kami lagi.
Ya Allah, berikanlah rahmat kepada kami, kala keluarga kami memandikan tubuh kami. Ya Allah, berikanlah rahmat kepada kami, kala mereka mengkafani tubuh kami. Ya Allah, berikanlah rahmat kepada kami, kala mereka menggotong kami di atas pundak mereka.
Kaset itu berputar cepat. Aku mengikuti doa imam dengan penuh perhatian dan kecermatan. Aku mengulangi doa itu untuk kesekian kalinya. Sekali lagi. Setiap doa yang diucapkannya. Segala yang diucapkan dan menjadi doanya adalah benar adanya. Hidup kita memang akan berakhir.
Kita akan dimandikan, dikafani, kemudian diletakkan di liang lahat, di dalam tanah. Nama kita akan segera terlupakan.
Namun suara yang diiringi dengan kekhusyu’an itu membuatku terdiam sesaat. Aku memutar kembali kaset itu untuk ketiga kalinya.
Saudariku adalah profil da’i wanita yang bersungguh-sungguh. Ia telah berusaha mengubah diriku menjadi orang yang selalu memelihara shalat, untuk selalu berbuat taat. Ia berusaha semaksimal mungkin, melalui kata-kata, melalui kaset, dan melalui buku-buku.
Keesokan harinya, aku keluar rumah dengan santai, tanpa perasaan apa-apa. Dengan asal-asalan aku menekan tombol tape recorder, tanpa ingat kaset apa yang terdapat di dalamnya. Seperti biasanya, aku membayangkan suara lagu yang aku sukai. Akan tetapi sudah menjadi takdir Allah, ternyata yang terdapat dalam tape itu adalah kaset yang kusebutkan di atas. Aku mendengarkannya pada pagi hari, lalu kuulangi lagi pada sore harinya, dan jufa sesudah Isya.
Aku bertanya, “Kaset apa yang engkau letakkan di sini?” saudariku balik bertanya, “Apakah engkau tertarik?” “Tentu saja” Jawabku. Tak seperti biasanya, ia menyambut ucapanku dengan suka cita. Ia tampak begitu gembira. Di tangannya terdapat buku, lalu diletakkan di sampingnya. Ia kembali mengulangi pertanyaannya, “Apakah engkau betul-betul tertarik dengan suara dan bacaan imam itu?” “Sungguh, aku tertarik.” Jawabku lagi.
Jawabanku itu menjadi pembuka percakapan kami yang panjng. Perbincangan semacam itu berulang beberapa kali.
Namun kali ini, sungguh jauh berbeda. Di akhir perbincangan, saudariku berkata,
“Saya akan bacakan kepadamu yang baru saja kubaca. Suatu hari, Al-Hasan AlBasri lewat di hadapan seorang pemuda yang tenggelam dalam tawanya, ketika ia duduk bersama teman-temannya. Al-Hasan berkata kepadanya, “Wahai pemuda! Pernahkah engkau melewati Ash-Shirath?” Sang pemuda menjawab, “Belum.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau tahu, sedang berjalan menuju surga atau neraka?” “Tidak.” Jawab pemuda itu lagi. “Lalu apa arti tawamu itu?” Tanya beliau lagi.”
Sejenak kami terdiam. Kemudian saudariku itu menengok ke arahku, seraya berkata. “Sampai kapankah kelalaian ini akan terus berlangsung?”















HADIAH
Aku telah menyelesaikan studiku di sebuah sekolah kesehatan dengan susah payah. Aku sama sekali tidak fokus pada pelajaran. Namun Allah memudahkan juga jalanku untuk menyelesaikan kuliahku.
Lalu aku ditempatkan di sebuah rumah sakit yang dekat dengan kotaku. Alhamdulilah segala urusanku berjalan lancar, dan aku pun masih tetap bisa tinggal bersama kedua orangtuaku.
Aku berniat mengumpulkan harta mahar untuk calon istriku kelak. Dan itulah yang selalu ditekankan oleh ibuku setiap hari. Pekerjaanku berjalan mudah, karena kulakukan dengan sungguh-sungguh dan telaten, terutama karena pekerjaanku itu adalah di rumah sakit tentara.
Aku senang berkativitas, itu sebabnya secara medis, aku mendapatkan sukses besar dalam pekerjaanku tersebut. Bila dibandingkan dengan pelajaran teori yang membosankan yang pernah kupelajari.
Rumah sakit tersebut mengumpulkan berbagai tenaga medis dari berbagai bangsa. Demikian kira-kira. Hubunganku dengan mereka, sebatas hubungan kerja saja. Sebagaimana mereka juga mengambil manfaat dari kehadiranku, sebagaimana mereka juga mengambil manfaat dari kehadiranku, sebagai penduduk asli negeri ini. Saya sering menjadi guide mereka mengunjungi berbagai tempat bersejarah dan pasar-pasar. Sebagaimana aku juga sering mengantarkan mereka ke kebun-kebun kami. Hubunganku dengan mereka amat erat. Dan seperti biasa, di akhir hubungan kerja, kami mengadakan pesta perpisahan.
Pada suatu hari, salah seorang dokter dari Inggris berniat melakukan perjalanan pulang ke negerinya, karena masa kerjanya sudah habis. Kami bermusyawarah untuk mengadakan pesta perpisahan baginya. Tempat yang kami tentukan adalah kebun kami, kemudian didekorasi seperti biasanya. Namun yang menguras pikiranku adalah, hadiah apa yang akan kuberikan kepadanya? Terutama karena aku sudah bekerja bersamanya dalam waktu yang lama.
Akhirnya aku temukan sebuah hadiah berharga dan sesuatu saat itu. Dokter yang satu ini dikenal suka mengumpulkan barang-barang tradisional. Tanpa perlu bersusah payah. Kebetulan ayahku menyimpan banyak barang-barang semacam itu, maka kau pun memintanya kepada beliau. Aku memilih sebuah benda tradisioanal hasil karya daerahku di masa lampau. Seorang di antara saudar sepupuku turut hadir untuk kuajak berdiskusi tentang hal itu.
Saudaraku itu menyela, “Kenapa tidak engkau beri hadiah buku tentang Islam?” aku lebih memilih barang tradisional itu. Tak kuindahkan pendapat saudaraku tersebut dengan anggapan bahwa sulit itu mendapatkan buku yang cocok untuknya. Namun Allah memudahkan diriku untuk mendapatkan barang tersebut tanpa bersusah payah. Esok harinya, aku pergi ke toko buku. Ternyata aku dapatkan sebuah buku tentang Islam berbahasa Inggris.
Kembali kata-kata sepupuku itu terniang di telingaku. Pikiran untuk membeli buku itu menjadi pertimbangan khusus bagiku saat itu, karena kebetulan harganya murah sekali. Aku pun membeli buku tersebut.
Datanglah saat pesta perpisahan dengan sahabatku itu. Aku meletakkan buku tersebut di tengah tradisional tersebut. Seolah aku menyembunyikannya. Aku pun menyerahkan hadiahku tersebut. Sungguh itu merupakan perpisahan yang amat berkesan. Dokter itu memang amat disukai oleh rekan-rekan kerjanya.
Sahabat kami pun pergi meninggalkan kami. Hari demi hari pun berlalu. Bulan demi bulan juga berlalu demikian cepat. Aku pun menikah dan dianugerahi seorang putra.
Suatu hari, datanglah surat dari Inggris. Aku segera membacanya dengan perlahan. Surat itu ditulis dalam bahasa Inggris. Pada mulanya, aku memahami sebagian isinya. Namun aku tidak bisa memahami sebagian kata-katanya. Aku tahu bahwa surat itu berasal dari teman lama yang beberapa saat bekerja bersama kami. Namun kuingat-ingat, baru kali ini kudengar namanya. Bahkan nama itu terdengar aneh ditelingaku. Dhaifullah, demikian namanya.
Kututup surat tersebut. Aku berusaha mengingat-ngingat sahabat bernama Dhaifullah. Namun aku tidak berhasil mengingat seorang pun dengan nama itu. Kubuka lagi surat itu, dan kembali kubaca isinya dengan tenang. Huruf demi huruf mengalir dengan mudah dan lancar. Berikut sebagian isi surat tersebut.
Saudara yang mulia. Daifullah
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Allah telah memudahkan diriku memahami Islam dan memberiku petunjuk melalui kedua belah tanganmu. Tak pernah kulupakan persahabatanku denganmu. Aku selalu mendoakanmu. Aku teringat dengan buku yang pernah engkau hadiahkan kepadaku di hari kepergianku. Suatu hari kubaca buku itu, sehingga bertambahlah kesungguhanku untuk lebih banyak mengenal Islam. Termasuk di antara taufik Allah kepadaku. Di sampul buku tersebut aku mendapatkan nama penerbit buku itu. Aku pun mengirim surat kepada mereka untuk meminta tambahan buku. Mereka segera mengirimkan buku yang kuminta. Segala puji bagi Allah yang telah menyalakan cahaya Islam dalam dadaku. Aku pun pergi menuju Islamic Center dan mengumumkan keIslamanku. Aku ubah namaku dari Jhon menjadi Daifullah. Yakni seperti namamu, karena engkau adalah orang yang memiliki keutamaan Allah. Aku juga melampirkan surat resmi ketika aku mengumumkan syahadatku. Aku akan mengusahakan pergi ke Mekkah Al-Mukarramah untuk menunaikan haji.
Dari saudaramu seiman, Dhaifullah.
Wasalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Aku pun menutup surat tersebut. Namun dengan cepat kubuka kembali. Aku membacanya untuk kesekian kali.
Surat itu demikian menggetarkan diriku. Karena aku merasakan ikatan persahabatan pada setiap huruf-hurufnya. Aku pun menangis terus. Bagaimana tidak? Allah telah memberi hidayah kepada seseorang menuju Islam melalui kedua belah tanganku. Padahal selama ini aku lalai dalam memenuhi hak-Nya. Hanya dengan sebuah buku yang tidak sampai lima Riyal harganya, Allah memberi hidayah kepada seseorang. Aku sedih sekaligus bahagia.
Bahagia, karena tanpa usaha yang keras dariku, Allah menunjukkannya kepada Islam. Namun aku juga merasa sedih, karena penasaran terhadap diriku sendiri, kemana saja aku selama ini ketika masih bersama para kerja tersebut? Aku belum pernah mengajaknya kepada Islam? Bahkan belum pernah mengenalkannya dengan Islam? Tak ada satu kata pun tentang Islam yang akan menjadi saksi buat diriku pada Hari Kiamat nanti.
Aku banyak mengobrol bersama mereka dan sering bercanda dengan mereka, namun aku tidak pernah membicarakan Islam, banyak ataupun sedikit.
Allah telah memberi hidayah kepada Dhaifullah untuk masuk Islam, dan juga memberiku petunjuk untuk berintrospeksi diri akan keteledoranku dalam menaati Allah. Aku tidak akan meremehkan kebajikan sedikit pun, meski hanya dengan sebuah buku berharga satu Riyal saja.
Namun aku tertegun karena hal yang aku takuti dari berita yang kubaca, dari benua Afrika.
Beberapa kenyataan itu menyebutkan,
1.      Telah berhasil dikumpulkan dana sebesar satu dollar Amerika untuk diberikan kepada gereja.
2.      Berhasil dikaderisasi 3. 968. 100 penginjil dalam kurun satu tahun.
3.      Telah berhasil dibagi-bagikan Injil secara gratis sebanyak 112. 564. 400 eksemplar.
4.      Jumlah stasiun radio dan televisi Nasrani telah mencapai 1. 620 buah.

Aku bertanya-tanya, “Dimanakah kita berada, dalam kondisi seperti ini? Berapa banyak supir di negeri kita ini (Arab Saudi), yang bukan Muslim? Dan beberapa dan berapa?” sungguh rasa sakit yang didahului linangan air mata. Namun tetap bergelayut satu pertanyaan, “Mana usaha kita? Mana usaha kita?”


TENTANG PENULIS
            Penulis bernama Jamaludin Rifai lahir di Gorontalo 27 Juni 1986. Penulis  berasal dari Provinsi Gorontalo. Penulis adalah anak ke 7 dari 7 orang bersaudara. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar penulis mempunyai bakat yaitu menulis dan mengarang. Penulis pernah kuliah di salah satu kampus yang berada di Gorontalo yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tahun 2011, penulis berhasil menjadi alumni Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Pada tahun 2015, penulis berhasil menamatkan pendidikannya S1.
Meski masih tergolong pada tahap awal belajar, penulis hobi membaca buku-buku dunia novel Horor, dan suka membaca buku-buku Bahasa Inggris, buku-buku motivasi, Penulis bercita-cita menjadi penulis yang terkenal melalui bukunya: MASIHKAH ADA HARI ESOK UNTUKKU?
Penulis dapat di hubungi melalui  email : jamaludinrifai442@gmail.com 
No HP: 085340008577

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEREKA ADA DI SEKITAR KITA

MEREKA ADA DI SEKITAR KITA 2

SETETES HIDAYAH